MAKLUMAT — Banjir dan longsor tak hanya merendam rumah dan meruntuhkan tanah. Dalam hitungan menit, bencana juga mengguncang ketenangan batin para penyintas. Di balik puing-puing bangunan dan lumpur yang mengering, trauma menjadi luka paling sunyi yang kerap luput dari perhatian.
Psikiater RS Jiwa Dr. Soeharto Heerdjan Jakarta, Julianto, menyebut banyak korban bencana mengalami gangguan psikologis serius pascakejadian. Mulai dari stres pascatrauma (PTSD), kecemasan berlebih, hingga depresi.
“Ketakutan saat hujan turun, sulit tidur, mimpi buruk, dan rasa tidak aman yang menetap adalah gejala yang sering ditemukan,” kata Julianto dalam artikelnya yang dimuat laman Kesehatan Lanjut Kemkes, dilihat pada Selasa (6/12/2026).
Menurutnya, dampak psikologis pada anak-anak bahkan bisa lebih berat. Mereka cenderung menjadi pendiam, mudah cemas, menempel pada orang tua, hingga mengalami kemunduran perilaku. Jika tidak ditangani sejak awal, kondisi tersebut berisiko menetap dalam jangka panjang.
Luka Psikologis Tak Bisa Menunggu
Berbagai riset kesehatan mental pascabencana menunjukkan bahwa luka psikologis yang diabaikan dapat mengganggu aktivitas harian, merusak relasi sosial, bahkan memicu gangguan kesehatan fisik.
“Pemulihan mental bukan soal melupakan kejadian, tetapi mengembalikan rasa aman, kontrol diri, dan harapan,” tegas Julianto.
Ia menilai, pemulihan psikologis harus berjalan seiring dengan rehabilitasi fisik dan pembangunan infrastruktur. Tanpa itu, proses bangkit penyintas akan timpang.
Enam Langkah Pemulihan Mental
Para ahli kesehatan mental dan lembaga kebencanaan merekomendasikan sejumlah langkah agar pemulihan psikologis penyintas berjalan efektif.
Pertama, dukungan psikososial sejak fase awal. Kehadiran relawan yang mampu mendengarkan, memberi informasi jelas, dan menjaga suasana aman di posko pengungsian sangat membantu korban merasa tidak sendirian.
Kedua, perlindungan kelompok rentan. Anak-anak, lansia, korban yang kehilangan anggota keluarga, serta mereka yang memiliki riwayat gangguan mental perlu pemantauan lebih intensif.
Ketiga, program trauma healing, terutama bagi anak dan keluarga. Terapi bermain, menggambar, dan aktivitas kreatif membantu anak menyalurkan ketakutan. Sementara bagi orang dewasa, konseling kelompok efektif untuk saling menguatkan.
Keempat, membangun kembali jaringan sosial. Gotong royong, doa bersama, dan pertemuan warga mampu memulihkan rasa kebersamaan yang sempat terputus.
Kelima, akses layanan profesional. Kasus PTSD dan depresi berat harus segera dirujuk ke psikolog atau psikiater agar tidak berkembang lebih parah.
Keenam, integrasi pemulihan mental dan ekonomi. Ketika korban mulai kembali bekerja, berjualan, atau berkebun, rasa percaya diri dan stabilitas emosi perlahan pulih.
Bangkit Secara Utuh
Julianto menegaskan, pemulihan pascabencana adalah proses panjang. Akan ada hari ketika trauma terasa berat, tetapi ada pula momen ketika kekuatan kembali muncul.
“Dengan dukungan keluarga, komunitas, lembaga kemanusiaan, dan tenaga profesional, penyintas bisa bangkit sepenuhnya — bukan hanya fisik, tetapi juga mental,” ujarnya.
Bencana boleh meruntuhkan banyak hal. Namun dengan pendampingan yang tepat, harapan tetap bisa tumbuh kembali.***