MAKLUMAT — Paus Leo XIV menegaskan bahwa doa pelaku perang tak akan didengar, sekaligus mengingatkan bahwa ajaran Yesus Kristus tidak dapat digunakan untuk membenarkan konflik bersenjata.
Pernyataan itu disampaikan dalam Misa Minggu Palma 2026 di Lapangan Santo Petrus, seperti dilaporkan Vatican News dikutip pada Senin (30/3/2026) WIB.
“Yesus tidak mendengarkan doa pelaku perang, melainkan menolaknya,” ujar Paus.
Ia menegaskan, Yesus adalah “Raja Damai” yang menolak perang, sehingga tidak ada pihak yang bisa menggunakan ajaran-Nya sebagai pembenaran kekerasan.
Seruan Vatikan Hentikan Kekerasan
Dalam pernyataannya, Paus Leo XIV kembali menekankan seruan Vatikan untuk menghentikan kekerasan global yang terus meningkat.
“Letakkan senjata kalian! Ingatlah bahwa kalian adalah saudara dan saudari,” tegasnya.
Ia juga memanjatkan doa bagi para korban konflik dunia, seraya berharap penderitaan akibat perang dan ketidakadilan segera berakhir.
Menurutnya, di tengah konflik global, harapan harus tetap dijaga.
Yesus Menolak Perang Sejak Awal
Dalam khotbahnya, Paus menegaskan kembali bahwa Yesus menolak perang dan kekerasan sejak awal pelayanan-Nya.
Ia menggambarkan Jalan Salib sebagai wujud kasih total bagi umat manusia.
“Ia tetap teguh dalam kelembutan hati, sementara yang lain membangkitkan kekerasan,” ujarnya.
Paus menekankan bahwa Yesus datang membawa terang dan kehidupan, bahkan ketika kegelapan dan kematian menghadang.
Ia juga mengingatkan bahwa siapa yang hidup dengan pedang akan binasa oleh pedang—sebuah pesan kuat bahwa kekerasan tidak pernah menjadi jalan damai.
Bahkan saat disalibkan, Yesus tidak melawan.
“Ia mengungkapkan wajah Allah yang lembut, yang selalu menolak kekerasan,” kata Paus. ***













