MAKLUMAT — Di tengah tekanan inflasi, penurunan daya beli masyarakat, dan ancaman musim kemarau yang lebih panjang, desa kembali membuktikan dirinya sebagai benteng ketahanan ekonomi Indonesia. Ketika sektor lain mengalami perlambatan, pertanian dan peternakan justru menjadi penyangga utama kehidupan jutaan keluarga. Namun, di balik optimisme tersebut, terdapat ironi yang tidak boleh diabaikan. Saat harga sejumlah komoditas pertanian mulai menguat, banyak peternak rakyat justru menghadapi masa-masa paling sulit.
Fenomena ini perlu mendapat perhatian serius karena pertanian dan peternakan bukanlah dua sektor yang berdiri sendiri. Keduanya merupakan satu kesatuan ekosistem ekonomi pedesaan. Jika salah satunya melemah, maka ketahanan desa secara keseluruhan ikut terancam.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada paruh pertama 2026 menunjukkan sektor pertanian masih memberikan kontribusi besar terhadap perekonomian nasional. Di saat yang sama, pemerintah juga mencatat pertumbuhan subsektor peternakan yang cukup tinggi. Sayangnya, angka makro tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kondisi riil yang dihadapi peternak kecil di lapangan.
Memasuki pertengahan 2026, banyak peternak sapi, kambing, maupun unggas menghadapi situasi yang paradoks. Biaya produksi terus meningkat akibat mahalnya pakan, sementara harga jual ternak justru mengalami penurunan. Musim kemarau menyebabkan hijauan pakan semakin sulit diperoleh. Rumput mengering, limbah pertanian berkurang, dan harga bahan pakan alternatif ikut naik. Pada saat yang sama, permintaan pasar melemah setelah berakhirnya momentum Iduladha sehingga harga ternak jatuh.
Kondisi tersebut mendorong sebagian peternak melakukan distress selling, yakni menjual ternaknya bukan karena memperoleh keuntungan, melainkan untuk menutup biaya operasional atau memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Jika keadaan ini terus berlangsung, peternak kehilangan aset produktif yang selama ini menjadi tabungan keluarga.
Padahal, dalam sistem ekonomi pedesaan, ternak memiliki fungsi yang jauh melampaui nilai jualnya. Sapi, kambing, dan domba merupakan sumber pupuk organik, cadangan modal, hingga penyangga pendapatan ketika hasil panen belum dapat dipasarkan. Kehilangan ternak berarti mengurangi daya tahan ekonomi rumah tangga petani.
Karena itu, pendekatan pembangunan desa tidak lagi cukup jika hanya berfokus pada peningkatan produksi tanaman pangan. Yang dibutuhkan adalah penguatan sistem pertanian terpadu (integrated farming) yang menghubungkan usaha tani dengan peternakan secara berkelanjutan.
Konsep ini sesungguhnya bukan gagasan baru. Limbah tanaman seperti jerami padi, tebon jagung, dan batang pisang dapat diolah menjadi pakan fermentasi yang bernilai gizi lebih tinggi. Sebaliknya, kotoran ternak dapat dimanfaatkan menjadi pupuk organik yang mampu mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia yang semakin mahal.
Model tersebut menghadirkan siklus ekonomi yang saling menguatkan. Biaya produksi dapat ditekan, limbah pertanian memiliki nilai tambah, produktivitas lahan meningkat, dan peternak memiliki cadangan pakan ketika musim kemarau datang. Dalam kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian, sistem seperti inilah yang mampu meningkatkan resiliensi desa.
Di wilayah pedesaan seperti Kabupaten Pacitan, pendekatan ini sangat relevan. Potensi tanaman pangan, jagung, singkong, serta peternakan rakyat sebenarnya dapat dikembangkan secara lebih terpadu melalui pendampingan kelompok tani, kelompok ternak, dan pemerintah desa. Yang diperlukan bukan hanya bantuan sesaat, melainkan transformasi cara berpikir bahwa pertanian dan peternakan harus dibangun sebagai satu ekosistem.
Pemerintah memang telah mendorong berbagai program modernisasi pertanian dan pengembangan bank pakan. Namun implementasinya perlu diperkuat hingga tingkat desa. Pelatihan pembuatan silase, fermentasi jerami, budidaya rumput pakan tahan kering, hingga penguatan koperasi petani-peternak perlu diperluas agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.
Selain itu, penguatan kelembagaan ekonomi desa menjadi faktor penting. Koperasi, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), maupun kelompok tani dapat berperan sebagai agregator pemasaran hasil panen sekaligus penyedia bahan baku pakan dengan harga lebih terjangkau. Melalui kelembagaan yang kuat, posisi tawar petani dan peternak terhadap pasar juga akan meningkat.
Momentum ini juga menjadi pengingat bahwa pembangunan pertanian tidak boleh hanya diukur dari kenaikan produksi nasional. Ukuran keberhasilan sesungguhnya adalah meningkatnya kesejahteraan petani dan peternak di tingkat akar rumput. Ketika petani memperoleh harga yang layak, tetapi peternak merugi, maka rantai ekonomi pedesaan belum sepenuhnya sehat.
Indonesia membutuhkan desa yang tidak hanya mampu memproduksi pangan, tetapi juga mampu bertahan menghadapi perubahan iklim, gejolak harga, dan tekanan ekonomi global. Ketahanan itu hanya dapat diwujudkan apabila sawah dan kandang dipandang sebagai dua kekuatan yang saling menopang, bukan dipisahkan dalam kebijakan maupun praktik pembangunan.
Sudah saatnya perhatian terhadap peternakan rakyat ditempatkan sejajar dengan pembangunan pertanian. Sebab, ketika sawah tetap hijau tetapi kandang mulai kosong, sesungguhnya desa sedang kehilangan salah satu fondasi terpenting bagi masa depannya. Ketahanan pangan yang sejati tidak hanya lahir dari hasil panen yang melimpah, melainkan juga dari peternakan rakyat yang tetap hidup, produktif, dan sejahtera.***
*) Penulis: Edi Susanto
Pemerhati Sosial dan Kemasyarakatan













