27.3 C
Malang
Jumat, Maret 1, 2024
KilasPW IPM Jatim: Pemilih Pemula Tidak Tergiur Money Politic

PW IPM Jatim: Pemilih Pemula Tidak Tergiur Money Politic

Sekretaris Bidang Advokasi dan Kebijakan Publik PW IPM Jatim Desy Kusuma Dewi.

KOMISI Pemilihan Umum (KPU) menyebut, sekitar 60 persen pemilih pada Pemilu 2024 mendatang adalah generasi muda. Mereka berasal dari kalangan generasi milenial dan Gen Z, yang sebagian dari mereka adalah para pemilih pemula atau yang baru mendapatkan hak pilihnya dan kali pertama memilih.

Terkait besarnya jumlah pemilih muda dan pemula itu, Sekretaris Bidang Advokasi dan Kebijakan Publik (AKP) PW Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Jatim, Desy Kusuma Dewi memberikan pendapatnya.

Menurut dia, penting bagi para pelajar, terlebih bagi kader-kader IPM yang sebagian juga masuk dalam kategori pemilih pemula untuk sadar dan aware terhadap isu-isu politik. Sebab, segala program dan kebijakan ditentukan dari proses politik.

“Kalau para pelajar atau kader-kader IPM ini tidak mengenal politik, atau bahkan apatis terhadap politik, bisa jadi nanti mereka akan lebih mudah untuk terbawa arus dan dipolitisasi,” ujarnya kepada Maklumat.id.

Desy menyadari, bahwa para pelajar dan generasi muda, termasuk kader-kader IPM akan memiliki preferensi dan pandangan yang sangat beragam terhadap situasi maupun kontestasi politik. Namun, ia berharap ragam pandangan itu bukan menjadikan sebuah permasalahan dan konflik yang pelik. “Oleh karena itu, setidaknya para pelajar, kader-kader IPM harus sudah banyak terpantik terhadap kesadaran-kesadaran politik, sehingga bisa menyikapi dengan bijak,” katanya.

Lebih lanjut, alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Malang itu mengatakan, bahwa kader-kader IPM harus dilatih untuk menjauhi apatisme terhadap politik, sehingga dapat memanfaatkan peluang sebagai pemilih pemula untuk lebih diperhatikan eksistensinya oleh pihak-pihak terkait.

“Jumlah pemilih pemula itu kan besar banget nanti di Pemilu 2024, dan banyak kader IPM juga masuk dalam kategori itu, yang baru pertama kali memilih, jadi eman-eman kalau mereka tidak berpartisipasi, tidak memberikan suaranya, sebab ini kan menyangkut bagaimana Indonesia ke depan, lima tahun ke depan,” katanya.

Desy berpesan kepada para pemilih pemula, terkhusus bagi kader-kader IPM agar tidak tergiur dan terjebak dalam money politic. Dia menyarankan agar para pemilih lebih bijak dalam menentukan pilihan, bukan berdasarkan pada nominal. “Political cost di Indonesia itu mahal, karena praktik-praktik money politic itu. Cobalah kita yang jual mahal kepada para politisi itu, suara kita tidak bisa dibeli seperti itu,” pintanya.

Lebih lanjut, dia meminta agar para kader IPM memahami sikap, pandangan dan ciri khas Muhammadiyah dalam konteks politik sebagai pijakan. “Sehingga tidak hanya asal coblos, jadi mencoblos itu berdasarkan akal dan nalar yg baik, penuh pertimbangan,” pesannya.

Semoga, imbuh Desy, Pemilu 2024 menjadi pemilu yang tetap dinantikan banyak orang dan bisa sesuai dengan ekspektasi masyarakat, melahirkan terobosan-terobosan yang bagus, dan semoga kontestasinya menjadi sebuah kontestasi yang menyehatkan bagi demokrasi di Indonesia. (*)

Reporter: Ubay

Editor: Aan Hariyanto

Sponsor

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Sponsor

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Sponsor

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Lihat Juga Tag :

Populer