Serangan Israel Paling Dahsyat di Lebanon, 254 Orang Tewas Dalam Sehari

Serangan Israel

MAKLUMAT —  Lebanon menetapkan Rabu (8/4/2026) sebagai hari berkabung nasional setelah serangan Israel menewaskan sedikitnya 254 orang dan melukai lebih dari 1.165 lainnya. Serangan terkoordinasi paling dahsyat yang mengguncang Beirut dan wilayah lain dilakukan dalam hitungan menit.

Dikutip dari Reuters, NBC dan Al Jazeera, sedikitnya lima ledakan beruntun menghantam ibu kota Beirut, menimbulkan kepulan asap ke langit. Militer Israel menyasar setidaknya lebih dari 100 pusat komando dan situs militer Hizbullah di Beirut, Lembah Bekaa, dan Lebanon selatan dalam waktu sekitar 10 menit.

Data dinas pertahanan sipil mencatat 254 korban tewas dan lebih dari 1.100 orang terluka di seluruh Lebanon. Korban terbanyak berada di Beirut dengan 91 kematian. Sementara Kementerian Kesehatan menyebut angka sementara 182 korban jiwa dan masih terus diperbarui.

Tim penyelamat terus menyisir reruntuhan apartemen di pusat kota Beirut untuk mencari korban yang tertimbun puing-puing.

Serangan Meluas, Pengungsian Massal

Lebih dari 1,2 juta orang dilaporkan mengungsi sejak konflik kembali memanas bulan lalu. Situasi di Beirut digambarkan sebagai “kekacauan total”, dengan serangan menghantam area sipil tanpa peringatan. Dr. Tania Baban dari organisasi MedGlobal menyebut puluhan serangan terjadi hampir bersamaan. “Ini bukan serangan yang ditargetkan,” ujarnya, menggambarkan kondisi kota yang terus dibombardir.

Baca Juga  Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei Dikonfirmasi Meninggal Dunia Akibat Serangan Israel-AS

Militer Israel menyatakan telah menghantam markas besar Hizbullah, pangkalan militer, serta pusat komando dan kendali. Juru bicara internasionalnya, Nadav Shoshani, mengklaim lebih dari 40 militan Hizbullah “dihilangkan”.

Serangan disebut sebagai hasil perencanaan selama berminggu-minggu, dengan indikasi operasi bisa meluas hingga Beirut utara.

Lebanon di Luar Gencatan Senjata

Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, menyatakan pemerintah tengah memobilisasi seluruh sumber daya politik dan diplomatik untuk menghentikan serangan.

Namun, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menegaskan Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyebut Lebanon dikecualikan “karena Hezbollah”, tetapi menambahkan bahwa situasi itu akan “diurus”.

Pernyataan tersebut diperkuat Wakil Presiden AS, JD Vance, yang mengatakan Washington tidak pernah menjanjikan Lebanon masuk dalam kesepakatan.

Ancaman Iran dan Eskalasi Regional

Ketegangan meningkat setelah Iran mengancam akan menangguhkan lalu lintas di Selat Hormuz sebagai respons atas serangan Israel di Lebanon.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan AS harus memilih antara gencatan senjata atau perang berkelanjutan melalui Israel.

Pernyataan ini memperkuat tekanan geopolitik di tengah konflik yang berpotensi meluas di kawasan.

Baca Juga  Serang Gaza Utara, Pasukan Israel Bunuh Lebih dari 100 Warga Palestina

Sistem Kesehatan di Ambang Kolaps

Menteri Kesehatan Lebanon, Rakan Nassereddine, memohon bantuan internasional segera. Ia menyebut sistem kesehatan kewalahan menghadapi lonjakan korban dalam waktu singkat. Rumah sakit dilaporkan kekurangan tenaga medis, obat-obatan, dan fasilitas darurat.

Hari itu menjadi salah satu yang paling mematikan dalam konflik terbaru, memperdalam krisis kemanusiaan dan menempatkan Lebanon dalam tekanan perang yang kian luas. ***