Rakorda ICCN Jatim di Blitar Rumuskan Suara Kreatif untuk Indonesia

Rakorda ICCN

 MAKLUMAT — Indonesia Creative Cities Network (ICCN) Jawa Timur menggelar Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) bertajuk Jatim Creative Connect 2026: Dari Blitar untuk Indonesia pada 17–18 Oktober 2026. Forum ini mempertemukan jejaring pelaku ekonomi kreatif dari 38 kabupaten dan kota di Jawa Timur untuk memperkuat kolaborasi, mengembangkan potensi lokal, serta merumuskan rekomendasi kebijakan ekonomi kreatif.

Kegiatan yang dipusatkan di wilayah Blitar tersebut dibuka Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak di Ruang Rapat Candi Penataran, Kantor Kabupaten Blitar, Sabtu (17/10/2026).

Rakorda ICCN Jatim menjadi ruang pertemuan pemerintah daerah, komunitas kreatif, akademisi, pelaku usaha, dan media. Melalui kolaborasi lintas unsur atau hexahelix, forum ini diarahkan untuk memperkuat jejaring, berbagi praktik baik, membuka peluang usaha, dan mendorong terbentuknya ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan.

Dalam sambutannya, Emil Dardak menyebut Jawa Timur memiliki potensi besar dalam pengembangan ekonomi kreatif. Dengan jumlah penduduk sekitar 42 juta jiwa, provinsi ini memiliki beragam subsektor unggulan, mulai dari kuliner dan kriya hingga fesyen.

Dalam paparan kegiatan tersebut, kontribusi ekonomi kreatif Jawa Timur terhadap tingkat nasional disebut mencapai 8,34 persen. Angka itu perlu dibaca sesuai indikator dan periode data yang digunakan.

Baca Juga  Naik Bus Trans Jatim, Emil Dardak Ajak Masyarakat Merawat Bersama

Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyiapkan sejumlah langkah penguatan ekosistem ekonomi kreatif. Salah satunya adalah rencana pembentukan unit atau perangkat khusus yang menangani sektor tersebut agar pengembangannya lebih terarah dan efisien.

Pemprov Jatim juga berupaya menyesuaikan sistem pendidikan vokasi agar Balai Latihan Kerja (BLK) mampu memberikan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri kreatif. Selain itu, penentuan standar mentor dinilai perlu mempertimbangkan karakter sektor kreatif, termasuk portofolio dan jejaring profesional, bukan hanya standar teknis.

Melalui rancangan peraturan daerah (Raperda), pemerintah provinsi juga berupaya menciptakan lingkungan yang mendukung pekerja lepas atau freelancer agar dapat tinggal, berkarya, dan mengembangkan karier di Jawa Timur.

Emil turut menekankan pentingnya kolaborasi pemerintah dengan ICCN dan komunitas lokal, termasuk Blitar Creative Forum serta jejaring kreatif di berbagai daerah. Pendekatan berbasis komunitas dinilai penting untuk menjaga kesinambungan pengembangan ekonomi kreatif meskipun terjadi pergantian kepemimpinan daerah.

Kolaborasi antarpemangku kepentingan menjadi salah satu fokus dalam agenda Leaders Talk. Forum ini menghadirkan Bupati Blitar Rijanto, Wali Kota Blitar Syauqul Muhibbin, dan Bupati Pasuruan Rusdi Sutejo untuk membahas visi, kebijakan, investasi, serta pengembangan ekonomi kreatif di daerah masing-masing.

Baca Juga  Bimtek Demokrat Jatim: Emil Dardak Siapkan Kader Hadapi Politik Digital

Ketiga kepala daerah tersebut membahas penguatan ekonomi kreatif melalui pendekatan pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media.

Sementara itu, forum Creative Talk mempertemukan 34 jejaring pelaku ekonomi kreatif se-Jawa Timur dengan kalangan akademisi. Di antara peserta yang disebut hadir adalah Inti Nahari, dosen Program Magister Ekonomi Kreatif Universitas Negeri Surabaya, serta Very Setiawan, focal point UNESCO Creative Cities Network yang juga mengajar di Universitas Darussalam Gontor, Ponorogo.

Diskusi tersebut mengangkat pengembangan komunitas kreatif dan desa kreatif, termasuk gagasan pembentukan komite ekonomi kreatif di tingkat kabupaten dan kota. Forum ini diharapkan memperkuat hubungan antara komunitas, pengetahuan akademik, dan kebijakan pemerintah daerah.

Pengembangan karya kreatif menjadi perhatian dalam agenda IP Talk, yang menghubungkan kreator dan pemilik kekayaan intelektual atau intellectual property (IP) dengan industri, media, platform, pasar, dan akses pembiayaan. Pembahasan mencakup lisensi, distribusi, monetisasi, investasi, serta perluasan pasar.

Forum tersebut mempertemukan aplikasi kreatif dari Banyuwangi Youth Creative Network, produk bio-teraso dari Nganjuk Creative Hub, serta Bank Jatim dalam pembahasan peluang pengembangan dan agregasi bisnis kreatif Jawa Timur. Kolaborasi ini diharapkan membuka jalan bagi karya lokal untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi dan menjangkau pasar yang lebih luas.

Baca Juga  Emil Dardak Tak Mau Ambil Pusing Soal Jatah Menteri, Fokus Pilgub Jatim 2024

Potensi desa juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan melalui agenda Creative Village. Para peserta mengunjungi Desa Minggirsari di Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, yang dikembangkan sebagai desa ekonomi kreatif sejak 2021.

ICCN Jatim mendorong pengembangan Minggirsari sebagai desa kreatif yang mengintegrasikan potensi lokal, narasi sejarah, dan aktivitas ekonomi masyarakat. Salah satu daya tariknya adalah Pasar Kreatif Kali Brantas, yang mengangkat Sungai Brantas sebagai bagian penting dari kehidupan dan perkembangan wilayah Jawa Timur.

Peserta juga mengunjungi Omah Jenang, usaha kuliner khas Blitar yang menurut informasi penyelenggara telah lolos program Wonderful Indonesia Scale Up Hub Kementerian Pariwisata. Kunjungan ini memperkenalkan jenang sebagai produk lokal yang memiliki potensi untuk terus dikembangkan dan dipasarkan lebih luas.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan pembahasan dalam Rakorda ICCN Jatim yang mempertemukan jejaring komunitas kreatif dari berbagai kabupaten dan kota. Forum ini membahas tantangan, peluang, serta langkah bersama untuk memastikan ekonomi kreatif dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.***