Psikolog Umsura: Surat Terakhir YBR, Siswa SD NTT Ungkap Tekanan Emosi Akibat Beban Ekonomi Keluarga

ybr

MAKLUMAT– Surat yang dtulis Yohanes Bastian Roja (YBR), siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) sebelum ditemukan meninggal dunia akibat bunuh diri, mencerminkan tekanan emosi yang sangat kuat pada diri anak.

Pernyataan tersebut disampaikan Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Marini, Jumat (6/2/2026). Surat tersebut menggunakan bahasa daerah Bajawa. Dalam isinya, korban menuliskan keluhan emosional, termasuk menyebut sang ibu bersikap pelit dan meminta agar kepergiannya tidak perlu ditangisi.

Marini menduga kondisi tersebut berkaitan erat dengan beban stres ekonomi keluarga yang secara tidak langsung memengaruhi kesehatan mental korban.

“Anak usia 10 tahun sudah bisa mengalami depresi berat. Kalimat seperti ‘Mama pelit sekali’ menunjukkan rasa terluka dan perasaan ditolak secara emosional,” ujar Marini.

Menurutnya, tekanan ekonomi berkepanjangan sering membuat orang tua berada dalam kondisi tegang dan kelelahan emosional. Situasi itu dapat membuat respons terhadap anak menjadi minim, bahkan tanpa disadari.

“Anak yang sensitif bisa menangkap perubahan sikap tersebut dan menafsirkannya sebagai penolakan atau anggapan bahwa dirinya adalah beban keluarga,” jelas Marini.

Ia menegaskan anak belum memiliki kesiapan psikologis untuk memahami persoalan kompleks seperti kemiskinan atau tekanan ekonomi. Tanpa pendampingan emosional yang memadai, anak memproses masalah orang dewasa dengan cara berpikir sederhana dan hitam-putih.

Baca Juga  Pencegahan Korupsi di Kampus Diperkuat, KPK Gandeng Umsura Bangun Integritas

“Kecemasan di rumah dapat terserap oleh anak. Jika tidak ada ruang aman untuk bertanya dan mengekspresikan perasaan, anak bisa menarik kesimpulan keliru dan mengambil keputusan dengan pemahaman yang sangat terbatas,” ungkapnya.

Marini mengimbau keluarga dan sekolah agar lebih peka terhadap perubahan perilaku sekecil apa pun pada anak. Kehadiran emosional yang stabil dan konsisten sangat penting agar anak memahami bahwa persoalan hidup adalah tanggung jawab orang dewasa, bukan beban mereka.

Ia mengingatkan pentingnya akses bantuan profesional bagi siapa pun yang menunjukkan gejala depresi atau keinginan mengakhiri hidup. Layanan darurat Kementerian Kesehatan dapat dihubungi melalui nomor 119 untuk mendapatkan pertolongan segera.