Raih Doktor dari Malaysia, Nasrullah Ph.D. Disebut sebagai Pakar GSM

Pakar GSM

MAKLUMAT — Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Nasrullah, meraih gelar Doctor of Philosophy (Ph.D.) in New Media dari Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI), Malaysia. Hal ini terungkap setelah ia dinyatakan lulus dalam presentasi viva voce atas disertasinya oleh Faculty of Art, Sustainability and Creative Industry kampus tersebut, Rabu (4/2/2026).

Nasrullah mengangkat isu media sosial pemerintah (Government Social Media/ GSM) dalam memitigasi infodemik. Penelitian yang dilakukan pascapandemi Covid-19 itu menelusuri kegagapan pemerintah dalam merespons hoaks tentang vaksin yang menyebabkan penolakan terhadap program vaksinasi.

Nasrullah mengakui isu tersebut tergolong lama, mengingat ia telah menyelesaikan penelitiannya sejak 2023. Ia mengungkapkan bahwa berbagai hambatan membuatnya baru dapat mempresentasikan hasil riset di hadapan para penguji pada tahun lalu. Setahun setelahnya, barulah ia terjadwal menghadapi ujian akhir yang dikenal dengan istilah viva.

“Saya rasa, walaupun isunya sudah lewat, temuan penelitian saya insyaallah tetap berkontribusi sebagai langkah antisipasi. Pandemi bisa datang kapan saja. Karena itu, pengelolaan informasi publik harus disiapkan secara matang dan strategis—tidak gagap dan tidak diwarnai kepanikan,” tegasnya.

Dalam penelitiannya, Nasrullah mengutip temuan studi bahwa sebanyak 41 persen warga menolak vaksin, dan sebagian besar dipengaruhi oleh hoaks di media sosial. “Saat itu pemerintah seperti kurang memiliki arah dalam memitigasi infodemik,” ungkapnya.

Baca Juga  KKN Internasional UMM Sentuh Anak PMI di Malaysia agar Tak "Kenyang di Perut, Lapar di Ilmu"

Akibatnya, lebih dari 8.000 hoaks vaksinasi menyebar dengan cepat dan dipercaya oleh sebagian besar masyarakat. “Infodemik adalah hoaks di masa pandemi. Ini sama berbahayanya dengan pandemi itu sendiri. Jika pandemi dapat dikendalikan dengan lockdown dan vaksinasi, maka infodemik seharusnya juga dapat dikontrol,” terangnya.

Menurut Nasrullah, pihak yang memiliki otoritas untuk mengendalikan laju infodemik adalah pemerintah. Karena infodemik umumnya menyebar melalui media sosial, pemerintah juga harus menggunakan medium yang sama untuk mengatasinya.

Setelah mengkaji kolaborasi komunikasi pentaheliks yang melibatkan lima unsur—pemerintah, media, akademisi, dunia usaha, dan komunitas atau masyarakat—Nasrullah menemukan bahwa pengendalian infodemik dapat dilakukan melalui pendekatan serupa. Ia merumuskan dua model, yakni Strategi Cultivator of Positive Ecosystem dan Firefighter Strategy. Kedua model tersebut merupakan sintesis dari kajian teoretis dan temuan empiris di lapangan.

Salah seorang penguji dari India, Prof. Kesavan Nalatuhan, mengapresiasi temuan tersebut dan menilainya layak dijadikan determinasi akademik. “Anda sudah boleh mengaku sebagai pakar di bidang Government Social Media (GSM),” ujarnya.

Nasrullah mengaku lega telah menyelesaikan perjalanan studinya yang cukup panjang. Ia memulai studi beberapa bulan sebelum pandemi Covid-19, sehingga hanya menikmati perkuliahan luring selama satu semester di Malaysia. Selebihnya, proses bimbingan disertasi dan penelitian dilakukan di Indonesia.

Baca Juga  KKN Internasional UMM Sentuh Anak PMI di Malaysia agar Tak "Kenyang di Perut, Lapar di Ilmu"

“Saya hanya sesekali ke Malaysia untuk bertemu supervisor dan mengurus administrasi, minimal satu semester sekali,” tuturnya.

Ke depan, Nasrullah bertekad untuk lebih produktif menulis. “Target pertama saya adalah membukukan disertasi ini sebagai masukan bagi pemerintah dan sebagai kajian akademik yang masih langka,” katanya.

Dibantu Baznas

Naskah disertasi Nasrullah tergolong tebal, lebih dari 500 halaman. Selama penelitian, ia banyak dibantu oleh tim teman studi di UPSI serta kolega di UMM. Meski dibiayai oleh kampus homebase-nya, ia mengaku tetap memerlukan tambahan dana.

“Cukup menguras kantong. Alhamdulillah, saya juga dibantu Baznas pada saat penyelesaian disertasi,” ujar mantan Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UMM tersebut.

Baznas atau Badan Amil Zakat Nasional menyediakan bantuan penyelesaian studi S-3 bagi pihak yang memenuhi persyaratan, salah satunya sebagai aktivis gerakan dakwah. Nasrullah merupakan salah satu pengurus di jajaran Majelis Pustaka dan Informasi (MPI), baik di tingkat Pimpinan Pusat maupun Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur.

Ia berpesan agar generasi muda menempuh studi S-3 lebih dini. Menurutnya, jika usia sudah tidak muda, kesibukan bertambah dan daya pikir tidak lagi seoptimal sebelumnya. “Selain itu, banyak peluang beasiswa mensyaratkan batas usia, sehingga harus dimanfaatkan dengan baik,” ungkapnya.

Baca Juga  KKN Internasional UMM Sentuh Anak PMI di Malaysia agar Tak "Kenyang di Perut, Lapar di Ilmu"

Meski demikian, jika syarat usia tidak terpenuhi, Baznas masih dapat menjadi alternatif bantuan meskipun tidak membiayai studi secara penuh. “Sifatnya memang hanya bantuan, tetapi alhamdulillah sangat membantu,” tuturnya memberi testimoni.***