MAKLUMAT — Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional, Prof Dr Sudarnoto Abdul Hakim MA, meminta penjelasan transparan penyelenggara konser “Til The Whole World Knows Tour 2026“, yang menurut rencana bakal dilaksanakan di Jakarta pada 24 Oktober nanti.
Til The Whole World Knows sendiri merupakan konser tour grup musik rohani kontemporer Amerika Serikat, Israel & New Breed, yang dipimipin Israel Houghton.
Sudarnoto menduga, konser tersebut memiliki keterkaitan dengan dukungan terhadap Zionis Israel. Jejak digital lama Israel Houghton pada Oktober 2023 juga kembali viral, terkait pernyataan dukungan politik terhadap Israel yang bertuliskan “I pray for the peace of Jerusalem. I stand with Israel” dan disertai emoji bendera Israel.
“Informasi yang berkembang di tengah masyarakat menimbulkan keresahan, karena adanya dugaan bahwa kegiatan tersebut memiliki keterkaitan dengan dukungan terhadap Israel, dan bahkan dikaitkan dengan agenda Christian Zionism,” sorot Sudarnoto.
Ia mendesak penyelenggara dan pihak-pihak terkait untuk memberikan penjelasan secara secara terbuka dan menyeluruh soal konser tersebut.
“Saya memandang bahwa informasi tersebut perlu segera mendapatkan penjelasan yang terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan dari pihak penyelenggara,” desaknya.
Ia menegaskan, pemerintah harus memberikan perhatian serius terhadap konser tersebut, apabila benar-benar membawa atau menyisipkan agenda promosi dukungan terhadap Israel.
“Saya tidak ingin membangun sikap berdasarkan rumor atau informasi yang belum terverifikasi. Namun, apabila benar bahwa konser tersebut membawa, mempromosikan, atau menjadi bagian dari agenda dukungan terhadap Israel, maka hal tersebut patut mendapat perhatian serius dari pemerintah dan masyarakat Indonesia,” tandas Sudarnoto.
Sikap dan Posisi Indonesia terhadap Palestina
Lebih lanjut, Sudarnoto menegaskan bahwa sikap dan posisi Indonesia sampai saat ini sangat tegas dalam kaitannya terhadap persoalan Palestina-Israel. Indonesia, kata dia, secara konsisten mendukung kemerdekaan Palestina. Di sisi lain, Indonesia sampai saat ini juga tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.
“Sikap ini bukan semata-mata persoalan agama, melainkan bagian dari politik luar negeri Indonesia yang berakar pada prinsip anti-penjajahan dan penghormatan terhadap kemanusiaan,” tegas sosok yang juga merupakan President the Asia Pacific Coalition for al-Quds and Palestine (APC-AP) itu.
“Pembukaan UUD 1945 menegaskan bahwa “kemerdekaan ialah hak segala bangsa” dan bahwa “penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”,” sambung Sudarnoto.
Sebab itu, pemerintah dan masyarakat Indonesia menurut Sudarnoto memiliki alasan yang kuat untuk bersikap kritis terhadap setiap kegiatan di Indonesia yang diduga digunakan untuk membangun legitimasi, normalisasi, atau dukungan terhadap Israel.
“Pemerintah Indonesia sendiri hingga kini tetap menegaskan dukungannya terhadap hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri dan berdirinya Negara Palestina yang merdeka dan berdaulat,” tambahnya.
Komitmen Kemanusiaan dan Kebangsaan yang Kuat
Sudarnoto menilai, dukungan masyarakat Indonesia terhadap Palestina merupakan komitmen kemanusiaan dan kebangsaan yang sangat kuat.
Dukungan tersebut, kata dia, telah berlangsung sejak awal kemerdekaan Indonesia dan terus dinyatakan dalam berbagai forum internasional maupun melalui bantuan kemanusiaan.
“Karena itu, setiap upaya yang diduga menggunakan kegiatan kebudayaan, musik, keagamaan, atau bentuk kegiatan publik lainnya untuk menyisipkan dukungan terhadap Israel tentu berpotensi menimbulkan keresahan dan kontroversi di tengah masyarakat,” terangnya.
Bukan Hanya Soal Pertunjukan Musik
Sudarnoto mengingatkan bahwa apabila benar terdapat agenda dukungan terhadap Israel di balik konser tersebut, maka persoalan bukan hanya menyangkut kebebasan menyelenggarakan pertunjukan musik.
Ia menilai, dalam situasi masyarakat Indonesia yang memiliki solidaritas sangat kuat terhadap Palestina, kegiatan semacam itu berpotensi menimbulkan ketegangan sosial dan gangguan keamanan.
“Bahkan, apabila konser ini dikaitkan dengan agenda Christian Zionism sebagaimana yang juga tersebar di media sosial, persoalan tersebut dapat berkembang menjadi kesalahpahaman yang lebih luas dan berpotensi mengganggu hubungan antarumat beragama,” katanya.
“Berhati-hatilah, jangan sampai ada Upaya dari pihak manapun yang berusaha membenturkan agama-agama dengan cara apapun,” tegas sosok yang juga Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.
Sebab itu, Sudarnoto kembali meminta pihak penyelenggara dan elemen-elemen terkait lainnya untuk segera memberikan klarifikasi dan penjelasan secara terbuka mengenai rencana konser tersebut.
Menurutnya, keterbukaan sangat penting agar masyarakat tidak terus berada dalam ketidakpastian dan agar tidak berkembang berbagai spekulasi yang justru dapat memperkeruh keadaan.
“Siapa penyelenggaranya, siapa yang terlibat, apa tujuan kegiatan, siapa artis yang tampil, bagaimana bentuk kerja sama yang dilakukan, serta apakah terdapat keterkaitan dengan organisasi, jaringan, kampanye, atau agenda politik yang mendukung Israel?” sorot Sudarnoto.
Minta Aparat Lakukan Pemantauan Serius
Tak cuma itu, Sudarnoto juga mendorong Polri dan aparat terkait untuk turut melakukan pemantauan secara serius terhadap rencana konser tersebut.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa pemantauan bukan dimaksudkan untuk mengganggu kebebasan masyarakat dalam berekspresi dan menjalankan kegiatan keagamaan, tetapi untuk memastikan bahwa suatu kegiatan publik tidak menjadi sarana propaganda politik asing apalagi propaganda zionisme, tidak menimbulkan gangguan keamanan, dan tidak memicu konflik sosial maupun antarumat beragama.
“Apabila setelah dilakukan verifikasi ternyata benar bahwa konser tersebut merupakan bagian dari kegiatan yang secara nyata memberikan dukungan atau legitimasi kepada Israel, maka pemerintah perlu melakukan langkah afirmatif tidak memberikan izin atau menghentikan penyelenggaraannya sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku, demi menjaga ketertiban umum, keamanan masyarakat, serta mencegah munculnya konflik horizontal,” tandasnya.
Lebih jauh, Sudarnoto juga menyerukan kepada masyarakat agar tetap tenang, namun juga tetap bersikap kritis terhadap persoalan tersebut.
Perjuangan membela Palestina, lanjutnya, harus tetap ditempatkan dalam kerangka kemanusiaan, keadilan, anti-penjajahan, penghormatan terhadap hukum internasional, serta komitmen menjaga persatuan bangsa Indonesia.
Namun, jika benar bahwa konser tersebut turut memuat agenda dukungan terhadap Israel, Sudarnoto menyerukan kepada masyarakat untuk melakukan aksi boikot secara damai.
“Jika benar konser tersebut membawa agenda dukungan terhadap Israel, maka saya menyerukan kepada masyarakat untuk melakukan aksi boikot secara damai dan konstitusional terhadap konser tersebut, dan bahkan terhadap semua upaya normalisasi hubungan diplomatik Israel-Indonesia yang dilakukan oleh siapa pun,” pungkas Sudarnoto.***
*) Penulis: Ubay NA












