Ridwan Hisjam Ingatkan Golkar Kembali ke Jati Diri, Tolak Politik Pragmatis

Ridwan Hisjam

MAKLUMAT – Politisi Senior Partai Golkar HM Ridwan Hisjam mengingatkan partai berlambang pohon beringin itu untuk kembali ke jati diri sebagai partai kader, dan partai karya. Hal ini perlu dilakukan agar tidak terjebak politik pragmatis menjelang kontestasi politik 2029.

“ Fase pasca-Pemilu 2024 menjadi momentum penting untuk menata ulang arah politik partai sekaligus memperkuat ideologi dan regenerasi kepemimpinan,” kata Ridwan kepada maklumat.id, Sabtu (8/8/2026)

Dalam pandangannya, Golkar kini berada di persimpangan antara mempertahankan orientasi ideologis atau terjebak pada kepentingan politik jangka pendek. Karena itu, seluruh elemen partai didorong kembali membangun kekuatan organisasi yang bertumpu pada sistem, bukan semata figur.

“Golkar sedang berada di persimpangan antara pragmatisme dan penguatan ideologi,” tegas Mantan Ketua DPD Partai Golkar Jatim itu.

Ridwan menilai kekuatan sejati Golkar lahir dari kerja politik yang terstruktur, konsisten, dan berakar kuat di tengah masyarakat. Karena itu, partai tidak boleh hanya mengandalkan elektabilitas elite atau kedekatan dengan kekuasaan.

Anggota DPR RI lima periode itu juga mengingatkan agar Golkar tidak kehilangan arah akibat jebakan pragmatisme yang hanya mengejar keuntungan politik sesaat.

Baca Juga  Partai Golkar Siap Pecahkan Rekor MURI dengan Senam Massal Serentak di Seluruh Indonesia

“Golkar jangan terjebak politik pragmatis jangka pendek,” tandas Ridwan yang juga dikenal sebagai pengusaha sukses ini.

Selain menguatkan ideologi, ia mendorong regenerasi kepemimpinan berjalan lebih terbuka. Organisasi pendiri dan sayap partai harus memperoleh ruang strategis dalam proses pengambilan keputusan politik.

Menurutnya, dinamika internal justru menjadi tanda sehat bagi partai besar seperti Golkar. Perbedaan pandangan tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman, melainkan menjadi ruang evaluasi untuk memperkuat organisasi menghadapi tantangan politik ke depan.

Ia menyadari pandangannya kerap memunculkan dua perspektif. Sebagian kader menganggapnya sebagai suara yang mengganggu, sementara pihak lain melihatnya sebagai alarm politik yang mengingatkan partai agar tetap berada di jalur kepentingan jangka panjang.

Pada akhirnya, Ridwan menegaskan dinamika merupakan nyawa organisasi. Selama Golkar tetap menjadi salah satu kekuatan politik nasional, proses kritik, regenerasi, dan konsolidasi harus terus berjalan.

Golkar Dihadapkan pada Pilihan Besar

Pesan yang disampaikan Ridwan Hisjam menunjukkan adanya dorongan agar Golkar tidak hanya berorientasi pada kemenangan elektoral. Fokus terhadap penguatan ideologi, kaderisasi, serta regenerasi kepemimpinan menjadi sinyal bahwa tantangan terbesar partai menjelang 2029 bukan hanya soal mencari figur populer, melainkan menjaga identitas sebagai partai kader.

Baca Juga  Johan Budi: Jokowi Tolak Revisi UU KPK pada 2017–2018

Jika konsolidasi organisasi mampu berjalan seiring regenerasi, Golkar berpeluang mempertahankan posisinya sebagai salah satu partai besar nasional. Sebaliknya, dominasi politik pragmatis berisiko melemahkan karakter dan daya tahan organisasi dalam jangka panjang.