MAKLUMAT — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan penundaan tenggat bagi Iran untuk menyetujui proposal penghentian perang, dengan batas baru pada 6 April 2026 pukul 20.00 waktu setempat.
Keputusan ini disebut Trump sebagai respons atas permintaan Teheran. Namun, sumber mediator yang dikutip Wall Street Journal membantah klaim tersebut dan menyebut Iran justru meminta Washington melunakkan tuntutannya sebelum bersedia duduk dalam pembicaraan gencatan senjata.
Dalam unggahan di Truth Social, Trump menyatakan, ia menunda rencana penghancuran fasilitas energi Iran selama 10 hari. Sebelumnya, ia mengancam akan menyerang situs energi dalam 48 jam jika Iran tidak membuka jalur aman bagi kapal tanker di Selat Hormuz.
Namun, sebelum tenggat itu berakhir, Trump telah lebih dulu memperpanjang batas waktu selama lima hari dengan alasan Iran menunjukkan minat untuk mencapai kesepakatan. “Pembicaraan sedang berlangsung… dan berjalan sangat baik,” tulis Trump, sembari menuding media menyebarkan informasi keliru.
Negosiasi Diwarnai Ketidakpastian
Meski optimistis di media sosial, Trump menunjukkan sikap berbeda dalam rapat kabinet di Gedung Putih. Ia mengaku belum yakin apakah kesepakatan benar-benar bisa dicapai. “Saya tidak tahu apakah kita akan mampu melakukannya,” ujar Trump, dikutip dari Time of Israel.
Ia juga menghindari menjawab apakah Washington tetap menuntut Iran untuk menghapus cadangan uranium yang telah diperkaya—salah satu isu paling sensitif dalam negosiasi nuklir.
Trump bahkan melontarkan komentar ambigu terkait lawannya. “Mereka adalah pejuang yang buruk, tetapi negosiator yang hebat,” katanya.
Di tengah diplomasi yang belum pasti, laporan menyebut Trump tengah mempertimbangkan opsi operasi darat untuk menekan Teheran agar menerima syarat-syarat Amerika Serikat.
Langkah ini menandakan bahwa strategi Washington masih mengombinasikan tekanan militer dengan jalur negosiasi.
Perang yang telah berlangsung hampir sebulan kini memasuki fase krusial, dengan tenggat baru 6 April menjadi penentu apakah konflik akan mereda atau justru meningkat menjadi eskalasi yang lebih luas.
Tanggapan Iran
Pada bagian lain, Iran telah secara resmi menanggapi proposal 15 poin yang diajukan oleh Amerika Serikat pada Rabu malam, menurut sumber yang dikutip Tasnim.
Sumber tersebut menyatakan bahwa tanggapan Iran dikirim melalui perantara pada Rabu malam dan Teheran kini menunggu balasan.
Dalam tanggapannya, Iran menegaskan bahwa tindakan agresif harus dihentikan, syarat konkret perlu ditetapkan untuk mencegah perang berulang, serta kompensasi dan reparasi perang harus dijamin dan dirumuskan secara jelas. Selain itu, penghentian perang harus berlaku di semua lini dan mencakup seluruh kelompok perlawanan yang terlibat di kawasan.
Sumber itu juga menegaskan bahwa kedaulatan Iran atas Selat Hormuz merupakan hak alami dan sah yang harus diakui sebagai bagian dari jaminan pelaksanaan komitmen pihak lain.
Lebih lanjut, sumber tersebut menyebut bahwa Iran memandang klaim Amerika Serikat tentang negosiasi sebagai “proyek penipuan ketiga”. Menurutnya, Washington memiliki beberapa tujuan di balik narasi tersebut: membangun citra damai di mata dunia, menjaga harga minyak global tetap rendah, serta membeli waktu untuk mempersiapkan kemungkinan aksi militer baru di wilayah selatan Iran.
Sumber itu menambahkan, jika sebelumnya Iran masih memiliki keraguan terhadap komitmen Amerika Serikat dalam perjanjian sebelum perang 12 hari pada Juni 2025, kini keraguan tersebut telah berubah menjadi ketidakpercayaan penuh terhadap kesediaan Washington untuk bernegosiasi secara serius.
Ia juga menilai bahwa, baik dalam perang 12 hari maupun konflik yang sedang berlangsung, Amerika Serikat memulai aksi militer di tengah proses negosiasi. Kali ini pun, menurutnya, pola serupa kembali terjadi dengan menjadikan negosiasi sebagai kedok untuk membuka jalan bagi tindakan agresif baru.***













