MAKLUMAT – Tak semua umat Islam memiliki kesempatan yang sama untuk membaca dan memahami Al-Qur’an. Di Indonesia, sekitar 146 ribu penyandang disabilitas diperkirakan belum dapat mengakses Al-Qur’an karena keterbatasan yang mereka miliki.
Kondisi itu mendorong Masjid Baitut Thalibin Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperluas akses pendidikan Islam yang inklusif. Yakni, melalui Training of Trainers (ToT) Qur’an Isyarat. Tujuannya, semakin banyak guru mampu mengajarkan Al-Qur’an kepada penyandang disabilitas.
Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Baitut Thalibin Kemendikdasmen membuka kegiatan tersebut di Jakarta pada Senin (20/7/2026). Dalam kesempatan itu hadir Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus Suparto, S.Ag., M.Ed., Ph.D.; Direktur Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (PKLK) Dr. Saryadi, S.T., M.B.A.; jajaran pengurus DKM Masjid Baitut Thalibin, serta mitra dari Lembaga Wakaf Salman ITB, Ryan Faisalerta, Baitul Mal Muamalat (BMM), Galih.
Mariman yang juga Staf Ahli Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya ToT yang ketiga sebagai sebuah perjuangan yang tidak mudah. Mengutip pesan Mendikdasmen Prof Abdul Mu’ti, masjid adalah rumah peradaban yang hebat, diisi orang hebat, karena semua berdasar keikhlasan.
”Kesediaan meluangkan waktu mengurus masjid nilainya sangat tinggi di akhirat. Karena itu, Pak Menteri memberikan aprasiasi tinggi kepada segenap pengurus DKM yang menyelenggarakan kegiatan penting ToT Al Quran Isyarat ini,” tuturnya.
Pihaknya bersyukur bisa bertemu dengan teman-teman BMM yang memiliki kepedulian yang sangat tinggi. Hal itu yang ditindaklanjuti dengan menyampaikan kepada menteri ihwal perlunya pusat pelatihan Al-Qur’an Isyarat di Baitut Thalibin.
”Karena ini terkait langsung dengan visi Pak Menteri, pendidikan bermutu untuk semua,” tandasnya.
Sementara itu, Suparto menyampaikan bahwa Al-Qur’an adalah kalamullah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW. Ditulis dalam mushaf dan bagi pembacanya berarti ibadah. Aspek ibadah perlu diperkuat sebagaimana dalam Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang salah satunya beribadah.
Ketua Bidang Dakwah DKM Baitut Thalibin itu mengutip firman Allah dalam surat Al Qomar ayat 17, 22, 32, dan ayat 40. Disebutkan dalam kalimat yang sama: ”Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran”.
Menurutnya, sekarang adalah saatnya melihat bahwa Al-Qur’an bukan kitab yang sulit dipahami. Allah mengisyaratkan bahwa Al-Qur’an bisa dibaca oleh siapa saja.
Kegiatan Training of Trainers (ToT) Qur’an Isyarat juga merupakan satu wujud dari amanat UU No 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas. Regulasi itu menyebutkan adanya 22 hak, termasuk hak hidup, hak mendapat pekerjaan, dan hak pendidikan inklusif.
Pelatihan baca Al-Qur’an Isyarat merupakan upaya penguatan karakter anak bangsa dalam aspek spiritual. Hadits Rasulullah menyebutkan, andaikata ada orang yang di dalam dirinya tidak ada secuil pun Al-Qur’an, maka dia ibarat rumah yang roboh. Al-Qur’an ibarat rumah yang di dalamnya penuh kedamaian, kecintaan, kebahagiaan, karena Allah senantiasa mencurahkan petunjuknya.
Pelatihan batch ketiga berlangsung pada 20-22 Juli. Jumlah pesertanya sebanyak 22 orang, terdiri atas 11 guru, 10 murid, 1 pegawai PKPLK. Para guru berasal dari sekolah SLB ABC Muhammadiyah Sumedang, SLB Muhammadiyah Cipedes, SLB ABCD Muhammadiyah Ciparay, SLB Muhammadiyah Jatiwangi, SLB Muhammadiyah Bayongbong, SLB B-C Alfiany, SLB B Tunas Kasih 2, SLBN Dharma Wanita Kota Bogor, SLB B-C Ashafiiyah, SLB Negeri Kota Depok, dan SMA Al-Hikmah.
Mariman berharap kegiatan tersebut mendapat dukungan dari para mitra. Dia menyebut sebagai ikhtiar mulia sebagaimana pesan Al-Qur’an, Al-Hasyr ayat 18 “ Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok”. (*)












