23.4 C
Malang
Minggu, Juni 23, 2024
OpiniTahun Politik dan Memudarnya Tali Persahabatan

Tahun Politik dan Memudarnya Tali Persahabatan

Agus Wahyudi.

HARI-hari ini, saya lagi banyak membatin. Mengamati gelagat kawan-kawan di tahun politik. Melihat keriuhan dan gairah mereka jelang digelarnya pesta demokrasi yang bakal berlangsung pada tahun 2024 mendatang.

Atmosfer dukung mendukung mulai berasa. Kian hari kian berasa menghangat. Meski belum satu pun pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) yang sudah pasti maju Pilpres 2024.

Jujur, saya menjadi cemas bila teringat peristiwa masa sebelumnya. Melihat atmosfer jelang perhelatan pesta demokrasi. Di mana persepsi publik terhadap urusan politik acap terbelah.

Dampaknya cukup serius. Karena perdebatan panjang itu, dengan diimbuhi pemihakan, nyatanya berpengaruh dalam urusan pertemanan atau persahabatan.

Buntut preferensi politik, persahabatan pun menjadi retak. Muncul friksi-friksi. Dari kecil, lalu melebar, mendalam, dan membesar. Seperti jalan rusak yang dibiarkan tanpa perbaikan.

Ketidaksepakatan menjadi perdebatan yang tajam. Mengerek tinggi-tinggi bendera permusuhan. Sesumbar, tantangan, dan ancaman menyeruak tanpa bisa dikendalikan.

Saya, dan mungkin juga dialami banyak orang, pernah melihat fenomena memilukan ini: ketika keguyuban WAG berubah menjadi kicauan amarah dan syak wasangka.

Ceritanya, saat itu, jelang pemilihan presiden (Pilpres) 2019. Yang memunculkan dua pasangan calon, yakni Joko Widodo-Ma’ruf Amin melawan pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Semula, di WAG ada yang men-share berita, gambar, meme, video, dan lainnya untuk mendukung Jokowi-Ma’ruf. Lalu dibumbuhi celetukan bernada guyon dan setengah menyidir.

Pendukung Prabowo-Sandi pun tidak mau kalah. Mereka juga melakukan hal serupa, yakni dengan men-share konten-konten yang berpihak pada calonnya.

Semula, hanya sekadar share, lalu saling menanggapi. Hingga muncullah perdebatan. Memanas. Masing-masing pihak mempertanyakan kualitas, kapasitas, bahkan mencuatkan berbagai stigma negatif dari kasus-kasus yang terekam jejak digital.

Perdebatan menjurus sengit. Yang patut disayangkan tentu ada yang berdebat tidak ilmiah. Lebih pas disebut debat kusir yang tak ubahnya melihat orang eyel-eyelan di warung kopi.

Celakanya, dari nyinyir lalu berlanjut saling olok. Menjelekkan-jelekkan dengan kata-kata (maaf) sungguh kasar. Bahkan celakanya ada yang main ancam. Keadaan pun akhirnya sulit dikendalikan.

Sementara kawan yang lain mencoba menengahi. Tapi hal itu tak kelewat mempan alias muspro. WAG pun riuh dengan umpatan, caki maki, dan hujatan.

Saya menjadi saksi, banyak di antara mereka yang berseteru tersebut awalnya berkawan baik. Teman dari kecil, teman semasa sekolah. Ada juga yang sebelumnya menjadi satu jamaah pengajian dan organisasi kemasyarakatan Islam.

***

Gejala keretakan itu cukup menguat sekarang. Boleh dibilang mulai memanas. Fenomena ini diyakini akan makin meruncing ketika pelaksanaan Pilpres 2024 makin dekat.

Kondisi ini memang tak lepas fenomena mutakhir. Di mana aktor-aktor politik yang siap berkontestasi. Ada Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo, Anies Baswedan, Agus Harimurti Yudhoyono, Sandiaga Uno, Ridwan Kamil, dan beberapa nama lain.

Polarisasi kekuatan politik makin lama makin kuat. Wacana penundaan pemilu dan penambahan masa jabatan presiden ini juga menjadi salah satu isu krusial yang menjadi perhatian.

Saya pun jadi teringat lontaran Eep Saifullah Fatah, pengamat politik UI. Kata dia, masyarakat kita memang siap menghadapi pesta demokrasi, tapi belum berkualitas.

Kenyataan itu dikuatkan dengan masih rentannya ketegangan politik, maraknya pemilih irasional, memilih tanpa pernah mengedepankan track record, dan masih banyak fenomena lain yang menjadi PR besar bangsa ini.

Tahun politik ini juga membawa kerentanan kondisi ekonomi yang pelik. Masalah ketidakpastian ekonomi karena ancaman resesi global berpotensi terjadi di negeri ini.

Banyak kalangan menyebut jika tahun 2023 lumayan mencekam. Penuh ketidakpastian. Karenanya, butuh kekuatan cukup untuk menjaga stabilitas politik dan keamanan pada tahun ini. Karena hal itu sangat penting guna menjamin perekonomian tetap berjalan sesuai harapan.

Ketidakpastian ekonomi di tahun politik pastinya berimplikasi signifikan terhadap situasi domestik. Kiranya, banyak pengusaha yang semriwing alias deg-degan. Banyak perusahaan juga telah mem-PHK karyawannya dalam jumlah tak sedikit.

Dan, ketegangan-ketegangan politik itu mulai berasa kini. Dari kelompok pendukung pasangan capres dan cawapres. Yang masing-masing mengusung harapan besar agar calon pemimpinnya terpilih.

Saya dan mungkin juga dirasakan banyak orang, lagi-lagi, mencemaskan itu semua. Akankah polarisasi ini bakal berujung pada keretakan, permusuhan dan perpecahan? (*)

Agus Wahyudi, Penulis adalah Jurnalis, Pencinta Travelling dan Buku, Bekerja di Enciety Business Consult

Sponsor

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Sponsor

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Sponsor

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Lihat Juga Tag :

Populer