Okky Madasari: Bahasa dan Budaya Gerakkan Ekonomi

Okky Madasari

MAKLUMAT — Ketika program studi seperti sastra, sejarah, dan antropologi dinilai tak lagi relevan dengan kebutuhan industri, Okky Madasari justru mengajukan pandangan sebaliknya. Bahasa dan budaya bukan beban pembangunan, melainkan modal strategis untuk menggerakkan roda ekonomi nasional.

Gagasan itu disampaikan Okky dalam forum Bincang Budaya Cultural Festival 15 bertajuk Bahasa dan Sastra sebagai Diplomasi Budaya di Grha Sabha Pramana, Jumat (1/5/2026), bertepatan dengan peringatan Hari Buruh.

Alumnus Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada itu menilai wacana menutup program studi humaniora justru berpotensi melemahkan kemampuan berpikir kritis generasi sekaligus menggerus fondasi sosial budaya bangsa.

Menurut Okky, bahasa, sastra, dan budaya memiliki nilai ekonomi yang nyata bila dikelola sebagai kekuatan nasional.

“Korea memiliki bargaining position sehingga banyak kajian dan program studi yang mempelajarinya. K-Pop adalah salah satu contoh bagaimana distribusi dan promosi budaya berhasil menjadi penyokong utama ekonomi negara,” ujar Okky seperti dilansir laman UGM, dilihat pada Selasa (5/5/2026).

Budaya Bisa Jadi Mesin Ekonomi

Okky menilai Indonesia memiliki modal budaya yang jauh lebih kaya—mulai dari bahasa daerah, sastra lokal, musik tradisional, hingga ragam ekspresi budaya populer yang kini mulai mendapat tempat di ruang publik.

Baca Juga  Dosen UMM Ungkap Penyebab Dugaan Hubungan Menyimpang

Popularitas lagu Jawa, musik dari Indonesia Timur, hingga berbagai produk budaya lokal menunjukkan bahwa kekayaan budaya Nusantara memiliki daya tarik ekonomi sekaligus diplomasi yang besar.

Masalahnya, kata dia, bukan pada minimnya potensi, melainkan pada bagaimana produk budaya Indonesia dipromosikan secara luas dan konsisten ke panggung global.

Jika dikelola serius, budaya Indonesia bisa menjadi soft power yang memperkuat posisi negara dalam percaturan dunia sekaligus membuka pasar ekonomi kreatif yang bernilai tinggi.

Bahasa Harus Hidup, Bukan Dibekukan

Dalam sesi tanya jawab, Okky juga menanggapi keresahan soal degradasi penggunaan bahasa baku di media sosial. Ia justru melihat lahirnya kosakata baru sebagai tanda bahasa Indonesia hidup dan berkembang mengikuti perubahan zaman.

Menurutnya, bahasa tak seharusnya dibakukan secara kaku, sebab bahasa adalah cermin dinamika sosial.

“Bahasa di media sosial itu menggambarkan cara generasi hari ini berkomunikasi. Kamus Besar Bahasa Indonesia harus terus merekam kosakata baru, termasuk istilah-istilah yang diciptakan di media sosial. Kebaruan itulah bagian dari kekayaan bahasa,” katanya.

Ia menegaskan, penggunaan bahasa harus mengikuti konteks. Bahasa formal memiliki ruangnya sendiri dalam esai, karya ilmiah, atau tulisan resmi. Namun di media sosial, bahasa berkembang lebih cair, lebih akrab, dan lebih dekat dengan realitas penggunanya.

Baca Juga  Menteri Ekraf dan Menko PM Bahas Strategi Serap 1,2 Juta Tenaga Kerja Baru di Sektor Ekonomi Kreatif

“Kalau di media sosial, bahasa tidak harus baik dan benar. Setiap bahasa bisa dipakai di berbagai situasi dan kondisi, tergantung konteksnya,” tutup Okky.***