Dukungan itu disampaikan Sekretaris Jenderal Pergunu, Aris Adi Leksono, sebagai bagian dari ikhtiar menjaga kesinambungan kepemimpinan keulamaan NU. Pasalnya, NU membutuhkan sosok pemimpin ulama yang memiliki integritas, kemandirian, serta akar kuat dalam tradisi pesantren. Kriteria itu melekat pada diri KH Asep Saifuddin Chalim.
“Kiai Asep bukan hanya ulama, tetapi dzurriyah pendiri NU. Ada ikatan historis dan tanggung jawab moral yang kuat dalam dirinya untuk menjaga marwah dan khidmah jam’iyyah,” ujar Aris di Jakarta, Jumat (16/1/2026).
Kiai Asep merupakan putra dari KH Abdul Chalim Leuwimunding, Majalengka, salah satu tokoh pendiri NU. Pergunu menilai posisi historis tersebut melahirkan rasa memiliki yang mendalam terhadap organisasi, sekaligus komitmen menjaga nilai-nilai keulamaan NU.
Selain faktor genealogis, Pergunu menyoroti kapasitas Kiai Asep sebagai pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah di Jawa Timur. Pesantren tersebut dikenal memiliki puluhan ribu santri serta jaringan alumni yang tersebar di berbagai negara.
“Pesantren adalah jantung NU. Pengalaman KH Asep mengelola pesantren modern tanpa meninggalkan tradisi keilmuan Islam menjadi kekuatan strategis bagi NU menghadapi tantangan zaman,” jelas Aris.
Dari sisi kemandirian, Pergunu juga menilai Kiai Asep sebagai ulama yang memiliki kekuatan ekonomi dan sikap dermawan. Kemandirian tersebut penting agar kepemimpinan keulamaan NU tetap objektif dan tidak terjebak kepentingan pragmatis.
“Kemandirian ekonomi menjadi jaminan etik. Keulamaan dapat dijalankan secara independen, berpihak pada kemaslahatan umat, serta fokus pada pendidikan dan dakwah,” tegasnya.
Pergunu turut mencatat rekam jejak kebangsaan Kiai Asep yang mendapat pengakuan negara melalui penganugerahan Bintang Mahaputera Narayana atas kontribusinya dalam memajukan pendidikan dan pesantren.
Di bidang akademik, Kiai Asep juga tercatat sebagai guru besar yang dikukuhkan di UIN Sunan Ampel Surabaya. Meski demikian, ia tetap menjaga kedekatan dengan kiai khos, kiai kampung, dan basis akar rumput NU.














