MAKLUMAT — Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional (NCTC) Amerika Serikat, Joesph Kent, mengundurkan diri dari jabatannya dan secara terbuka menolak perang Iran.
Keputusan itu disampaikan Kent melalui pernyataan di akun X @joekent16jan19, yang diunggah dan dikutip pada Kamis (18/3/2026) WIB. Dalam pernyataannya, Kent menegaskan tidak dapat mendukung konflik yang dinilainya tidak memiliki dasar ancaman langsung terhadap Amerika Serikat.
After much reflection, I have decided to resign from my position as Director of the National Counterterrorism Center, effective today.
I cannot in good conscience support the ongoing war in Iran. Iran posed no imminent threat to our nation, and it is clear that we started this… pic.twitter.com/prtu86DpEr
— Joe Kent (@joekent16jan19) March 17, 2026
“Saya tidak dapat dengan hati nurani yang jernih mendukung perang yang sedang berlangsung di Iran,” tulis Kent.
Ia menyebut Iran tidak menimbulkan ancaman mendesak bagi negaranya, serta menilai perang tersebut dipicu oleh tekanan dari Israel dan lobi kuatnya di Amerika.
Kritik terhadap kebijakan luar negeri
Dalam surat pengunduran dirinya yang ditujukan kepada Presiden Donald Trump, Kent mengungkapkan kekecewaannya terhadap arah kebijakan luar negeri terbaru pemerintah.
Ia mengingatkan bahwa Trump sebelumnya mengusung pendekatan “America First” yang menghindari keterlibatan dalam perang berkepanjangan di Timur Tengah.
Menurut Kent, hingga pertengahan 2025, Trump memahami bahwa konflik di kawasan tersebut hanya akan mengorbankan nyawa prajurit dan menguras sumber daya nasional.
Kent juga menilai adanya kampanye disinformasi dari pihak tertentu yang mendorong sentimen pro-perang terhadap Iran.
“Ruang gema ini digunakan untuk menipu Anda agar percaya bahwa Iran merupakan ancaman mendesak,” tulisnya dalam surat tersebut.
Ia membandingkan situasi saat ini dengan perang Irak yang disebutnya sebagai kesalahan besar yang tidak boleh terulang.
Alasan personal dan moral
Kent menegaskan keputusannya juga dilandasi pengalaman pribadi sebagai veteran dengan 11 penugasan tempur.
Ia juga mengungkapkan kehilangan istrinya dalam konflik yang ia sebut sebagai “perang yang direkayasa”, sehingga menolak mengirim generasi berikutnya ke medan perang yang dinilai tidak memberi manfaat bagi rakyat Amerika.
Dalam penutup suratnya, Kent mendesak Presiden Trump untuk mengevaluasi kembali arah kebijakan terhadap Iran dan mengambil langkah berani untuk menghentikan konflik.
“Keputusan ada di tangan Anda,” tulis Kent.
Siapa Joe Kent?
Joseph Kent merupakan sosok yang menempuh jalur tidak biasa dari militer ke politik, hingga akhirnya menduduki jabatan strategis sebagai Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional (NCTC).
Setelah meninggalkan dinas pemerintahan, Kent dua kali mencalonkan diri sebagai anggota Kongres di negara bagian Washington. Namun, upayanya tersebut berakhir dengan kekalahan.
Dari kandidat gagal ke pucuk intelijen
Melansir laporan NDTV, perjalanan karier Kent berubah ketika Presiden Donald Trump menominasikannya sebagai Direktur NCTC pada Februari 2025. Dalam pengumuman di Truth Social, Trump menyatakan keyakinannya terhadap Kent.
“Joe akan membantu menjaga Amerika tetap aman dengan memberantas semua terorisme, dari para jihadis di seluruh dunia hingga kartel di halaman belakang kita,” tulis Trump.
Penunjukan itu kemudian dikukuhkan oleh Senat Amerika Serikat pada Juli 2025 melalui pemungutan suara 52 berbanding 44.
Penolakan dan kontroversi
Sejak awal, pencalonan Kent menuai penolakan keras dari Partai Demokrat. Mereka menyoroti kedekatannya dengan sejumlah tokoh sayap kanan serta rekam jejaknya dalam mempromosikan teori konspirasi.
Dalam sidang konfirmasi di Senat, Kent juga menjadi sorotan setelah menolak menjauhkan diri dari klaim bahwa agen federal terlibat dalam penyerbuan Gedung Capitol pada 6 Januari 2021.
Ia juga tidak mengakui hasil pemilihan presiden 2020 yang dimenangkan oleh Joe Biden atas Donald Trump.
Sikap tersebut memperkuat kekhawatiran sejumlah pihak mengenai independensi dan kredibilitasnya dalam memimpin lembaga intelijen strategis.
Figur keras di isu keamanan
Meski kontroversial, Kent dikenal sebagai figur dengan pendekatan keras terhadap isu keamanan nasional. Trump menilai latar belakang militernya serta pandangan tegasnya terhadap terorisme menjadi alasan utama penunjukannya.
Namun, perjalanan karier Kent di pemerintahan tidak lepas dari polemik politik yang terus membayangi sejak awal hingga akhir masa jabatannya.***














