Pemdes Pucangro Gelar Pelatihan Pemulasaran Jenazah, Ikhtiar Regenerasi Modin Desa

Pucangro

MAKLUMAT — Pemerintah Desa Pucangro, Kecamatan Kalitengah, Kabupaten Lamongan, menggelar Pelatihan Pemulasaran Jenazah di Balai Desa Pucangro, Jumat (10/7/2026). Kegiatan tersebut diikuti tokoh agama, pengurus makam, masyarakat, serta mahasiswa KKN 61 UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya sebagai bagian dari upaya menyiapkan kader pemulasaran jenazah di tingkat desa.

Kepala Desa Pucangro, H Zuli Kasmawanto mengatakan pelatihan tersebut digelar karena pemerintah desa melihat perlunya regenerasi warga yang memahami tata cara pemulasaran jenazah sesuai syariat Islam. Selain memahami teori, peserta juga dibekali praktik agar mampu menjalankan tugas ketika dibutuhkan masyarakat.

“Bagi saya kegiatan pada malam hari ini sangat penting. Saya ingin memiliki kader-kader yang bisa meneruskan, yang paham dan mengerti, baik secara teori maupun praktik sesuai ajaran agama Islam. Apalagi ini berkaitan dengan penghormatan terakhir bagi jenazah,” ujarnya.

Gagasan mengadakan pelatihan itu muncul setelah pemerintah desa beberapa kali menerima masukan dari pengurus makam. Selama ini, proses pemulasaran jenazah masih bergantung pada modin desa sehingga dikhawatirkan akan menyulitkan masyarakat apabila sewaktu-waktu tidak ada yang dapat menjalankan tugas tersebut.

Karena itu, pemerintah desa mengajak lebih banyak warga untuk mempelajari tata cara pemulasaran jenazah, mulai dari bacaan, teori, hingga praktik. Langkah tersebut diharapkan menjadi proses kaderisasi agar desa memiliki lebih banyak warga yang siap membantu pelayanan kepada masyarakat.

Baca Juga  BNPT: Kampus Garda Terdepan Cegah Radikalisme, UINSA Jadi Model Kampus Kebangsaan

“Jangan sampai semuanya harus menunggu Mbah Modin. Harus ada warga yang memahami ilmunya, bacaannya, teorinya, sekaligus praktiknya. Karena itu perlu proses kaderisasi agar ada penerusnya,” katanya.

Pelatihan tersebut juga menjadi sarana belajar bagi mahasiswa KKN 61 UINSA yang tengah menjalankan pengabdian di Desa Pucangro. Selain mengikuti materi, mahasiswa turut menyaksikan praktik pemulasaran jenazah secara langsung sebagai bekal ketika nantinya hidup dan mengabdi di tengah masyarakat.

Arif Imam Santoso, mahasiswa KKN 61 UINSA, menilai pengalaman tersebut memberikan pemahaman baru yang tidak selalu diperoleh di ruang perkuliahan. Baginya, keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan kemasyarakatan menjadi bagian penting dari proses belajar selama menjalani KKN.

“Pelatihan ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi kami. Selama ini kami lebih banyak memahami teori, sedangkan melalui kegiatan ini kami bisa melihat sekaligus mempraktikkan langsung proses pemulasaran jenazah sesuai syariat Islam. Ilmu seperti ini penting dimiliki karena suatu saat kami juga akan hidup berdampingan dan mengabdi di tengah masyarakat,” ujarnya.

Pemerintah Desa Pucangro berharap pelatihan tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi mampu melahirkan kader-kader baru yang siap membantu masyarakat ketika dibutuhkan. Semakin banyak warga yang memahami pemulasaran jenazah, semakin kuat pula pelayanan sosial dan keagamaan di lingkungan desa.

Baca Juga  Mahasiswa KKN 89 UINSA Beri Edukasi Gerakan Bebas Jentik untuk Cegah DBD di Desa Laren Lamongan

“Saya berharap seluruh peserta yang mengikuti pelatihan ini tidak ragu untuk bertanya jika ada yang belum dipahami. Semoga kegiatan ini menjadi amal jariyah bagi kita semua dan semakin banyak warga yang ikut belajar agar hasilnya semakin baik,” jelasnya.

 

*) Penulis: Muhammad Bimo Wijoyo