Perjalanan Muktamar XVI Tapak Suci Bersama Istri: Menjadi Pendekar yang Menyerupai Malaikat

Para kader Tapak Suci Putera Muhammadiyah saat menghadiri Muktamar ke-16 di Semarang. (Foto: Dok.)

MAKLUMAT — Ada perjalanan yang sekadar berpindah dari satu kota ke kota lain. Tetapi ada pula perjalanan yang membawa kita pulang dengan pikiran yang lebih jernih dan hati yang lebih kaya. Bagi para pendekar, perjalanan ke Semarang menghadiri Muktamar XVI Tapak Suci Putera Muhammadiyah, 6-9 Agustus 2026, bersama istri, adalah perjalanan yang kedua: perjalanan organisasi sekaligus perjalanan batin.

Muktamar kali ini mengusung tema “Berakar Tradisi Menuju Tapak Suci Modern, Mandiri dan Mendunia.” Sebuah tema yang terasa semakin bermakna ketika kita melihat Tapak Suci bukan sekadar sebagai perguruan seni bela diri, melainkan sebagai ruang pendidikan karakter, kaderisasi, dakwah, persaudaraan, dan pengabdian. Muktamar XVI memang diarahkan bukan hanya sebagai forum pergantian kepemimpinan, tetapi juga sebagai momentum evaluasi dan penentuan masa depan Tapak Suci.

Namun, di tengah gegap gempita muktamar, para pendekar para pendekar justru teringat sebuah nasihat spiritual yang tertulis dalam sumber yang menjadi inspirasi tulisan ini:

النَّاسُ ثَلَاثَةُ أَصْنَافٍ: صِنْفٌ يُشْبِهُ الْمَلَائِكَةَ، وَصِنْفٌ يُشْبِهُ الْبَهَائِمَ، وَصِنْفٌ يُشْبِهُ الشَّيَاطِينَ.

“Manusia itu ada tiga golongan: golongan yang menyerupai malaikat, golongan yang menyerupai binatang, dan golongan yang menyerupai setan.”

Nasihat ini dinisbatkan kepada Salim al-Khawwas dan dicatat dalam Hilyat al-Awliya’ karya Abu Nu‘aim al-Asfahani. Penjelasannya membagi manusia berdasarkan orientasi hidup: ada yang hidup dalam ketaatan dan mencintai orang-orang yang taat; ada yang kehidupannya hanya berputar pada makan, minum, hubungan biologis, dan tidur; dan ada yang terus-menerus berada dalam kemaksiatan.

Bagi para pendekar, nasihat tersebut sangat relevan dengan semangat Muktamar XVI.

Dari Gelanggang Menuju Ruang Pembentukan Manusia

Tapak Suci mengajarkan bahwa kekuatan bukan sekadar kemampuan memukul, menendang, atau menjatuhkan lawan. Kekuatan yang sesungguhnya adalah kemampuan mengendalikan diri.

Seorang pendekar boleh memiliki tenaga yang besar, tetapi ia harus memiliki hati yang lebih besar. Ia boleh menguasai berbagai jurus, tetapi harus terlebih dahulu mampu menguasai nafsunya. Ia boleh memenangkan pertandingan, tetapi kemenangan paling penting adalah memenangkan pertarungan melawan kesombongan, kemarahan, dendam, dan keinginan merendahkan orang lain.

Baca Juga  Buka Sidang Tanwir Muktamar ke-16 Tapak Suci, Agung Danarto Tekankan Akhlak Organisasi

Di sinilah makna “pendekar” menjadi lebih dalam.

Pendekar yang sebenarnya bukan orang yang paling ditakuti, tetapi orang yang kehadirannya membuat orang lain merasa aman.

Maka, ketika membaca ungkapan tentang manusia yang “menyerupai malaikat”, pendekar membayangkan karakter ideal seorang kader Tapak Suci: disiplin dalam ibadah, santun dalam pergaulan, kuat dalam prinsip, rendah hati dalam kemenangan, sportif dalam kompetisi, dan siap menolong sesama dalam kehidupan semesta.

Bela diri akhirnya harus menjadi bela manusia. Dan inilah salah satu tantangan besar Tapak Suci ketika memasuki fase “modern, mandiri, dan mendunia”.

Bersama Istri: Muktamar Jadi Perjalanan Keluarga

Menghadiri muktamar bersama istri memberikan pengalaman yang berbeda.

Ada dimensi keluarga dalam perjalanan organisasi yang sering tidak terlihat. Di balik seorang kader, pendekar, pimpinan, atau peserta muktamar, ada keluarga yang turut menjadi bagian dari perjalanan itu.

Istri bukan sekadar pendamping perjalanan. Ia adalah teman berdialog, tempat berbagi kegembiraan, sekaligus cermin yang sering kali mengingatkan ketika kita terlalu larut dalam dunia organisasi.

Dalam perjalanan bersama, kita belajar bahwa kehidupan tidak hanya tentang forum, persidangan, agenda, jabatan, dan program kerja. Ada percakapan sederhana di perjalanan. Ada makan bersama. Ada menikmati suasana kota. Ada melihat keramaian para pendekar. Ada kesempatan untuk saling mendengar.

Dan justru dalam kesederhanaan itulah nilai keluarga terasa.

Muktamar mengajarkan tentang organisasi, sementara perjalanan bersama isteri mengingatkan tentang makna kebersamaan.

Bukankah keluarga adalah madrasah pertama pembentukan karakter?

Karena itu, para pendekar membayangkan masa depan Tapak Suci bukan hanya dengan semakin banyaknya perguruan, pelatih, atlet, dan pendekar, tetapi juga dengan lahirnya keluarga-keluarga pendekar yang menjadi teladan dalam masyarakat.

Vis a Vis Modern Tanpa Kehilangan Akar

Tema Muktamar XVI sangat menarik: berakar tradisi, menuju modern, mandiri dan mendunia.

Baca Juga  Afnan Hadikusumo Kembali Terpilih Pimpin Tapak Suci Periode 2026–2031

Kata “berakar” menurut para pendekar adalah kata kunci.

Sebuah pohon bisa tumbuh tinggi karena akarnya kuat. Jika ingin Tapak Suci mendunia, jangan sampai proses globalisasi justru membuatnya kehilangan jati diri.

Tradisi bukan berarti hidup di masa lalu. Tradisi adalah sumber nilai yang membuat kita tahu siapa diri kita ketika menghadapi masa depan.

Tapak Suci memiliki akar panjang dalam persyarikatan Muhammadiyah, dunia persilatan, pendidikan kader, dan dakwah amar makruf nahi mungkar. Semua itu harus menjadi energi untuk bertransformasi.

Modern berarti mampu memanfaatkan teknologi.

Mandiri berarti mampu membangun sistem organisasi dan ekonomi yang sehat.

Mendunia berarti mampu membawa pencak silat, pendidikan karakter, dan nilai-nilai Islam berkemajuan ke berbagai belahan dunia. Tetapi semuanya harus tetap memiliki ruh.

Sebab organisasi yang hebat secara teknologi tetapi kehilangan nilai hanya akan menjadi mesin. Sebaliknya, organisasi yang memiliki nilai tetapi menolak perubahan akan sulit menjawab zaman.

Tapak Suci membutuhkan keduanya: akar yang kuat dan sayap yang lebar.

Melawan manusia yang “menyerupai binatang” dan “menyerupai setan”

Nasihat Salim al-Khawwas juga mengajak kita melakukan introspeksi.

Golongan yang menyerupai binatang digambarkan sebagai manusia yang hidup hanya untuk memenuhi kebutuhan fisik: makan, minum, hubungan biologis, dan tidur.

Dalam konteks modern, maknanya dapat diperluas. Jangan sampai kader organisasi hanya mengejar kenyamanan, fasilitas, popularitas, dan kepentingan pribadi.

Organisasi akhirnya hanya menjadi kendaraan untuk kepentingan diri sendiri.

Lebih berbahaya lagi adalah karakter “menyerupai setan”: hidup dalam kemaksiatan, menyebarkan permusuhan, memecah persaudaraan, menebar fitnah, dan menggunakan kekuatan untuk kepentingan yang merusak.

Di era media sosial, bentuknya bisa sangat halus.

Seseorang mungkin mengenakan seragam pendekar, tetapi lisannya melukai. Tangannya kuat, tetapi jari-jarinya digunakan untuk menyebarkan kebencian. Ia berbicara tentang persaudaraan, tetapi perilakunya memecah belah.

Karena itu, tantangan Tapak Suci ke depan bukan hanya bagaimana mencetak pendekar yang kuat secara fisik, tetapi juga pendekar yang sehat secara moral, matang secara spiritual, dan cerdas secara sosial.

Baca Juga  Tapak Suci dan Tantangan Adab di Era Baru

Muktamar Harus Lahirkan Manusia, Bukan Hanya Keputusan

Muktamar akan menghasilkan keputusan organisasi. Akan ada program kerja, rekomendasi, evaluasi, dan kepemimpinan baru.

Tetapi setelah semua palu sidang diketukkan, pertanyaan terpenting adalah: Manusia seperti apa yang hendak dilahirkan oleh Tapak Suci?

Jika jawabannya adalah manusia yang menyerupai malaikat dalam ketaatan, kasih sayang, kedisiplinan dan kemanfaatan, maka Tapak Suci memiliki masa depan yang sangat besar.

Sebaliknya, jika muktamar hanya berhenti pada perebutan pengaruh, pergantian jabatan, pertarungan kepentingan, dan kebanggaan institusional, maka kita kehilangan makna terdalam dari sebuah perguruan yang membawa nama Muhammadiyah.

Muktamar XVI di Semarang harus menjadi momentum untuk memperbarui komitmen.

Pendekar harus kuat, tetapi tidak kasar.

Berani, tetapi tidak arogan.

Menang, tetapi tidak merendahkan.

Modern, tetapi tidak tercerabut.

Mendunia, tetapi tetap berakar.

Mandiri, tetapi tidak individualis.

Dan mungkin, perjalanan bersama istri ke Semarang mengajarkan sesuatu yang sederhana: bahwa perjuangan organisasi pada akhirnya adalah perjuangan memanusiakan manusia.

Di tengah ribuan pendekar yang berkumpul, kita berharap lahir ribuan manusia yang bukan hanya mahir dalam jurus, tetapi juga indah dalam akhlak.

Sebab Tapak Suci tidak boleh hanya dikenal karena kekuatan pukulannya.

Tapak Suci harus dikenang karena kekuatan akhlaknya.

Semoga Muktamar XVI menjadi titik penting perjalanan Tapak Suci: dari akar tradisi menuju modernitas, dari kemandirian menuju kemajuan, dan dari Indonesia menuju dunia.

Dan dalam perjalanan itu, semoga kita semua memilih satu jalan: menjadi manusia yang menyerupai malaikat—taat kepada Allah, mencintai kebaikan, dan menghadirkan kemaslahatan bagi sesama.

Dari sebuah perjalanan bersama isteri, untuk sebuah refleksi tentang masa depan Tapak Suci.

Semarang, 6-9 Agustus 2026

*) Penulis: Prof. Triyo Supriyatno
Pimda 027 Tapak Suci Putra Muhammadiyah Kota Malang