MAKLUMAT — Guru Besar Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ridho Al-Hamdi menyebut bahwa tren disfungsi dan malfungsi partai politik tidak hanya terjadi di Indonesia.
Guru Besar di bidang kepakaran Partai Politik dan Sistem Kepartaian itu menyebut bahwa tren ini juga eksis di negara-negara kawasan Selatan Global.
Ia menyampaikan hal itu saat membacakan orasi ilmiah dalam Rapat Senat Terbuka di Gedung AR Fachruddin B Lt. 5 UMY, Kamis (16/4/2026), dengan tajuk Dis(mal)fungsi Partai Politik: Tren Selatan Global dan Model Pelembagaan Sistem Kepartaian.
“Orasi ilmiah ini hendak menegaskan hipotesa ‘Dis(mal)fungsi Partai Politik’ sebagai tren global di negara-negara demokrasi terutama negara yang berada pada kawasan Selatan Global, termasuk Indonesia di dalamnya,” ujarnya.
Dalam paparannya, Ridho menjelaskan bahwa istilah Selatan Global tidak sekadar merujuk pada letak geografis negara-negara di belahan bumi selatan, seperti Afrika, Asia, Amerika Latin, dan Karibia.
Istilah itu juga menggambarkan kondisi ekonomi, sosial, dan politik negara-negara tersebut, yang umumnya memiliki karakter sebagai negara berkembang, kaya sumber daya alam, berpopulasi besar, serta memiliki pengalaman sejarah kolonial.
“Dis(mal)fungsi menunjukkan dua makna: disfungsi dan malfungsi. Dua kata ini bisa terjadi secara terpisah tetapi bisa terjadi secara bersamaan,” ujarnya.
Ridho menguraikan, disfungsi terjadi ketika partai politik masih menjalankan perannya, tetapi tidak optimal.
Sementara itu, malfungsi menggambarkan kondisi ketika fungsi utama partai tidak lagi berjalan sebagaimana mestinya, atau bahkan tidak diinginkan oleh pemilih.
Ridho menyebut bahwa malfungsi merupakan kondisi yang lebih serius dibandingkan disfungsi.
“Dalam perkembangan mutakhir, pelembagaan sistem kepartaian yang buruk menjadi tren global di mayoritas negara-negara demokrasi Selatan Global,” ujarnya.
Ridho menilai lemahnya pelembagaan itu juga terlihat dari hubungan ideologis antara partai dan pemilih yang semakin renggang.
Di banyak negara Selatan Global, relasi politik cenderung bersifat personalistik, di mana kedekatan kandidat dengan pemilih lebih dominan dibandingkan ikatan ideologi partai.
“Meskipun sistem kepartaian di Indonesia cenderung terlembaga lebih baik dibandingkan negara-negara Selatan Global yang lain seperti Amerika Selatan, Asia, Timur Tengah, dan Eropa Timur, pelembagaan sistem kepartaian di Indonesia mengalami pelemahan secara perlahan-lahan,” tegasnya.














