MAKLUMAT — Pendaftaran calon Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM) telah dilaksanakan. Ketua DPD IMM Jatim, Devi Kurniawan, menjadi salah satu dari lima nama yang terdaftar untuk menjadi nahkoda baru IMM.
Devi Kurniawan merupakan dokter hewan kelahiran Lamongan, 15 Desember 1996. Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Kedokteran Hewan di Universitas Airlangga pada 2019 dan pendidikan profesi dokter hewan pada 2021. Ia juga telah menyelesaikan pendidikan Strata 2 Manajemen di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.
Di luar pendidikan formal, Devi Kurniawan memiliki pengalaman di bidang organisasi dan kewirausahaan. Ia pernah menjadi Ketua BEM Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga pada 2018, Ketua Majelis Permusyawaratan Mahasiswa Universitas Airlangga pada tahun yang sama, serta Ketua PC IMM Kota Surabaya pada 2020. Saat ini, ia menjabat sebagai Ketua Umum DPD IMM Jatim.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu bekal Devi Kurniawan untuk maju dalam kontestasi calon Ketua Umum DPP IMM. Ia juga tercatat sebagai owner Angkringan Pak Dok dan manajer Mini CattleFarm. Devi Kurniawan pernah meraih penghargaan lulusan berprestasi profesi dokter hewan Universitas Airlangga 2021 dan Awardee 25 Entrepreneur Muda Terbaik Lamongan 2021.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi bekal bagi Devi Kurniawan untuk melangkah dalam kontestasi calon Ketua Umum DPP IMM. Devi Kurniawan turut membawa gagasannya sendiri melalui narasi “Cahaya Baru IMM” di tengah banyaknya sejumlah gerakan, tagline, dan narasi menuju Muktamar IMM.
“Narasi ini berangkat dari pembacaan terhadap kondisi mahasiswa yang dinilai semakin pragmatis dan cenderung tertidur ketika tidak ada narasi yang menggerakkan,” ujarnya kepada wartawan Maklumat.id pada Jumat (21/8/2026).
Menurut Devi Kurniawan, gerakan mahasiswa saat ini juga menghadapi tantangan dari gerakan-gerakan materialis yang datang dari kalangan elite. Kondisi tersebut membuatnya khawatir terhadap keberlangsungan gerakan kritis dan idealis yang selama ini menjadi bagian penting dari organisasi mahasiswa.
Narasi “Cahaya Baru IMM” yang dibawa Devi Kurniawan tidak semata-mata berbicara tentang pergantian kepemimpinan. Ia memaknainya sebagai sebuah filosofi pergerakan yang berkaitan dengan pembaruan atau tajdid. “Pembaruan tidak selalu berarti menghapus atau meruntuhkan sesuatu yang telah ada, tetapi dapat dilakukan dengan menghidupkan kembali esensi nilai yang mulai memudar,” ujarnya.
Setiap era, menurutnya, memiliki tantangan, kompleksitas, dan “kegelapannya” masing-masing. Karena itu, estafet kepemimpinan dan gagasan tidak seharusnya berhenti pada tataran wacana. Gagasan tersebut perlu diterjemahkan menjadi manifesto aksi yang nyata dan terus menghasilkan karya.
“Akal adalah nyala api pertama yang harus dinyalakan, lalu gagasan adalah prakarsa untuk membawanya menjadi gerakan,” imbuhnya.
Pernyataan tersebut menjadi bagian dari cara Devi Kurniawan menjelaskan gagasannya tentang gerakan. Sebelum bergerak, ia menilai hal pertama yang perlu diatur adalah akal. Setelah itu, akal perlu diimbangi dengan gagasan. Dari gagasan tersebut kemudian lahir gerakan yang diharapkan dapat berkembang lebih jauh.
Devi Kurniawan berharap gerakan yang dibangun melalui proses tersebut tidak berhenti pada aktivitas organisasi semata. Ia ingin gerakan IMM mampu membentuk peradaban melalui gagasan dan karya yang dihasilkan kader-kadernya.
Dalam narasi yang dibawanya, Devi Kurniawan juga mengajak kader IMM di seluruh Indonesia untuk bangun dan saling memberi peringatan. Ia menggunakan istilah qum fa’andzir sebagai ajakan agar kader tidak terlena dengan kemudahan zaman dan tetap memiliki kesadaran kritis.
Menurutnya, kemudahan yang hadir dalam kehidupan saat ini tidak berarti seluruh persoalan dapat diselesaikan secara instan. Kader tetap perlu membangun gerakan yang kritis dan reflektif. Dari sana, ia mengajak kader untuk terus berlomba dalam kebaikan atau fastabiqulkhairat.
“Qum fa’andzir. Bangun dan bersama-sama saling memberi peringatan bahwa di zaman yang serba mudah ini tidak semuanya selalu instan. Kita perlu gerakan kritis dan selalu reflektif, lalu kemudian saling berlomba-lomba dalam kebaikan, fastabiqulkhairat,” pungkasnya.
*) Penulis: Humanika Dian Nusantara












