Refleksi Iduladha: Apa yang Bisa Diceritakan dari Halal Sains?

Vritta Amroini Wahyudi

MAKLUMAT — Iduladha sangat identik dengan ibadah kurban. Di momen ini, umat Muslim melakukan penyembelihan hewan kurban sebagai wujud ketaatan kepada Allah Swt.

Menarik untuk kita telusuri lebih dalam: apa yang sebenarnya terjadi secara biologis ketika seekor hewan disembelih dengan cara yang benar? Dan apakah sains hari ini sudah bisa memverifikasinya?

Syarat Penyembelihan dalam Syariat

Dalam Islam, penyembelihan hewan memiliki syarat teknis yang sangat rinci. Allah Swt berfirman dalam QS. Al-Maidah ayat 3, yang menyebutkan bahwa diharamkan memakan bangkai, darah yang mengalir, serta hewan yang disembelih bukan atas nama Allah. Ayat ini menegaskan bahwa kehalalan daging bukan sekadar soal jenis hewannya, tetapi juga cara penyembelihannya.

Rasulullah Saw pun bersabda: “Sesungguhnya Allah mewajibkan ihsan atas segala sesuatu. Apabila kamu menyembelih, maka sembelihlah dengan baik.” (HR. Muslim)

Para ulama merumuskan bahwa penyembelihan yang sah mensyaratkan terputusnya minimal tiga dari empat saluran utama di leher hewan: hulqum (saluran napas), mari’ (saluran makanan), dan wadajain (dua pembuluh darah besar). Penyembelihan juga harus dilakukan cepat dengan pisau tajam, agar darah keluar secara maksimal dan hewan tidak mengalami penderitaan berkepanjangan.

Baca Juga  Spirit Teologi Al-Ma’un: Transformasi Pendidikan sebagai Investasi Strategis Bangsa

Ketika syarat ini terpenuhi, darah keluar dari jaringan otot secara optimal, daging yang dihasilkan bersih, dan proses penyembelihan dinyatakan sah secara syar’i. Jika saluran-saluran itu tidak terputus dengan sempurna, statusnya berbeda secara fikih, dan di sinilah sains mulai punya cerita menarik untuk disampaikan.

Halal Sains dan Verifikasi Penyembelihan

Begitu daging sudah dipotong-potong dan dibagikan, atau daging-daging yang tiba di pasar atau rak supermarket, kita tidak bisa lagi melihat “bagaimana” hewan itu disembelih hanya dari tampilan fisiknya. Semua irisan daging terlihat serupa.

Metode pengujian halal yang paling umum digunakan di laboratorium saat ini adalah analisis DNA dengan teknik Polymerase Chain Reaction (PCR). Metode ini sangat andal untuk menjawab pertanyaan “apa”. Misalnya, apakah suatu produk mengandung daging atau unsur babi, atau apakah spesies yang tercantum di label sesuai isinya. Namun PCR memiliki keterbatasan dalam menjawab pertanyaan “bagaimana”. Secara genetik, DNA dari hewan yang disembelih dengan sempurna dan yang penyembelihannya tidak tuntas adalah identik.

Inilah yang mendorong para peneliti untuk mencari pendekatan baru. Fokusnya bergeser pada pencarian biomarkers, penanda biologis yang bisa membedakan kondisi jaringan daging berdasarkan cara penyembelihannya.

Baca Juga  Karhutla dan Jalan Ekoteologi Muhammadiyah

Sebuah studi yang dipublikasikan di Journal of the Science of Food and Agriculture (2024) menemukan bahwa penyembelihan yang berbeda menghasilkan pola protein yang berbeda pula pada jaringan daging, termasuk perubahan pada enzim glyceraldehyde-3-phosphate dehydrogenase dan l-lactate dehydrogenase yang berkorelasi dengan tingkat stres pada hewan.

Studi lain pada tahun 2023, yang membandingkan beberapa metode penyembelihan pada sapi menggunakan parameter biologis seperti glukosa, kortisol, lactate dehydrogenase (LDH), dan creatine kinase (CK) menunjukkan bahwa cara penyembelihan berpengaruh nyata terhadap profil biokimia darah dan kualitas mikrobiologis daging yang dihasilkan.

Temuan-temuan ini menarik karena menunjukkan bahwa cara penyembelihan meninggalkan “jejak” yang bisa dibaca secara ilmiah. Kortisol, hormon yang dilepaskan tubuh saat mengalami tekanan, kadarnya berbeda tergantung bagaimana proses penyembelihan berlangsung. Begitu pula LDH, enzim yang bekerja seperti “alarm” sel ketika jaringan mengalami kerusakan. Ketika penyembelihan dilakukan dengan cepat dan tepat sesuai syariat, profil kedua penanda ini berbeda secara signifikan dibandingkan penyembelihan yang tidak tuntas. Artinya, tubuh hewan sendiri yang “mencatat” bagaimana ia disembelih, dan sains kini mulai bisa membacanya.

Halal Sains mendukung Islam Berkemajuan

Riset terkait ini masih terus berkembang. Halal sains memberikan kesempatan di masa mendatang untuk menjembatani apa yang dibutuhkan masyarakat melalui data laboratorium yang mendukung Islam Berkemajuan.

Baca Juga  Tulis Opini di Media Internasional, Prabowo Paparkan Pandangan Soal Kualitas Hidup Rakyat

Kembali lagi, momentum Iduladha mengajarkan kita bahwa ibadah yang baik memerlukan niat dan kesungguhan dalam prosesnya. Nabi Ibrahim As tidak sekadar menerima perintah, beliau menjalankannya dengan sepenuh hati, dengan persiapan, dan dengan ketelitian. Semangat itulah yang relevan ketika kita berbicara tentang halal sains.

Memahami ilmu di balik penyembelihan yang sah adalah bagian dari tanggung jawab kita sebagai umat Muslim di era modern. Pertanyaan “apakah ini benar-benar halal?” akan semakin menguatkan iman dengan fikih dan bukti ilmiah.

Semakin banyak ilmuwan, termasuk keberlanjutan dari generasi muda yang mau mendalami halal sains, semakin kuat fondasi ilmiah dibangun, semakin kokoh pula jaminan halal yang bisa diwariskan. Dari laboratorium, hingga ke meja makan, halal sains memperkuat keimanan generasi berikutnya.