Virus Nipah Merebak di India, Ini 4 Cara Mencegah Penularannya

MAKLUMAT – Virus Nipah dikabarkan merebak di India. Tercatat data per 25 Januari 2026, setidaknya 5 kasus terinfeksi di Barasat, Benggala Barat, India, data per 25 Januari 2026.

Dua kasus pertama terkonfirmasi di rumah sakit swasta Banggala Barat. Kedua pasien merupakan perawat, masing-masing berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Beberapa hari setelahnya, tiga orang terkonfirmasi terinfeksi virus yang sama.

Mengenal Virus Nipah

Dilansir laman Kemenkes.go.id, Virus Nipah pertama kali teridentifikasi di Malaysia pada sebuah peternakan babi. Pada saat itu, hewan-hewan tersebut menunjukkan gejala demam, kesulitan bernapas, dan kejang. World Health Organization (WHO) mencatat bahwa virus Nipah berasal dari kelelawar buah yang menularkannya ke babi.

Kelelawar adalah reservoir alami virus Nipah. Ini berarti virus tersebut tidak menyebabkan penyakit pada kelelawar, tetapi dapat menyebar dari mereka ke hewan lain, seperti babi.

Penebangan hutan menyebabkan kelelawar kehilangan habitat mereka, sehingga mereka pindah mendekati pemukiman manusia dan peternakan. Inilah yang memungkinkan virus Nipah berpindah dari kelelawar ke babi, dan dari babi ke manusia.

Pencegahan

Untuk pencegahan, Kementerian Kesehatan RI telah mengeluarkan peringatan dini kasus sejak ini di India pada 13 Januari 2026. Ada empat poin peringatan dini yang ditujukan khusus untuk masyarakat Indonesia terkait virus ini.

Baca Juga  Campak, Ancaman Nyata bagi Generasi Emas 2045

Pertama, tidak mengonsumsi buah dengan bekas gigitan kelelawar.

Kedua, cuci dan kupas buah secara menyeluruh sebelum mengonsumsi.

Ketiga, apabila melakukan perjalanan ke India dan negara terjangkit, disarankan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat serta mengikuti himbauan protokol kesehatan dari India atau negara terjangkit.

Keempat, segera memeriksa diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami gejala penyakit nipah, seperti demam, batuk, pilek, sesak napas, muntah, penurunan kesadaran/kejang terhitung 14 hari pasca kepulangan dari India.

Kemenkes juga menjelaskan gambaran penyakit virus nipah yang memiliki tingkat kematian 40-75 persen. Penularannya terjadi lewat kontak langsung dengan hewan terinfeksi atau dengan orang yang terinfeksi lewat cairan seperti droplet, urine, atau darah.

Masa inkubasi virus 4-14 hari dengan gejala infeksi awal seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan nyeri tenggorokan.

“Gejala ini dapat diikuti dengan pusing, mudah mengantuk, penurunan kesadaran, dan tanda-tanda neurologis lain yang menunjukkan ensefalitis akut,” tulis Kemenkes.

Sama seperti Covid-19 saat awal mewabah, Nipah belum ada obat spesifik. Pengobatan hanya bersifat suportif. Nipah juga belum memiliki vaksin.