MAKLUMAT– Anggota DPD/MPR RI asal Jawa Timur, Dr Lia Istifhama atau yang akrab disapa Ning Lia, mengapresiasi tinggi capaian progresif duet kepemimpinan Gubernur Khofifah Indar Parawansa dan Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak. Penilaian tersebut disampaikan Ning Lia saat momentum peringatan Hari Jadi Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) di Surabaya.
Ning Lia menilai pola kepemimpinan kolaboratif dan inklusif Khofifah-Emil sukses menggerakkan roda pembangunan daerah hingga menjangkau seluruh lapisan masyarakat tanpa diskriminasi. Pemprov Jatim dinilai konsisten menyelesaikan beragam tantangan daerah melalui pendekatan pemerataan dan keadilan sosial, baik pada sektor keagamaan maupun sektor umum-sosial.
“Pasangan ini benar-benar kerja kolaboratif dan inklusif. Mereka menyelesaikan permasalahan apa pun secara merata dan adil, sehingga semua elemen masyarakat tersentuh,” ujar Ning Lia dikutip, Senin (12/10/2026).
Bukti Konkret Capaian: Kemiskinan Terjun Bebas, Desa Mandiri Melonjak
Keberhasilan kolaborasi Khofifah-Emil tidak sekadar wacana, melainkan terkonfirmasi oleh deretan data statistik resmi Pemprov Jatim dan Badan Pusat Statistik (BPS):
1.Penurunan Kemiskinan Ekstrem: Angka kemiskinan ekstrem di Jawa Timur mengalami penurunan drastis hingga menyisa 0,29 persen, berada jauh di bawah rata-rata nasional yang mencatatkan angka 0,85 persen. Capaian ini menunjukkan penurunan sebesar 4,26 persen sejak tahun 2020 lalu.
2.Lonjakan Desa Mandiri: Provinsi Jawa Timur sukses menduduki peringkat pertama nasional dalam pembentukan Desa Mandiri. Jumlah Desa Mandiri melonjak tajam dari 2.800 desa pada 2023 menjadi 4.716 desa mandiri, menjadikannya yang tertinggi di Indonesia.
3.Penguatan Sektor Pertanian: Pemprov Jatim secara rutin mendistribusikan Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) kepada para petani guna menjaga produktivitas kawasan pedesaan.
Langkah penguatan sektor pertanian tersebut sejalan dengan arahan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang menempatkan kedaulatan pangan sebagai agenda prioritas nasional. Jawa Timur mengambil peran sentral sebagai pemasok utama kebutuhan pangan nasional.
Ning Lia pun optimistis bahwa integrasi kebijakan yang tepat sasaran serta dukungan publik yang kuat (high trust) akan makin mengukuhkan posisi strategis Jawa Timur.
“Kita tentunya berharap Jawa Timur semakin maju dan semakin hebat. Mimpi besar beliau bahwa Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara itu benar-benar menjadi kenyataan,” katanya.
Fondasi Inklusif dan Keberlanjutan Pembangunan Jatim
Capaian impresif Jawa Timur dalam menekan kemiskinan ekstrem dan memperbanyak Desa Mandiri menunjukkan bahwa intervensi kebijakan Pemprov Jatim bekerja secara efektif di tingkat tapak.
Keberhasilan ini didorong oleh dua faktor kunci:
1.Integrasi Program Sektor Hulu dan Hilir: Penyaluran bantuan Alsintan tidak hanya mendorong efisiensi produksi pangan, tetapi juga memperkuat kemandirian ekonomi desa secara langsung. Akibatnya, status desa meningkat pesat menjadi Desa Mandiri.
2.Pendekatan Inklusif (No One Left Behind): Pemprov Jatim menggabungkan program jaring pengaman sosial dengan pemberdayaan berbasis komunitas. Pola ini terbukti ampuh memperkecil ketimpangan antara wilayah perkotaan dan perdesaan secara signifikan.
Tantangan utama ke depan adalah menjaga konsistensi (sustainability) agar desa-desa yang telah berstatus mandiri mampu bertransformasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan berdaya saing tinggi.












