Pemkot Surabaya Alokasikan Rp5 Juta per RW, Ini Tujuannya?

MAKLUMAT – Pemkot Surabaya kembali menggulirkan kebijakan yang menyasar langsung anak muda di tingkat kampung. Melalui program Kampung Pancasila, setiap RW kini berpeluang memperoleh dana Rp5 juta per bulan yang dikhususkan bagi generasi muda atau Gen Z.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan, anggaran tersebut bukan sekadar bantuan sosial, melainkan stimulan untuk membangun kemandirian ekonomi pemuda di lingkungan perkampungan.

“Proposalnya harus ada manfaat langsung untuk Karang Taruna dan Gen Z di setiap RW. Kalau hanya kegiatan seremonial tanpa dampak, tidak akan kami cairkan,” tegasnya, Minggu (15/2/2026).

Menurutnya, dana Rp5 juta itu wajib diajukan melalui proposal kegiatan. Karang Taruna atau kelompok pemuda di tingkat RW diminta menyusun rencana program yang bisa memberi dampak jangka panjang, terutama pembentukan usaha produktif.

Tumbuhkan Kemandirian Usaha

Proses seleksi dilakukan di tingkat kecamatan. Proposal yang masuk akan ditelaah sebelum disetujui pencairannya. Skema ini sengaja dirancang agar anak muda terbiasa menyusun perencanaan, memiliki visi, sekaligus belajar mengelola anggaran.

“Saya ingin Gen Z punya pandangan dan rencana. Jangan sampai diberi uang lalu habis tanpa manfaat. Kita latih mereka supaya bisa menjadi wiraswasta,” lanjut Eri Cahyadi.

Baca Juga  Deklarasi Surabaya Bersatu, Wali Kota Eri Tegaskan Tak Ada Toleransi terhadap Premanisme

Sebetulnya program ini sudah berjalan sejak Januari 2026. Bagi RW yang belum mengajukan proposal pada bulan pertama, anggaran tidak otomatis hangus. Dana dapat diakumulasikan pada bulan berikutnya. Artinya, jika Januari belum digunakan, maka Februari bisa dicairkan sekaligus menjadi Rp10 juta.

Langkah Pemkot Surabaya ini menjadi bagian dari strategi menekan angka pengangguran terbuka dan kemiskinan. Pemerintah kota juga telah menggandeng sedikitnya 38 pelaku industri hotel, restoran, dan kafe (Horeka) untuk menyerap produk-produk dari kampung.

Sinergikan dengan Kampung Pancasila

Harapannya, dana Rp 5 juta per RW itu bisa menjadi modal awal pembentukan unit usaha. Mulai dari suplai daging ayam, sayuran, hingga kebutuhan perlengkapan hotel. Dengan demikian, perkampungan tidak hanya menjadi basis sosial, tetapi juga pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Selain bantuan anggaran, pemkot bersama sejumlah pemangku kepentingan akan melakukan pendampingan agar usaha yang dirintis pemuda bisa berkelanjutan. Kampung Pancasila diharapkan tidak berhenti sebagai slogan guyub rukun, melainkan berkembang menjadi inkubator ekonomi kreatif di tingkat RW.

“Belajarlah menata usaha. Biar terbiasa bergerak dan memberi manfaat untuk kampung,” pungkasnya.