MAKLUMAT — Kualitas udara di Pekanbaru, Riau, masuk kategori berbahaya pada Selasa (25/8/2026) pagi. Konsentrasi PM2.5 tercatat mencapai 328,9 µg/m³ pada pukul 06.00 WIB.
Pada waktu yang sama, kualitas udara di Kubu Raya, Kalimantan Barat, masuk kategori sangat tidak sehat dengan konsentrasi PM2.5 sebesar 159,1 µg/m³.
Kondisi tersebut terjadi saat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih berlangsung di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan Barat.
PM2.5 Pekanbaru Capai 328,9 µg/m³
PM2.5 atau Particulate Matter 2.5 merupakan partikel udara berukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Ukurannya yang sangat kecil memungkinkan partikel tersebut masuk jauh ke dalam paru-paru ketika terhirup.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan pedoman konsentrasi PM2.5 rata-rata 24 jam sebesar 15 µg/m³. Namun, angka 328,9 µg/m³ di Pekanbaru merupakan pengukuran pada satu waktu, yakni pukul 06.00 WIB, sehingga tidak dapat langsung disamakan dengan pedoman WHO yang menggunakan rata-rata 24 jam.
Konsentrasi PM2.5 diukur menggunakan metode penyinaran sinar beta (Beta Attenuation Monitoring) dengan satuan mikrogram per meter kubik (µg/m³).
Data tersebut merupakan kondisi pada Selasa (25/8/2026) pukul 06.00 WIB. Konsentrasi PM2.5 dapat berubah mengikuti kondisi atmosfer, cuaca, dan sumber emisi di masing-masing wilayah.
Polusi Udara Bisa Ganggu Kesehatan
Paparan polusi udara dapat berdampak pada kesehatan, terutama sistem pernapasan. Dampaknya bergantung pada jenis polutan, tingkat paparan, dan kondisi kesehatan seseorang.
Dilansir dari laman Ayo Sehat Kemenkes, paparan polusi udara dapat berkaitan dengan iritasi mata dan hidung, batuk, sesak napas, serta memburuknya kondisi penderita asma dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).
Paparan dalam jangka panjang juga dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular dan gangguan kesehatan lainnya.
Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan kondisi kualitas udara sebelum beraktivitas di luar ruangan, terutama ketika konsentrasi polutan meningkat.
Cara Kurangi Paparan Polusi
Masyarakat dapat memantau kualitas udara secara berkala dan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika tingkat polusi tinggi.
Jika harus beraktivitas di luar ruangan, gunakan masker yang mampu menyaring partikel halus dan terpasang dengan baik di wajah.
Masyarakat juga perlu menghindari sumber polusi di dalam rumah, seperti asap rokok dan pembakaran sampah.
Ketika kualitas udara di luar memburuk, upaya menjaga kualitas udara di dalam ruangan juga perlu diperhatikan. Jika muncul gangguan pernapasan atau keluhan kesehatan yang menetap atau memburuk, segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Karhutla Riau Masih Ditangani
Kondisi udara Pekanbaru ini menjadi perhatian di tengah penanganan karhutla di Provinsi Riau.
Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat evaluasi penanganan karhutla di Posko Aju Provinsi Riau, Kota Pekanbaru, Senin (24/8/2026).
Dalam rapat tersebut, Kepala Pelaksana BPBDPK Provinsi Riau M. Edy Afrizal melaporkan 306 hotspot terdeteksi di Riau hingga 23 Agustus 2026.
Dari jumlah tersebut, tujuh titik telah menjadi titik terbakar yang tersebar di empat kabupaten. Titik yang masih cukup besar berada di Kabupaten Pelalawan, khususnya kawasan Kerumutan, serta Kabupaten Kampar di Rimba Panjang.
Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, luas lahan yang terbakar akibat karhutla di Riau mencapai 16.277,50 hektare.
Pada periode yang sama, terdeteksi 10.514 hotspot, dengan 521 titik di antaranya terkonfirmasi menjadi fire spot.
Prabowo Minta Karhutla Dituntaskan
Prabowo mengapresiasi penanganan karhutla yang berhasil menekan luasan area terbakar dari sekitar 16.000 hektare menjadi sekitar 900 hektare.
Presiden meminta TNI dan Polri mengerahkan kekuatan untuk mempercepat penanganan area yang masih terdampak.
“Saya kira ini cukup membanggakan, kalian mengatasi 15.000 hektare. Ini saya yakin yang 900 ini bisa saudara segera kerahkan, TNI Polri kerahkan kekuatan kita,” ujar Prabowo.
Prabowo juga meminta jajaran tetap waspada meski luasan area terbakar telah ditekan secara signifikan. Ia membuka opsi penambahan bantuan jika diperlukan untuk menuntaskan penanganan karhutla.
“Kalau Anda perlu tambahan bantuan, segera laporan. Kalau perlu tambahan, tapi saya percaya kalian tinggal 900 itu, tetap waspada untuk ke depan,” tegasnya.
Penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman titik api. Pencegahan juga diperlukan agar kebakaran tidak kembali meluas dan memperburuk kualitas udara di wilayah terdampak.***














