Muktamar NU Dimulai Hari Ini, Isu Intervensi Istana hingga Bursa Ketum PBNU Memanas

logo muktamar nu ke 35

MAKLUMAT — Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) resmi dimulai hari ini, Kamis (27/8/2026), di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Forum tertinggi NU yang berlangsung hingga 31 Agustus 2026 itu menjadi arena penentuan kepemimpinan dan arah organisasi untuk lima tahun ke depan.

Pembukaan Muktamar dijadwalkan berlangsung pukul 15.00 WIB di Lapangan Untung Suropati, Tambakberas. Presiden Prabowo Subianto direncanakan hadir sekaligus membuka perhelatan tersebut.

Namun, sebelum forum dimulai, dinamika internal NU sudah menghangat. Sejumlah isu mencuat, mulai dari dugaan intervensi Istana, pengondisian Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), hingga persaingan dalam bursa Ketua Umum PBNU.

Gus Yahya Bantah Ada Intervensi Istana

Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menepis isu adanya campur tangan Istana dalam proses suksesi kepemimpinan PBNU. Isu tersebut lebih banyak berupa klaim sepihak yang sengaja dilempar menjelang Muktamar untuk kepentingan politik tertentu.

“Saya sama sekali tidak percaya, enggak mungkin Istana begitu,” kata Gus Yahya, Jumat (21/8/2026).

Gus Yahya menilai klaim mengenai adanya “perintah Istana” bisa digunakan untuk memengaruhi sikap peserta Muktamar.

Sementara itu, Musytasyar PBNU KH Ma’ruf Amin juga menyampaikan keyakinan bahwa pemerintah tidak mendukung kandidat tertentu dalam pemilihan Ketua Umum PBNU.

Baca Juga  War Ticket Haji: Ketika Rukun Islam Diperlakukan seperti Tiket Konser

Ma’ruf meminta Muktamar berjalan mandiri tanpa pengaruh pihak luar, termasuk isu mengenai restu atau dukungan Istana.

Isu Pengondisian Ketua PCNU

Dinamika semakin ramai setelah beredar informasi di media sosial mengenai dugaan pengondisian hingga “penculikan” sejumlah Ketua PCNU.

Para Ketua PCNU disebut dikumpulkan dan mendapatkan pengarahan khusus. Bahkan, beberapa di antaranya dikabarkan sulit dihubungi.

Ketua Panitia Pusat Muktamar ke-35 NU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul membantah anggapan bahwa situasi tersebut merupakan sesuatu yang luar biasa.

“Biasa-biasa saja, enggak ada yang istimewa. Setiap Muktamar juga ada isu-isu seperti itu,” ujar Gus Ipul, Selasa (25/8/2026).

Ia menilai dinamika dan rumor menjelang Muktamar merupakan bagian dari proses politik internal organisasi yang selalu muncul dalam setiap perhelatan lima tahunan NU.

Bursa Ketum Jadi Pertarungan Utama

Selain isu intervensi, perhatian publik juga tertuju pada bursa Ketua Umum PBNU. Pemilihan ini menjadi salah satu agenda paling menentukan karena akan menetapkan arah organisasi selama lima tahun mendatang.

Persaingan antarkandidat berlangsung di tengah seruan agar Muktamar tetap menjaga independensi, menghindari politik uang, serta menjauhkan organisasi dari kepentingan kekuasaan.

Forum Muktamar tidak hanya menentukan siapa yang memimpin PBNU. Lebih dari itu, forum ini akan menjadi ujian bagi NU dalam menjaga marwah organisasi, mekanisme demokrasi internal, dan kemandiriannya dari kepentingan politik eksternal.

Baca Juga  Gus Yahya Tolak Mundur dari Ketum PBNU, Sebut Desakan Sebagai Keputusan Sepihak Tanpa Klarifikasi

Ujian Kemandirian NU

Muktamar ke-35 NU kali ini memiliki tantangan lebih besar daripada sekadar memilih Rais Aam dan Ketua Umum PBNU. Isu intervensi Istana, dugaan pengondisian peserta, dan politik transaksional menunjukkan tingginya kepentingan yang mengitari forum tersebut.

Karena itu, pembuktian utama Muktamar bukan terletak pada siapa yang menang dalam bursa kepemimpinan, melainkan seberapa kuat NU memastikan proses pemilihan berlangsung jujur, terbuka, dan bebas dari tekanan pihak mana pun.

Jika proses berjalan fair, hasil Muktamar akan memiliki legitimasi moral yang kuat. Sebaliknya, jika muncul kesan adanya intervensi atau transaksi politik, persoalan kepemimpinan berpotensi menjadi beban baru bagi NU setelah Muktamar berakhir.