MAKLUMAT – Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) kembali memperkuat kolaborasi internasional dengan Singapore Polytechnic melalui program Learning Express (LeX) 2026.
Memasuki tahun keempat, program ini tidak sekadar menjadi ruang belajar mahasiswa, tetapi juga mendorong mereka mencari solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat Surabaya.
Sebanyak 40 mahasiswa Umsura dan 40 mahasiswa Singapore Polytechnic mengikuti program yang berlangsung selama dua minggu. Mereka terjun ke masyarakat dengan pendekatan design thinking, untuk memahami persoalan, menggali kebutuhan, hingga merancang gagasan solusi yang relevan.
Dua lokasi menjadi sasaran kegiatan, yakni Kampung Semanggi di Sememi, Benowo, dan Jago Karah Farm di Karah, Jambangan.
Di Kampung Semanggi, mahasiswa Umsura dan Singapore Polytechnic mempelajari pengembangan budidaya tanaman semanggi sekaligus usaha pecel semanggi.
Persoalan yang dikaji cukup beragam. Mulai sistem irigasi, proses panen, pengolahan hasil, efisiensi produksi, akses pasar, hingga kesehatan dan keselamatan kerja petani.
Mahasiswa juga melihat penggunaan teknologi dalam budidaya dan pengelolaan air yang masih perlu dikembangkan.
Sementara di Jago Karah Farm, mahasiswa mempelajari pengelolaan peternakan ayam dengan sistem closed-house. Sejumlah persoalan yang dikaji antara lain keterbatasan ruang, proses pembersihan kandang, pemberian pakan yang masih manual, hingga kebisingan di lingkungan perkotaan.
Kepala Lembaga Riset, Inovasi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (LRIPM) Umsura, Arin Setyowati mengatakan bahwa pendekatan design thinking membuat mahasiswa tidak berhenti pada tahap mengamati persoalan.
“Melalui pendekatan design thinking, mahasiswa tidak sekadar mengamati persoalan, tetapi diajak memahami tantangan masyarakat dan pelaku usaha, kemudian bersama-sama menciptakan solusi inovatif,” ujarnya.
Menurutnya, Umsura menjadikan program Learning Express sebagai bagian dari kolaborasi lintas negara. Harapannya mampu memberikan dampak di masyarakat.
Rektor Umsura Prof., Mundakir menambahkan, kolaborasi dengan Singapore Polytechnic menjadi sarana memperluas pengalaman belajar mahasiswa.
Mereka tidak hanya dituntut memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mampu berkolaborasi lintas budaya dan menghadapi persoalan nyata di lapangan.
“Mahasiswa Umsura dan Singapore Polytechnic belajar bersama, memahami persoalan yang dihadapi masyarakat, kemudian mengembangkan gagasan inovatif yang relevan dengan kebutuhan lokal,” kata Mundakir.
Selama program berlangsung, mahasiswa menjalani tahapan design thinking mulai dari membangun empati, kunjungan lapangan, memahami kebutuhan masyarakat, hingga melakukan co-creation. Hasil gagasan dan prototipe solusi tersebut selanjutnya dipresentasikan melalui Gallery Walk pada akhir program.
Melalui Learning Express 2026, Umsura memperkuat model pembelajaran yang menghubungkan pengalaman akademik dengan persoalan nyata masyarakat. Kolaborasi internasional tersebut sekaligus membuka ruang bagi mahasiswa untuk menghasilkan inovasi yang lebih dekat dengan kebutuhan warga Surabaya.











