Resmi! Prabowo–Trump Teken Perjanjian Tarif Resiprokal RI–AS, 1.819 Produk Indonesia Dapat Tarif 0 Persen

Tarif Resiprokal

MAKLUMAT — Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat resmi menandatangani perjanjian tarif resiprokal bertajuk New Golden Age for US-Indonesia, yang diteken Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump, Kamis (19/2/2025) waktu Amerika Serikat.

Penandatanganan diumumkan dalam konferensi pers yang dihadiri Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Perkasa Roeslani, serta Duta Besar RI untuk AS Dwisuryo Indroyono Soesilo.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan perjanjian ini merupakan bagian dari rangkaian 11 kesepakatan ekonomi yang telah ditandatangani kedua negara dalam beberapa hari terakhir.

“Selama beberapa hari terakhir kita sudah menandatangani 11 agreement, termasuk perpanjangan Freeport 2041–2061 serta kerja sama pembelian jagung, kapas, furnitur, dan minyak,” ujar Airlangga.

Menurutnya, pembicaraan antara Presiden Prabowo dan Presiden Trump berlangsung sekitar 30 menit sebelum dokumen ditandatangani, disertai lampiran teknis yang dibahas bersama perwakilan kedua negara di Amerika Serikat.

Bentuk Council of Trade and Investment

Airlangga menjelaskan, salah satu poin penting perjanjian adalah pembentukan Council of Trade and Investment, forum ekonomi bilateral yang akan menjadi mekanisme penyelesaian jika muncul persoalan investasi atau perdagangan.

Forum ini akan membahas potensi kenaikan tarif atau kebijakan yang dinilai mengganggu neraca perdagangan kedua negara sebelum langkah lebih jauh diambil.

“Tujuan dan visi perjanjian adalah mewujudkan kemakmuran ekonomi bersama, memperkuat rantai pasok, serta tetap menghormati kedaulatan masing-masing negara,” kata Airlangga dalam keterangan pers melalui akun Youtube PerekonomianRI, Jumat (20/2/2026).

Negosiasi Tarif Berlangsung Sejak 2025

Perundingan tarif resiprokal ini telah berjalan sejak pengumuman Presiden Trump pada 2 April 2025. Indonesia tercatat mengirim empat surat negosiasi pada April, Juni, Juli, dan Agustus 2025.

Selama periode tersebut:

  • Indonesia melakukan kunjungan ke Washington DC empat kali

  • berlangsung tujuh putaran perundingan

  • lebih dari sembilan pertemuan langsung maupun virtual

  • pembahasan intensif dengan Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer

Airlangga menyebut sekitar 90 persen dokumentasi yang diajukan Indonesia dipenuhi pihak Amerika Serikat.

1.819 Pos Tarif Produk Indonesia Nol Persen

Dalam perjanjian Agreement on Reciprocal Trade (ART), terdapat 1.819 pos tarif produk Indonesia yang mendapat tarif 0 persen, mencakup sektor pertanian dan industri.

Produk tersebut antara lain:

  • minyak sawit

  • kopi

  • kakao

  • rempah-rempah

  • karet

  • komponen elektronik termasuk semikonduktor

  • komponen pesawat terbang

Untuk sektor tekstil dan apparel, Amerika Serikat juga memberi tarif 0 persen melalui mekanisme tariff-rate quota (TRQ).

Kebijakan ini dinilai berdampak langsung pada sekitar 4 juta pekerja sektor tekstil, atau sekitar 20 juta masyarakat jika dihitung bersama keluarganya.

Indonesia Beri Tarif Nol untuk Gandum dan Kedelai AS

Sebagai bagian dari prinsip resiprokal, Indonesia juga memberikan fasilitas tarif 0 persen untuk sejumlah produk pertanian AS, terutama:

  • gandum

  • kedelai

Pemerintah menilai kebijakan ini dapat menekan harga bahan pangan berbasis gandum maupun kedelai di dalam negeri, termasuk produk seperti tahu dan tempe.

Sepakat Soal Perdagangan Digital dan Perlindungan Data

Dalam kesepakatan tersebut, kedua negara juga menyatakan:

  • tidak mengenakan bea masuk atas transaksi elektronik sesuai posisi di WTO

  • mendukung moratorium bea digital pada konferensi tingkat menteri WTO

  • mendorong transfer data lintas batas secara terbatas sesuai hukum Indonesia

  • Amerika Serikat mengakui standar perlindungan data konsumen Indonesia

Selain itu Indonesia juga akan menerapkan strategic trade management untuk memastikan perdagangan berjalan aman dan sesuai regulasi. Hingga berita ini dinaikkan, konferensi pers terkait ART masih berlangsung.***