MAKLUMAT – Innalillahiwainnailaihirojiun. Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya. Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu, mantan Menteri Pertahanan RI periode 2014–2019, meninggal dunia pada Ahad (31/5/2026).
Kepergian perwira tinggi TNI Angkatan Darat yang dikenal sebagai “jenderal tempur” itu meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, prajurit TNI, hingga para tokoh bangsa yang pernah bekerja sama dengannya.
Sebagai penghormatan atas jasa dan pengabdiannya kepada negara, Ryamizard akan dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata, Jakarta Selatan, Senin (1/6/2026).
Sebelum dimakamkan, jenazah almarhum disemayamkan terlebih dahulu di Kementerian Pertahanan. Upacara persemayaman berlangsung di depan Aula Bhinneka Tunggal Ika (BTI) Kemhan mulai pukul 07.30 WIB dan dipimpin Wakil Menteri Pertahanan sebagai inspektur upacara.
Selanjutnya, upacara pelepasan jenazah dijadwalkan berlangsung pukul 11.00 WIB sebelum diberangkatkan menuju TMP Kalibata. Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin, akan memimpin langsung prosesi pemakaman militer sebagai bentuk penghormatan negara. Sedangkan Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan menghadiri pemakaman teman satu angkatan di Akabri 1974 itu.
Dalam keterangan resminya, Kementerian Pertahanan menyebut Ryamizard sebagai sosok pemimpin yang memiliki dedikasi tinggi, keteguhan prinsip, serta kecintaan yang besar terhadap Tanah Air.
Selama puluhan tahun mengabdi sebagai prajurit hingga pejabat negara, Ryamizard dinilai memberikan kontribusi besar dalam menjaga kedaulatan negara dan memperkuat sistem pertahanan nasional.
“Berbagai pemikiran, kebijakan, dan pengabdiannya akan selalu menjadi bagian dari perjalanan Kementerian Pertahanan dalam menjaga kedaulatan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” demikian keterangan Kemhan.
Jenderal Garis Depan
Nama Ryamizard Ryacudu bukan sosok asing di lingkungan militer. Lulusan Akademi Militer 1974 itu dikenal sebagai komandan lapangan yang kerap berada di garis depan bersama anak buahnya.
Salah satu kisah yang paling dikenang terjadi saat dirinya memimpin Kontingen Garuda XII-B dalam misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Kamboja pada 1992.
Ketika wilayah penugasan pasukan Indonesia dikepung kelompok Khmer Merah yang dikenal keras dan brutal, Ryamizard mengambil langkah berani. Ia mendatangi markas kelompok tersebut tanpa membawa senjata.
Langkah diplomasi langsung itu berhasil meredakan ketegangan dan mencegah pertumpahan darah. Keberhasilan tersebut menjadi salah satu catatan penting dalam sejarah misi perdamaian Indonesia di luar negeri.
Sebelumnya, saat masih menjadi perwira muda, Ryamizard juga pernah mengalami pertempuran jarak dekat melawan Pasukan Rakyat Kalimantan Utara (Paraku) di perbatasan Indonesia-Malaysia.
Dalam salah satu kontak senjata, ia nyaris tertembak dari jarak sekitar empat meter. Namun, berkat ketenangan dan kemampuan tempurnya, Ryamizard berhasil lolos dari maut sekaligus membalikkan keadaan.
Karier militernya kemudian terus menanjak. Ia pernah memimpin berbagai operasi penting, mulai dari Timor Timur, Aceh, hingga dipercaya menjadi Pangdam Jaya pada masa transisi politik pasca-Reformasi yang penuh gejolak.
Ketegasan dan sikapnya yang dikenal lugas membuat Ryamizard menjadi salah satu tokoh militer yang disegani, baik di dalam maupun luar negeri.
Muhammadiyah Berduka
Duka atas wafatnya Ryamizard juga disampaikan Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengenang almarhum sebagai sosok yang memiliki komitmen kuat terhadap nilai-nilai kebangsaan, persatuan, dan keutuhan NKRI.
“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal kebaikan almarhum dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya,” ujar Haedar.
Menurut Haedar, integritas dan dedikasi Ryamizard dalam mengabdi kepada bangsa dan negara menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya sebagai prajurit dan negarawan.
Haedar juga mengungkapkan bahwa semasa hidupnya, Ryamizard beberapa kali berkunjung ke Kantor PP Muhammadiyah untuk berdiskusi mengenai berbagai isu strategis kebangsaan serta upaya memperkuat persatuan nasional.
“Beliau memiliki perhatian besar terhadap kehidupan masyarakat dan selalu menjalin komunikasi dengan berbagai elemen bangsa,” katanya.
Haedar berharap keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan dalam menghadapi kehilangan tersebut.
Kepergian Ryamizard Ryacudu menutup perjalanan panjang seorang prajurit yang mengabdikan hidupnya untuk negara. Namun jejak pengabdian, keberanian, dan dedikasinya akan tetap tercatat dalam sejarah pertahanan Indonesia.***













