MAKLUMAT – Pelatih kepala, timnas Senegal, Pape Thiaw menegaskan komitmen timnya terhadap keyakinan agama menjelang laga pembuka Piala Dunia FIFA melawan Prancis. Dalam konferensi pers di New Jersey, Pape Thiaw merespons pertanyaan jurnalis terkait keputusan tim tetap menunaikan salat Jumat meski ada peringatan keamanan akibat angin kencang. “Kalian takut pada angin. Kami takut kepada Allah yang menciptakan angin,” ujar Pape Thiaw, Jumat (12/6/2026).
Pelatih berusia 45 tahun itu bahkan menegaskan bahwa kewajiban agama berada di atas sepak bola.
“Bahkan jika hari ini adalah final Piala Dunia dan menghadiri salat Jumat berarti kehilangan gelar juara, kami tetap akan memilih salat Jumat,” tegasnya dikutip dari Faithfullballers.
Skuad Senegal yang berbasis di New Jersey tetap keluar dari kamp latihan menuju pusat Islam setempat untuk melaksanakan ibadah Salat Jumat berjamaah. Langkah ini diambil meskipun ada peringatan cuaca dari otoritas keamanan terkait potensi bahaya angin kencang.
Selain berbicara soal keyakinan, Pape Thiaw juga meminta komunitas diaspora Senegal di Amerika Serikat memberikan dukungan penuh kepada tim nasional saat menghadapi Prancis pada Rabu (17/6) dini hari WIB.
Menurutnya, dukungan dari warga Senegal yang tinggal di Amerika Utara sangat penting karena banyak suporter dari Senegal tidak dapat hadir langsung akibat kendala visa.
Senegal menjadi salah satu negara Afrika yang terdampak kebijakan visa Amerika Serikat. Kondisi itu membuat para pendukung Teranga Lions menghadapi biaya lebih tinggi dan peluang penolakan visa yang lebih besar.
Padahal, Senegal biasanya mendapat dukungan masif dari kelompok suporter terorganisasi seperti Gaindé yang dikenal dengan aksi mengecat tubuh menggunakan warna bendera nasional dan menari sepanjang pertandingan.
“Ini topik politik dan saya lebih suka membahas olahraga. Namun tentu saja kami ingin para penggemar bersama kami,” kata Pape Thiaw kepada ESPN.
“Mereka selalu mendorong kami, terutama pada saat-saat sulit. Sayangnya kali ini mereka tidak bisa bersama kami.”
Sebagai gantinya, Senegal berharap memperoleh dukungan dari diaspora Senegal yang tinggal di Amerika Serikat, Kanada, dan Prancis.
Di Manhattan, khususnya kawasan Little Senegal di Central Harlem, terdapat komunitas Senegal yang diperkirakan mencapai hampir 20 ribu orang. Komunitas besar lainnya juga berada di Chicago dan Montreal.
Pape Thiaw optimistis dukungan diaspora mampu menggantikan atmosfer yang biasanya dibawa para pendukung yang datang langsung dari Senegal.
“Kami memiliki komunitas Senegal yang besar di sini dan orang Senegal sangat patriotik. Mereka mencintai tim nasional mereka,” ujarnya.
“Besok Anda akan melihatnya. Anda tidak akan percaya bahwa tidak ada satu pun warga Senegal yang datang langsung dari Senegal.”
Menjelang duel kontra Prancis, Pape Thiaw memperkirakan pertandingan akan berlangsung ketat. Namun, ia yakin timnya memiliki kualitas untuk memberikan kejutan.
“Ini akan menjadi pertandingan yang sulit karena Prancis memiliki banyak pemain hebat,” katanya.
“Sangat penting memulai turnamen dengan baik untuk membangun kepercayaan diri dan meningkatkan semangat tim. Kami siap menghadapi mereka.”
“Kami memiliki senjata sendiri dan bisa mengalahkan tim mana pun jika melakukan semuanya dengan benar.”
Setelah menghadapi Prancis, Senegal akan tetap berada di New York untuk menjalani laga kedua Grup I melawan Norwegia pada Senin (23/6).
Teranga Lions kemudian menutup fase grup dengan menghadapi Irak di Toronto, Kanada, pada 26 Juni.
Profil Pape Thiaw
Di balik pernyataannya yang menjadi sorotan, Pape Thiaw merupakan salah satu figur penting dalam sejarah sepak bola Senegal.
Pria kelahiran Dakar, 5 November 1981, itu saat ini menjabat sebagai pelatih kepala tim nasional Senegal. Sebelum berkarier di pinggir lapangan, ia lebih dahulu dikenal sebagai penyerang andalan Teranga Lions.
Saat masih aktif bermain, Thiaw menjadi bagian dari generasi emas Senegal yang mencatat sejarah di Piala Dunia 2002. Ia berkontribusi besar dalam kemenangan atas Swedia di babak 16 besar melalui assist tumit ikonik kepada Henri Camara yang berujung gol emas dan membawa Senegal melaju ke perempat final.
Di level klub, ia menjalani karier di sejumlah tim Eropa, termasuk Saint-Étienne, Metz, dan Strasbourg di Prancis, serta Deportivo Alavés di Spanyol.
Usai gantung sepatu, Thiaw meniti karier kepelatihan dari level bawah. Namanya mulai mendapat perhatian setelah membawa timnas lokal Senegal menjuarai African Nations Championship (CHAN) 2022 yang digelar pada awal 2023. Berkat pencapaian tersebut, ia terpilih sebagai Pelatih Terbaik turnamen.
Keberhasilan itu membawanya menjadi asisten Aliou Cissé sebelum akhirnya dipercaya menangani timnas senior Senegal. Pada Desember 2024, Thiaw resmi ditunjuk sebagai pelatih kepala dan sukses mengantarkan negaranya lolos ke Piala Dunia 2026.
Dalam urusan taktik, ia dikenal mengusung gaya bermain agresif dan menyerang. Formasi 4-3-3 maupun 4-2-3-1 menjadi pilihan utamanya, dengan penekanan pada intensitas tinggi, pressing, dan transisi cepat.
Kini, di Piala Dunia 2026, Pape Thiaw tidak hanya menjadi sorotan karena strategi di lapangan, tetapi juga karena keteguhannya mempertahankan prinsip dan keyakinan yang dianutnya.***













