Sisca Saras Gandeng Ayaka Yasumoto, Hipdut ‘Swipe Kanan-Kiri’ Siap Tembus Pasar Jepang

sisca

MAKLUMAT– Penyanyi Indonesia, Sisca Saras memperluas langkahnya ke kancah internasional dengan menggandeng idol Jepang, Ayaka Yasumoto, dalam single bertajuk Swipe Kanan-Kiri. Lagu ini mengusung genre hipdut, yakni perpaduan hip-hop dan dangdut yang secara ambisius diarahkan menembus pasar Jepang. Diproduseri F4dli dari FloorInc, proyek ini menjadi kolaborasi lintas negara pertama bagi Sisca.

Ia mengaku sejak lama ingin bekerja sama dengan musisi luar negeri, terlebih dengan latar belakang serupa sebagai mantan idol, termasuk pengalamannya di JKT48.

Proses kreatif berlangsung intens. Sisca dan Ayaka menjalani workshop selama dua hari di Jakarta dan berhasil menciptakan dua lagu dari nol, termasuk merampungkan produksi video musik.

Meski menghadapi kendala bahasa, keduanya tetap mampu menyatukan ide melalui bantuan penerjemah. Penyesuaian lirik dilakukan agar tetap selaras dengan beat dan karakter musik.

Ayaka, yang dikenal sebagai anggota Shiritsu Ebisu Chugaku menyambut kolaborasi ini dengan antusias. Ia menyebut proyek ini sebagai pengalaman pertama menciptakan lagu bersama artis dari negara lain.

Single Swipe Kanan-Kiri membawa pesan tentang keberanian menentukan pilihan hidup, termasuk dalam urusan cinta. Lagu ini dijadwalkan rilis di berbagai platform digital pada 10 April 2026.

Baca Juga  Kunjungi Guangzhou University, Umsida Jajaki Sejumlah Program Kemitraan Internasional

Kolaborasi ini bukan sekadar proyek musik biasa, tetapi mengandung sejumlah makna strategis: Hipdut menjadi “kendaraan baru” untuk membawa dangdut ke pasar global. Dengan sentuhan hip-hop, genre ini lebih mudah diterima audiens internasional, khususnya Jepang yang memiliki ekosistem pop kuat.

Menggandeng Ayaka Yasumoto adalah langkah cerdas. Jepang memiliki basis penggemar idol yang loyal. Dengan pendekatan ini, musik Indonesia tidak masuk sebagai “asing”, tetapi sebagai bagian dari kultur yang sudah familiar.

Industri musik kini bergerak ke arah kolaborasi global. Model seperti ini terbukti efektif memperluas pasar tanpa harus sepenuhnya mengubah identitas musik lokal.

Kendala bahasa yang diakui Sisca menunjukkan bahwa ekspansi global bukan tanpa hambatan. Adaptasi lirik, rasa musik, dan preferensi pasar menjadi faktor kunci keberhasilan.***