110 Tahun Bertahan, Ini Resep Suara Muhammadiyah Hadapi Disrupsi Digital

Suara Muhammadiyah

MAKLUMAT — Suara Muhammadiyah menegaskan eksistensinya di tengah gelombang disrupsi digital yang menumbangkan banyak media cetak. Majalah ini terbit pertama kali pada 13 Agustus 1915 dan tercatat sebagai media pers tertua di Indonesia yang masih terbit berkelanjutan hingga kini.

Ketahanan tersebut lahir dari kombinasi nilai ideologis, dukungan organisasi, dan strategi adaptasi yang konsisten. “Hampir semua organisasi pergerakan pada masa awal punya media, tetapi tidak berlanjut. Suara Muhammadiyah bertahan dan menjadi saksi perjalanan bangsa,” kata Isngadi Marwah, Direktur Media dan Publikasi Suara Muhammadiyah, dalam diskusi redaksi Muhammadiyah.or.id di Yogyakarta, Sabtu (8/2/2026).

Perubahan lanskap media menjadi ujian utama. Pola konsumsi pembaca bergeser ke platform digital. Pendapatan iklan berpindah. Oplah cetak menurun, sementara biaya produksi tetap tinggi. Banyak media berhenti terbit.

Isngadi menegaskan, mengandalkan penjualan majalah tidak lagi cukup untuk menjaga keberlanjutan media. “Media harus punya penopang lain agar tetap mandiri,” ujarnya.

Tekanan ekonomi tersebut memaksa pengelola media melakukan penyesuaian cepat, tanpa mengorbankan independensi redaksi. Adaptasi menjadi keharusan, bukan pilihan.

Strategi Adaptasi: Digital dan Diversifikasi

Untuk menjaga keberlanjutan, Suara Muhammadiyah memadukan penguatan kanal digital dengan diversifikasi unit usaha. Selain pengembangan platform daring, pengelola membangun unit penopang seperti toko buku, perhotelan, dan restoran.

Baca Juga  Disdik Kota Batu Perkuat Karakter Siswa Hadapi Disrupsi Digital, Jadi Pilot Project Nasional

Model ini memberi ruang bernapas bagi redaksi. Kerja jurnalistik tetap berjalan, sementara unit usaha menopang biaya operasional. Strategi serupa juga diterapkan sejumlah media nasional dalam menghadapi dominasi platform digital.

Ketahanan tersebut berakar pada fondasi sejarah yang kuat. Tokoh-tokoh perintis seperti K.H. Fachroedin sebagai pemimpin redaksi pertama, K.H. Sudja’, serta pendiri Muhammadiyah K.H. Ahmad Dahlan, meletakkan etos pers yang progresif dan berani.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menilai Fachroedin sebagai pelopor pers Muhammadiyah yang berpikir melampaui zamannya. “Pikiran tajam Fachroedin memberi orientasi progresif sebagai perlawanan terhadap kolonialisme,” tulis Haedar dalam catatan di suaramuhammadiyah.id.

Arsip Hidup Perjalanan Bangsa

Isngadi menyebut Suara Muhammadiyah sebagai arsip hidup. Di dalamnya terekam respons Muhammadiyah terhadap perubahan sosial, politik, dan keagamaan selama lebih dari satu abad—mulai era kolonial, pendudukan Jepang, hingga krisis moneter 1998.

Namun, nilai sejarah tidak membuatnya kebal. Dukungan pembaca tetap menjadi penentu. “SM tidak bisa dilepaskan dari dukungan masyarakat dan warga Muhammadiyah. Tanpa itu, SM tidak ada apa-apanya,” tegas Isngadi.

Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 menjadi momentum penegasan bahwa umur panjang media ditentukan oleh konsistensi nilai, adaptasi yang terukur, dan dukungan kolektif. Di tengah arus informasi instan, Suara Muhammadiyah memilih bertahan dengan ketekunan menjaga sejarah dan independensi.***

Baca Juga  Hari Pers Nasional 2026 : Pers dan Masa Depan Media Muhammadiyah