Ramadan Tinggal Hitungan Pekan, BNPB Kebut Pemulihan Bencana di Aceh–Sumatera

MAKLUMAT — Jelang 1 Ramadan 1447 Hijriah yang jatuh pada 18 Februari 2026, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memacu percepatan penanganan dan pemulihan bencana hidrometeorologi basah di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Hingga Jumat (16/1/2026), BNPB mencatat 1.198 orang meninggal dunia dan 144 orang masih dinyatakan hilang.

BNPB melaporkan penambahan korban meninggal dunia di Aceh sebanyak 8 orang. Di tengah duka dan kerusakan masif, 166.579 jiwa masih bertahan di pengungsian dan menunggu kepastian hunian layak sebelum bulan suci tiba.

“Target kami jelas. Percepatan pemulihan harus berjalan cepat agar masyarakat dapat menjalani Ramadan dalam kondisi yang lebih aman dan layak,” kata Abdul Muhari, Ph.D., Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, dalam keterangan tertulis yang dikutip Sabtu (17/1/2026).

BNPB bersama pemerintah daerah menggenjot pembangunan hunian sementara (huntara), membuka akses jalan dan jembatan, serta memulihkan kawasan permukiman. Pemerintah memprioritaskan wilayah dengan tingkat kerusakan terberat agar warga segera keluar dari pengungsian.

Di Kabupaten Aceh Utara, Satgas Yonzipur 5/ABW masih memasang jembatan Aramco dan Bailey untuk memulihkan konektivitas warga. Pada saat yang sama, tim gabungan TNI dan Polri membersihkan fasilitas publik agar aktivitas sosial dan ibadah kembali berjalan.

Pemenuhan kebutuhan dasar juga terus dikebut. Di Kabupaten Bener Meriah, perbaikan jaringan PDAM telah mencapai 80 persen per Kamis (15/1). BNPB menempatkan air bersih sebagai kebutuhan krusial menjelang Ramadan.

Baca Juga  Update Gempa NTT Terbaru: 111 Meninggal Dunia, 188.161 Orang Masih Mengungsi

Distribusi logistik terus meningkat. Sejak 29 November 2025 hingga 15 Januari 2026, BNPB menyalurkan 1.747,11 ton bantuan ke wilayah terdampak.
Di Aceh, distribusi udara mencapai 12 sorti seberat 11,9 ton, ditambah 4 truk via darat seberat 10,4 ton.
Di Sumatera Utara, bantuan tersalurkan 98,14 ton, terdiri dari 2,75 ton melalui udara dan 93,19 ton melalui jalur darat.

BNPB juga memacu pembangunan huntara bagi korban rumah rusak berat. Dari 50.668 unit rumah rusak berat, pemerintah mengajukan 27.860 unit huntara. Hingga pertengahan Januari 2026, 5.738 unit masih dalam proses pembangunan dan 781 unit telah selesai serta siap dihuni.
Untuk hunian tetap (huntap), pengajuan mencapai 10.273 unit, dengan 648 unit telah memasuki tahap konstruksi.

Skema Dana Tunggu Hunian (DTH) menjadi penopang warga selama masa transisi. Hingga pertengahan Januari 2026, pengajuan DTH mencapai 15.346 kepala keluarga. Dari jumlah tersebut, 10.717 rekening telah siap disalurkan. BNPB mencatat 2.695 kepala keluarga telah menerima bantuan, dengan tren penyaluran terus meningkat menjelang Ramadan.

Untuk menekan risiko bencana susulan, BNPB mengintensifkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Hingga 14 Januari 2026, BNPB melaksanakan 449 sorti OMC di Aceh dengan total bahan semai 431.600 kilogram.

Di Sumatera Utara, OMC dilakukan 368 sorti dengan bahan semai sekitar 322.000 kilogram, sementara di Sumatera Barat tercatat 384 sorti dengan total 381.325 kilogram.

Baca Juga  Bank Himbara Jemput Bola Salurkan Dana Tunggu Hunian Korban Bencana di Sumatera

“OMC kami arahkan untuk mengendalikan curah hujan agar upaya pemulihan jelang Ramadan tidak terganggu bencana susulan,” tegas Abdul Muhari.

BNPB memastikan koordinasi lintas kementerian, pemerintah daerah, TNI, Polri, relawan, dan masyarakat terus diperkuat. Pemerintah menargetkan fase tanggap darurat segera bergeser ke pemulihan awal agar masyarakat terdampak dapat menyambut Ramadan dalam kondisi aman dan bermartabat.

UGM Bangun Huntara dari Kayu yang Hanyut

Pembangunan huntara bagi penyintas banjir di Aceh juga terus diperluas seiring kebutuhan mendesak masyarakat untuk keluar dari tenda darurat. Berangkat dari pengalaman membangun 100 unit huntara, Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan inisiatif lanjutan dengan menyiapkan hingga 550 unit huntara berbasis pemanfaatan kayu hanyut.

Salah satu tim UGM, Ashar Saputra, mengungkapkan kebutuhan pembangunan 550 huntara berangkat dari kondisi riil kerusakan permukiman warga. Di Desa Geudumbak, sekitar 430 rumah rusak berat hingga hancur akibat banjir. Dari jumlah tersebut, 330 unit huntara direncanakan dibangun dengan dukungan BNPB, sementara 120 unit lainnya disiapkan untuk Aceh Tamiang dengan dukungan BNPB dan Kementerian Kehutanan.

“Inisiatif ini bertujuan memindahkan penyintas dari tenda darurat ke rumah yang lebih sehat, aman, dan layak untuk kehidupan keluarga,” ujar Ashar dikutip dari laman UGM, Kamis (15/1).

Baca Juga  Video Erupsi Gunung Anak Krakatau dari Atas Kapal Dipastikan Hoaks, Penyeberangan Merak-Bakauheni Tetap Normal

Dalam pelaksanaannya, UGM menggandeng Rumah Zakat sebagai donor sekaligus mitra pelaksana di lapangan. Skema kerja melibatkan warga terdampak sebagai tukang lokal, sehingga roda ekonomi mulai bergerak kembali.

Menurut Ashar, pemanfaatan kayu hanyut menjadi kunci percepatan pembangunan. Kayu yang segera diolah memiliki kualitas lebih baik dan dapat dimanfaatkan secara optimal. “Semakin cepat kayu diproses, semakin besar peluang material ini digunakan untuk hunian,” ujarnya.

Huntara berbasis kayu ini dirancang berukuran 6 x 6 meter, terdiri atas dua kamar tidur, ruang multifungsi, dan teras. Pembangunan satu unit rumah melibatkan enam orang dan ditargetkan rampung dalam empat hari setelah fase adaptasi lapangan.

Antusiasme warga menjadi faktor penting keberhasilan program. Setelah hampir 50 hari bertahan di tenda darurat, warga menyambut baik pembangunan huntara. Penentuan penerima dilakukan melalui rembuk gampong dengan mempertimbangkan lansia, ibu hamil, anak-anak, serta keluarga yatim dan piatu.

Di balik angka dan desain teknis, pembangunan huntara menyimpan kisah kemanusiaan. Salah satunya dialami Misran dan keluarganya. Saat banjir melanda, mereka bertahan selama tiga hari tiga malam di atas pohon sawit. Kini, rumah Misran telah selesai dibangun dan dihuni, sementara 18 unit lainnya masih dalam tahap pembangunan.

“Waktu itu kami hanya berusaha bertahan hidup. Sekarang kami sudah bisa kembali tinggal bersama keluarga di rumah yang lebih aman,” ujar Misran.***