253 Sekolah Rusak Akibat Gempa NTT, Pemerintah Kirim 50 Tenda Darurat

MAKLUMAT — 253 sekolah rusak akibat gempa Nusa Tenggara Timur (NTT), pemerintah mengirim 50 tenda ruang kelas darurat dan menyiapkan dukungan psikososial untuk memastikan anak-anak tetap belajar dengan aman. Gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Laut Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026, berdampak pada satuan pendidikan di tujuh kabupaten di Pulau Flores.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat 253 satuan pendidikan terdampak. Jumlah itu terdiri atas 199 satuan pendidikan PAUD/TK, SD, SMP, dan SKB yang menjadi kewenangan kabupaten serta 54 SMA, SMK, dan SLB di bawah kewenangan provinsi.

Dari lingkungan satuan pendidikan, dua murid dan satu guru dilaporkan meninggal dunia. Pemerintah kini mempercepat pendataan dan penanganan kerusakan untuk menentukan kebutuhan pemulihan di setiap wilayah.

“ Keselamatan warga sekolah menjadi prioritas dalam penanganan dampak gempa. Kemendikdasmen sudah menyiapkan 50 tenda ruang kelas darurat agar kegiatan belajar tetap berjalan tanpa menempatkan siswa dan guru di bangunan yang tidak aman,” tegas Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti dikutip, Senin (17/8/2026).

Abdul Mu’ti  mengatakan pemerintah membagi pengiriman bantuan menjadi dua klaster. Klaster pertama membawa 30 tenda dari Jakarta dan Yogyakarta menuju Labuan Bajo. Bantuan tersebut juga mencakup 1.000 family kit, 200 school kit umum, dan 2.000 school kit SMA/SMK untuk Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, dan Manggarai Barat.

Baca Juga  Nilai TKA Bahasa Inggris dan Matematika Anjlok, Komisi X DPR RI Soroti Masalah Sistem Pembelajaran

Pengiriman klaster pertama, terang dia, dijadwalkan berangkat dari Surabaya pada 20 Agustus menggunakan KM Dharma Rucitra 7 dan tiba di Labuan Bajo pada 22 Agustus. Pemerintah menargetkan pemasangan tenda mulai 23 Agustus 2026.

Untuk klaster kedua membawa 20 tenda dari Malang menuju Pelabuhan Ende. Bantuan tersebut akan mendukung sekolah terdampak di Ende, Ngada, Sikka, dan Nagekeo. Pengiriman dijadwalkan berangkat dari Surabaya pada 21 Agustus menggunakan KM Dharma Rucitra 8.

Kemendikdasmen mengarahkan sekolah menghentikan sementara pembelajaran di ruang kelas yang mengalami kerusakan. Kegiatan belajar dapat dipindahkan ke ruang yang aman atau tenda darurat. Kebijakan ini penting agar proses pendidikan tetap berlangsung tanpa mengorbankan keselamatan siswa dan tenaga pendidik.

Pemerintah juga mempercepat asesmen fisik sekolah. Tim Revitalisasi Satuan Pendidikan menghimpun data awal kerusakan, kemudian melakukan verifikasi lapangan sebagai dasar penanganan berikutnya.

Pemulihan pendidikan tidak hanya membutuhkan ruang kelas. Anak-anak yang mengalami bencana juga membutuhkan pendampingan psikososial agar dapat kembali belajar dan beraktivitas secara aman.

Kemendikdasmen menyiapkan dukungan psikososial bagi warga sekolah melalui kerja sama dengan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI). Pendampingan akan dilakukan setelah tim pendahuluan memastikan kondisi di lapangan.

Baca Juga  Komitmen Bersama Lintas Kementerian, Dorong Pendidikan Antikorupsi Lewat Spirit Lokal

Langkah ini penting karena anak-anak terdampak gempa dapat menghadapi rasa takut, kehilangan rasa aman, serta tekanan psikologis setelah mengalami bencana.

Kemendikdasmen juga menyiapkan perangkat konektivitas Starlink untuk wilayah yang mengalami gangguan listrik dan jaringan telekomunikasi.

Dukungan internet tersebut diharapkan membantu komunikasi dan koordinasi penanganan pendidikan di wilayah yang terdampak gangguan jaringan.