25.2 C
Malang
Rabu, Juli 24, 2024
KilasTerima Kunjungan Dubes Jepang, Haedar Nashir Jelaskan Moderasi Islam di Indonesia

Terima Kunjungan Dubes Jepang, Haedar Nashir Jelaskan Moderasi Islam di Indonesia

Ketum PP Muhammadiyah Prof KH Haedar Nashir bersalaman dengan Dubes Jepang Masaki Yasushi

DUTA Besar (Dubes) Jepang untuk Indonesia, Masaki Yasushi bersilaturahmi dengan Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah di Kantor Pusat Muhammadiyah Yogyakarta, Rabu (26/6/2024). Kunjungan Yasushi ke Muhammadiyah ini merupakan yang pertama dilakukan di luar Jakarta, selama dirinya menjabat sebagai Duta Besar.

Yasushi mengatakan, silaturahmi ini sebagai wujud untuk meningkatkan hubungan kerjasama antara Pemerintah Jepang dengan Indonesia, khususnya dengan Muhammadiyah. Yang mana, kerjasama yang selama ini telah terjalin sudah sangat baik.

Disebutkan, kerja sama yang telah dilakukan Pemerintah Jepang dengan Muhammadiyah di antaranya kunjungan Pemuda Muhammadiyah ke Negeri Sakura untuk mempelajari budaya dan perkembangan negara Jepang.

“Kami berharap ke depan ada peningkatan kerja sama dalam bidang pendidikan antara Pemerintah Jepang dengan Muhammadiyah,” jelasnya.

Yasushi juga menyatakan, Pemerintah Jepang sangat prihatin dengan kondisi yang terjadi di Palestina maupun di Timur Tengah. Maka dari itu, pihaknya meminta masukan dari Muhammadiyah dalam melihat perkembangan Islam di dunia maupun di Indonesia.

“Lewat kunjungan ini kami juga ingin belajar bagaimana moderasi Islam dalam menghadapai kecenderungan radikalis dan ekstrimisme dalam beragama. Karena sebagian masyarakat Jepang masih bertanda tanya soal radikalisme dan ekstrimisme dalam beragama,” tuturnya.

Kedatangan Masaki ke Muhammadiyah disambut hangat oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir bersama pimpinan Persyarikatan lainnya. Haedar dalam kesempatan itu menjelaskan pandangannya soal Islam di Indonesia yang secara umum merupakan kalangan moderat.

“Kami menegaskan bahwa secara umum Islam di Indonesia sejatinya Islam yang moderat. Sehingga, Muhammadiyah terus berupaya meningkatkan moderasi beragama lebih pada hal-hal yang substantif dalam menampilkan keberagamaan yang sejatinya umat beragama itu jauh lebih besar dan konstruktif perannya ketimbang hal-hal yang negatif maupun stigmatif,” terangnya.

Haedar pun berharap agar Dubes dan Pemerintah Jepang bisa memahami karakteristik Islam di Indonesia tersebut. Juga meminta agar mereka bersedia mengunjungi dan melihat langsung lembaga-lembaga Pendidikan Muhammadiyah yang telah menjadi role model dalam membangun moderasi beragama, termasuk di wilayah Indonesia Timur.

“Kami meminta kepada Dubes untuk lebih memahami Islam di Indonesia dengan mengunjungi lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyah yang berada di daerah, khususnya di Indonesia Timur. Agar Dubes dapat melihat bagaimana Muhammadiyah menjadi role model dalam moderasi beragama dan juga dalam membangun masyarakat dalam kemajemukan,” ungkapnya.

Pria yang juga menjabat Guru Besar Sosiologi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) itu kemudian memaparkan soal kecenderungan ada sebagian muslim yang masih berpaham ekstrim dan terlibat terorisme. Namun, hanya sebagian kecil.

Kendati begitu, Haedar menegaskan, sejatinya bentuk ekstrim dan radikal tidak hanya dalam beragama, namun juga dalam berbagai aspek kehidupan.

“Ekstrimisme agama dan juga bentuk-bentuk ekstrim lainnya sering dipicu oleh konstelasi politik global yang tidak positif, salah satunya disebabkan oleh agresi dan kebrutalan Israel yang terus-menerus terjadi di Palestina, sehingga memicu pandangan yang bersifat reaktif terhadap tindakan seperti itu,” jelasnya.

Haedar menyatakan, sebagian orang beranggapan bahwa masalah Palestina menyangkut agama. Padahal, dalam kasus Palestina dan Israel bukan soal agama, melainkan soal kemerdekaan.

Selain itu, yang juga sering terjadi yakni Islamophobia yang berlebihan terjadi di dunia Barat, seperti halnya Senator atau tokoh yang membakar kitab suci Al-Qur’an yang kemudian menimbulkan reaksi keras.

“Sehingga reaksi keras itu bukan ekstrimisme, tetapi bentuk sikap untuk menjaga agama, dan keberagamaan dalam ekstrim. Di sinilah persoalan ekstrimisme, radikalisme, terorisme bukan merupakan persoalan yang sederhana,” tandasnya.

Reporter: Ubay NA 

Editor: Aan Hariyanto

Sponsor

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Sponsor

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Sponsor

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Lihat Juga Tag :

Populer