MAKLUMAT — Rumah itu telah berdiri lebih dari satu abad. Tiangnya kuat. Dindingnya dibangun oleh pengorbanan.
Di dalamnya tumbuh sekolah, rumah sakit, perguruan tinggi, panti asuhan, hingga berbagai amal usaha yang menjadi penanda bahwa rumah itu tidak pernah hidup untuk dirinya sendiri.
Rumah itu bernama Muhammadiyah.
Ia terlalu besar untuk disebut sebuah organisasi massa. Sebagian orang menyebutnya “seperti” negara dalam negara.
Tetapi belakangan saya sering memikirkan satu hal sederhana: siapa yang sedang duduk di bangku-bangku di dalam rumah itu?
Pertanyaan ini penting karena sebuah organisasi, sebesar apa pun, tidak hanya ditentukan oleh kokohnya bangunan. Ia juga ditentukan oleh perputaran (kaderisasi) orang-orang di dalamnya.
Di banyak struktur, tidak sedikit pimpinan yang duduk di beberapa kursi sekaligus. Ia menjadi pimpinan persyarikatan, lalu memimpin amal usaha.
Di tempat lain, ia kembali menduduki jabatan strategis. Kadang bukan karena tidak ada orang lain yang mampu.
Melainkan karena kita terlalu lama percaya bahwa hanya orang-orang tertentu yang bisa.
Maka, satu orang memegang banyak pintu. Sementara di luar pintu, kader-kader menunggu.
Mereka datang dengan pengalaman, pendidikan, tenaga, dan gagasan. Sebagian telah lama berproses di organisasi otonom.
Sebagian memiliki kemampuan profesional yang mungkin lebih sesuai dengan tantangan zaman. Tetapi jalan ke ruang pengabdian tidak selalu terbuka.
Ada yang akhirnya memilih diam. Ada yang menunggu. Ada pula yang pergi.
Yang paling menyedihkan bukan ketika kader meninggalkan Muhammadiyah. Yang lebih menyedihkan adalah ketika mereka tetap berada di dalamnya, tetapi tidak lagi memiliki ruang untuk tumbuh.
Saya menyebutnya kader yang menganggur di rumah sendiri.
Bangku
Masalahnya mungkin bukan semata-mata rangkap jabatan. Ada keadaan tertentu ketika seseorang memang dibutuhkan di beberapa tempat.
Muhammadiyah tentu tidak bisa menutup mata terhadap pengalaman, kapasitas, dan kebutuhan organisasi.
Namun, ketika rangkap jabatan berubah menjadi kebiasaan, kita perlu berhenti sejenak. Dan perlu me-review kembali perjalanan sejarah Kiai Dahlan dan orang-orang di sebelah kiri dan kanannya (sebagian orang menyebut kader “kintilan”, baca: pengikut setia, yang siap meneruskan kepemimpinan Kiai Dahlan).
Sebab, sebuah jabatan, bagaimanapun, bukan warisan.
Ia adalah amanat.
Dan amanat seharusnya tidak hanya berbicara tentang siapa yang paling layak mendudukinya, tetapi juga tentang siapa yang harus disiapkan untuk menggantikannya.
Di sinilah regenerasi sering menjadi kata yang indah dalam pidato, tetapi belum tentu menjadi kenyataan dalam struktur.
Kita berbicara tentang kaderisasi. Kita menyelenggarakan Baitul Arqam, Darul Arqam, sekolah kader, pelatihan kepemimpinan, dan berbagai forum penguatan ideologi.
Kita melahirkan banyak orang muda dengan gagasan segar.
Tetapi setelah itu, mereka hendak ditempatkan di mana?
Jika semua bangku sudah terlalu lama diduduki, kaderisasi hanya akan menghasilkan antrean.
Kader-kader muda diajari untuk memimpin, tetapi tidak diberi kesempatan memimpin.
Mereka diminta berinisiatif, tetapi ruang untuk mengambil keputusan terbatas.
Mereka diminta memiliki visi, tetapi terlalu sering hanya diminta melaksanakan visi yang sudah dibuat orang lain.
Lama-lama, visi itu bisa tumpul.
Bukan karena kader tidak memiliki kemampuan. Tetapi karena terlalu lama melihat pintu yang tidak kunjung terbuka.
Rumah yang Besar
Muhammadiyah sesungguhnya terlalu besar untuk bergantung pada sedikit orang.
Dengan ribuan amal usaha, jaringan pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, dan dakwah yang luas, Muhammadiyah membutuhkan distribusi kepemimpinan yang lebih sehat.
Tidak mungkin semua persoalan diselesaikan oleh orang-orang yang sama.
Organisasi yang sehat bukan organisasi yang memiliki banyak tokoh hebat.
Organisasi yang sehat adalah organisasi yang terus mampu melahirkan tokoh baru.
Sebab, regenerasi bukan berarti menyingkirkan generasi lama. Ia justru cara terbaik untuk menghormati mereka.
Generasi yang lebih senior memiliki pengalaman. Generasi berikutnya membawa energi, perspektif baru, dan kemampuan membaca zaman. Keduanya tidak perlu saling meniadakan.
Masalah muncul ketika pengalaman berubah menjadi monopoli.
Ketika kesempatan hanya berputar di lingkungan yang sama.
Ketika jabatan tidak lagi dipandang sebagai estafet, melainkan sebagai kursi yang harus dipertahankan selama mungkin.
Padahal, dalam sebuah gerakan pembaruan, pergantian bukan ancaman.
Ia adalah tanda kehidupan.
Air yang tidak mengalir akan menggenang. Pikiran yang tidak diperbarui akan kehilangan daya kritis.
Kepemimpinan yang tidak memberi ruang regenerasi, pelan-pelan dapat membuat organisasi besar kehilangan kelincahannya.
Muhammadiyah lahir dari keberanian untuk memperbarui.
Maka, pembaruan seharusnya juga terjadi di dalam dirinya sendiri.
Kader
Barangkali sudah waktunya Muhammadiyah melakukan pembacaan ulang terhadap distribusi kepemimpinan.
Bukan dengan menciptakan pertentangan antara yang tua dan yang muda.
Bukan pula dengan menyingkirkan mereka yang telah berjasa.
Tetapi dengan mengajukan pertanyaan sederhana: apakah setiap jabatan yang kita pegang juga telah melahirkan orang yang siap menggantikan kita?
Jika jawabannya belum, mungkin ada yang belum selesai.
Sebab, kepemimpinan bukan hanya tentang keberhasilan menjalankan amanat.
Kepemimpinan juga tentang keberanian menyiapkan orang lain untuk mengambil alih amanat itu.
Pada akhirnya, Muhammadiyah tidak kekurangan kader.
Yang mungkin perlu diperbaiki adalah keberanian membuka ruang.
Jangan sampai kita terus sibuk mencari kader unggul, tetapi ketika mereka datang, bangkunya sudah penuh.
Jangan sampai kita bangga memiliki sekolah kader, tetapi lulusannya hanya menjadi penonton dari pinggir lapangan.
Dan jangan sampai sebuah gerakan yang sejak awal dibangun untuk membuka jalan justru tanpa sadar menciptakan terlalu banyak pintu yang tertutup.
Sebab, sebuah rumah besar tidak akan kekurangan penghuni.
Yang perlu dijaga adalah agar jangan sampai orang-orang yang tinggal di dalamnya kehilangan kesempatan untuk memiliki kamar, membuka jendela, dan melihat masa depan dengan mata mereka sendiri.
Barangkali, sudah waktunya sebagian dari kita belajar berdiri.
Agar kader-kader lain mendapat kesempatan duduk.
Dan agar Muhammadiyah tetap bergerak.
Sementara genderang transformasi kepemimpinan sudah ditabuh.
Adalah Profesor Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, pada momen Jambore Media Afiliasi Muhammadiyah #3 di Aula Cendekia Universitas Muhammadiyah Jakarta, 13 Agustus 2026 lalu, mengatakan:
“Catat para wartawan media AfiliasiMu, dan semua hadirin di ruangan ini, sepertinya saya sudah cukup untuk mengantarkan Muhammadiyah dalam dua periode,” jelasnya.
Prof. Haedar juga mengatakan, “Biarkan saya kembali ke habitat awal, sebagai wartawan, dan izinkan saya untuk tetap menjadi pemimpin redaksi di Suara Muhammadiyah.”
Dan transformasi kaderisasi itu—kita tunggu di Muktamar 49.
- *) Catatan Menjelang Muktamar Muhammadiyah Ke-49 di Medan Sumatera Utara, November 2027.
- *) Penulis adalah Wartawan Maklumat.id











