Kuliah Pak Pacee: Kekuasaan Itu Seperti Kuda

Kisah pewayangan "Petruk jadi Raja" yang menggambarkan perubahan karakter Petruk setelah meraih tampuk singgasana. (Ilustrasi diolah menggunakan SORA)

“Pemimpin Hanya Didahulukan Selangkah, Ditinggikan Seranting, Dilebihkan Sebenang”

MAKLUMAT — Mamad terlihat santai menyeruput kopi Gayo yang didapat dari sahabatnya, kopi Gayo memang beda, di samping karena cita rasanya yang khas, aroma dan rasa juga kompleks terkadang sedikit asam.

Mamad telah terbiasa menikmati kopinya tanpa gula, saat ditanya mengapa tanpa gula? Mamad menyampaikan hasil bacaannya, menurutnya kopi merupakan minuman diuretik sehingga akan membuat kita sering buang air kecil, katanya di situlah manfaat kopi tanpa gula, sebab kopi membantu mengeluarkan semua racun dan bakteri melalui urin kita, tegas Mamad sambil membuka halaman baru dari buku yang sedang ia baca.

Mamad baru menyelesaikan buku yang menjadi koleksi di perpustakaan Pak Pacee. Buku tersebut berjudul “Tahta Untuk Rakyat.” Sejatinya buku tersebut merupakan buku kenangan Hamangku Buwono IX kala beliau berusia 70 tahun pada tahun 1982 yang menceritakan kenangan atas proses perubahan pribadi seorang raja di masa modern.

Mamad hampir menuntaskan buku yang dibacanya. Dengan gayanya yang khas Mamad menyampaikan hasil bacaannya, simpulan yang dia ambil dan angkat adalah kesederhanaan bukan kelemahan, melainkan kekuatan moral. Sultan hidup bersahaja di tengah posisinya yang tinggi, karena ia paham bahwa kemewahan pemimpin sering kali menjadi luka bagi rakyat.

Luar biasa kamu Mad, Pak Pacee mengamini apa yang disampaikan Mamad dan meneruskan ulasan bahwa “Kekuasaan itu seperti kuda, Mad,” kata Pak Pacee sambil menyesap kopi yang mulai dingin. “Kalau enggak tahu cara menuntunnya, kita yang bakal diseret kemana-mana.” Mamad mengernyit. “Tapi Pak, bukankah kuda itu simbol keperkasaan raja?” Pak Pacee tersenyum tipis. “Betul, tapi lebih sering jadi simbol nafsu yang tak pernah kenyang.”

Banyak pemimpin berangkat dari titik yang sama, rakyat biasa, berjuang bersama, namun ketika jabatan datang, jarak pun tercipta, kebiasaan berubah, yang dulu mendengar kini gemar memerintah, seolah singgasana membuat telinga tuli dan hati kebal.

Baca Juga  "Republik Netizen": Siapa Sebenarnya Pemegang Kedaulatan?

Sambil bersandar di pilar yang ada di pojok ruangan, Maman ikut nimbrung, Pak aku pernah baca sebuah kisah pewayangan ”Petruk Jadi Ratu,” sepertinya kisah tersebut bagian dari otokritik bagi kondisi para penguasa yang hanya mengejar kekuasaan, kedudukan atau status sosial, tetapi tak memikirkan rakyat yang miskin dan menderita. Benar! tegas Pak Pacee. Petruk lupa, dulu dia pernah berjalan kaki meniti jalan sunyi.

Dalam dunia pewayangan, kisah “Petruk dadi Ratu” yang kadang ditulis juga “Petruk jadi Raja” selalu hadir sebagai cermin retak bagi manusia yang tiba-tiba naik singgasana. Petruk, yang lahir dari “geng” punakawan dekat dengan tanah, tawa, dan laku rakyat kecil, mendadak bergelar Prabu Kantong Bolong. Gelar itu lucu, tetapi juga getir. Kantongnya boleh bolong, namun kuasanya penuh.

Jajar mengaduk kopi yang ada di hadapannya, pantang bagi Jajar ngopi tanpa gula. “Aku heran, kenapa banyak pemimpin baru mendadak alergi kritik?” melihat Jajar sudah mulai angkat suara, Qiqi menjawab polos “Mungkin karena telinganya tertutup mahkota. Pak Pacee tertawa kecil. “Mahkota itu berat. Tapi yang lebih berat adalah menjaga diri tetap membumi.”

Mamad kembali mengangguk. “Berarti makin tinggi jabatan, mestinya makin sering menunduk?” “Persis,” jawab Pak Pacee, “Bukan supaya terlihat rendah, tapi supaya tetap ingat tanah tempat berpijak.”

Dalam kisah diceritakan, sejak mahkota bertengger di kepala, nilai-nilai egaliter yang ada dalam diri Petruk pelan-pelan menguap. Petruk tak lagi ramah seperti dulu, tak lagi menyapa setara, terkadang hanya melengos saja. Ia melengos bukan karena tak mengenal, melainkan karena jabatan telah mengajarinya berpura-pura lupa pada wajah-wajah yang dulu berjalan bersamanya. “Mungkin Petruk sudah lupa bila dahulu ia duduk di lantai yang sama dengan kawan-kawannya, makan dari piring yang sama, dan menertawakan nasib dengan cara yang sama,” pungkas Maman.

Baca Juga  Blackout Batam: Ketika Listrik Padam, Ketahanan Ekonomi dan Kredibilitas Kota Dipertaruhkan

“Pak,” tanya Maman pelan, “Kalau aturan dilanggar atas nama perintah atasan, kita harus bagaimana?” Pak Pacee terdiam sebentar. “Aturan itu seperti kompas. Kalau rusak, kapal akan tetap jalan, tapi tak tahu ke mana.” “Lalu nurani?” tanya Jajar. “Itulah jangkar,” jawab Pak Pacee. “Tak terlihat, tapi menahan kita agar tak hanyut.”

Dalam kisah pewayangan “Petruk Jadi Ratu” dikisahkan Petruk perlahan melupakan jati dirinya yang sesungguhnya. Ia terikat pada peran baru sebagai raja, penguasa, dan pusat segalanya. Kelucuan yang dahulu dekat dengan rakyat menjelma menjadi sindiran, sementara sikap sederhana bergeser menjadi hasrat untuk dipuja dan diakui.

Pak Pacee menyampaikan pada Mamad, Maman, dan lainnya yang ada di sana saat itu, bahwa kisah “Petruk jadi Raja” atau “Petruk jadi Ratu” terasa akrab di telinga kita hari ini. Banyak pemimpin berangkat dari titik nol, sama-sama rakyat, bersahabat, namun ketika jabatan datang, jarak pun tercipta.

Kebiasaan berubah, yang dulu mendengar kini lebih sering memerintah, yang dulu sederhana kini sibuk dengan simbol dan fasilitas. Kepemimpinan sejatinya bukan tentang apa yang ditunggangi, melainkan ke mana arah yang dituju.

Dalam setiap kepemimpinan baru, ada godaan besar untuk lupa asal-usul. Lupa bahwa kekuasaan bukan tangga untuk menjauh, melainkan jembatan untuk mendekat. Petruk lupa hal itu dan para punggawa menanggung risikonya. Mereka terjepit antara takut kepada raja dan tanggung jawab pada aturan. Di sinilah kita belajar: kepemimpinan yang salah arah selalu melahirkan penderitaan struktural.

Banyak pemimpin berangkat dari tujuan mulia, namun mengalami perubahan setelah berada di puncak kuasa. Perubahan itu bukan karena niat jahat, melainkan karena pertumbuhan batin tidak sejalan dengan besarnya wewenang yang dimiliki. Kekuasaan yang mestinya digunakan untuk mengabdi justru bergeser menjadi sarana memuaskan ego.

Ajaran KH. Ahmad Dahlan telah mengajarkan kita semua, bahwa kita semua adalah sama, berangkat bersama dengan kesamaan, kebersamaan, tanpa kelas, tanpa jarak. Bagi beliau semua sama di hadapan Allah Swt, tak ada ruang untuk menyombongkan diri, apalagi sekedar jabatan. Pak Pacee perlahan memeruskan perkataannya, “pemimpin itu harus selalu ingat, bahwa satu masa nanti para pemimpin juga harus berdiri tanpa atribut apa pun.”

Baca Juga  HP Gratis untuk Masyarakat, Belajar dari India?

Buya Syafii sering mengulang filosofi kepemimpinan Melayu: “Pemimpin hanya didahulukan selangkah, ditinggikan seranting, dilebihkan sebenang.” Ungkapan itu bisa dimaknai pemimpin itu dekat. Begitu dekat hingga ketika ia keliru melangkah, yang dipimpin masih mampu merengkuh dan mengembalikannya ke jalan benar.

Petruk boleh gagal menjaga jarak. Singgasananya kala itu terlalu tinggi, suaranya terlalu jauh, maka kritik tak lagi sampai dan kesalahan terus berulang. Pak Pacee dengan suara lirih menyampaikan kepada murid-muridnya, dari kisah pewayangan “Petruk Jadi Ratu” kita belajar bahwa kepemimpinan bukan soal naik derajat, melainkan menjaga kedekatan, bukan tentang menjadi paling depan, tetapi tetap bisa disentuh dari belakang.

“Pak,” kata Maman sebelum pulang, “Kalau Petruk bisa bicara sekarang, kira-kira dia bilang apa?” Pak Pacee memandang ke cangkir kopinya yang telah kosong. “Mungkin begini,” katanya menirukan suara Petruk, “Aku salah bukan karena jadi raja, tapi karena lupa jadi manusia.”

Mereka pun terdiam. Banyak kisah kepemimpinan selalu berakhir di sana, bukan pada singgasana, melainkan pada kesadaran untuk kembali pulang ke diri sendiri. Petruk seakan bercakap dengan bayangnya yang lama. “Kenapa makin tinggi singgasana, makin sepi suara?” gumamnya. Bayangan barunya pun menjawab lirih, “Kau raja, tapi bukan lagi kawan.”

“Seorang pemimpin tidak menjadi besar karena jarak yang ia ciptakan, tetapi karena kedekatan yang ia jaga dengan rakyatnya.” Buya Syafii juga pernah berujar, “Tahta akan runtuh, jabatan akan berlalu, tetapi jejak moral akan tinggal dalam sejarah.”