23.4 C
Malang
Minggu, Juni 23, 2024
KilasWakil Ketua PWM Jatim: Islam Andalusia Runtuh Karena Tidak Sami'na Wa Atho'na

Wakil Ketua PWM Jatim: Islam Andalusia Runtuh Karena Tidak Sami’na Wa Atho’na

Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur Tamhid Masyhudi.

WAKIL Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Tamhid Masyhudi meminta agar warga Persyarikatan bersikap secara sami’na wa atho’na terhadap sikap, kebijakan dan keputusan-keputusan yang diambil ataupun yang diinstruksikan oleh pimpinan.

Pesan itu disampaikan dia saat memberikan sambutan mewakili PWM Jawa Timur dalam agenda turba ‘Sosialisasi Tim Adhoc JipolMU Satu Dapil Satu KaderMu’ di Aula Gedung Dakwah Muhammadiyah Bojonegoro, Sabtu (25/11/2023).

Dalam paparannya, Tamhid mencontohkan pada peradaban Islam di Andalusia, yang kini sudah takluk dan hanya menyisakan puing-puing bekas peradaban kejayaan Islam di Spanyol. Kesempatan untuk mengunjungi Negeri Matador sekaligus melihat langsung jejak-jejak sejarah peradaban Islam di Eropa itu didapatkan dari undangan kedutaan besar (Kedubes) Indonesia di sana.

“Kami mendapatkan kesempatan untuk melihat langsung sisa-sisa peradaban kejayaan Islam di Eropa, terutama di Spanyol, di tanah Andalusia,” kata Tamhid.

Islam, kata dia, mulai masuk ke Eropa melalui penaklukan Semenanjung Andalusia pada tahun 711 masehi, dipimpin oleh Tariq bin Ziyad. “Pada masa pemerintahan Khalifah Walid bin Abdul Malik di masa Dinasti Umayyah,” imbuh Tamhid.

Menurut Tamhid, awalnya umat Islam di Andalusia sangat solid, juga patuh kepada pemimpinnya. Namun, di akhir-akhir masa menuju keruntuhannya, umat Islam Andalusia justru terpecah belah dan tidak lagi patuh dan taat kepada pemimpinnya, para keluarga kerajaan juga lebih cinta duniawi, lalu peran-peran ulama mulai terpinggirkan.

“Peradaban hebat Islam di Andalusia, yang kita kenal ada bangunan masjid yang masyhur bernama Masjid Cordoba itu, pada tahun 1492 masehi akhirnya runtuh, karena sudah tidak lagi solid, tidak lagi sami’na wa atho’na dengan pemimpinnya, sebab pemimpinnya juga sudah tidak ada keteladanan,” terangnya.

Lebih lanjut, Tamhid menyimpulkan, kepatuhan dan ketaatan jamaah terhadap pemimpinnya adalah faktor yang penting dalam soliditas sebuah gerakan, sehingga bisa mencapai tujuannya.

“Makanya kita warga Muhammadiyah, kan setiap kali menyanyikan mars sang surya itu sudah kita lantunkan dan kita ikrarkan untuk sami’na wa atho’na, ini hal penting. Jangan sampai justru sami’na wa ‘ashoina (mengingkari, mendurhakai, tidak patuh dan taat),” tandasnya.

Tamhid berharap, warga Persyarikatan betul-betul memaknai dan menghayati lirik mars tersebut, serta mengimplementasikannya dalam praktik nyata pada konteks pesta demokrasi yang akan dihadapi Bangsa Indonesia 2024 mendatang. Dia meminta agar warga Muhammadiyah mendengarkan betul sikap, kebijakan, keputusan dan instruksi pimpinan, lalu tunduk patuh dan taat melaksanakannya, sehingga tercipta suara warga Muhammadiyah yang solid dan bersatu, guna mencapai tujuan Persyarikatan. (*)

Reporter: Ubay

Editor: Aan Hariyanto

Sponsor

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Sponsor

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Sponsor

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Lihat Juga Tag :

Populer