Tabligh Akbar Ustaz Salim A Fillah di Tulangan: Meniti Jalan Dakwah dengan Bashirah

Tabligh Akbar PCNA Tulangan bersama Ustaz Salim A Fillah, Ahad (8/2/2026). (Foto: Devita/ IST)

MAKLUMAT — Masjid At-Taqwa Kenongo, Tulangan, dipadati jamaah pada Ahad (8/2/2026) dalam Tabligh Akbar bersama Ustaz Salim A Fillah bertajuk “Meniti Jalan Dakwah: Inspirasi dan Motivasi bagi Pejuang Dakwah.”

Kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi mendalam bagi para aktivis dakwah, khususnya generasi muda perempuan yang tergabung dalam gerakan Nasyiatul Aisyiyah (NA).

Kajian tersebut tidak sekadar menjadi forum ceramah, melainkan perjalanan makna bagi siapa pun yang merasa terpanggil untuk berdakwah, baik di mimbar, di rumah, di lingkungan kerja, maupun di ruang-ruang sunyi kehidupan.

Dalam tausiyahnya, Ustaz Salim A Fillah menegaskan bahwa jalan dakwah merupakan jalan panjang yang memiliki arah dan pedoman yang jelas. Ia mengajak jamaah untuk kembali merujuk kepada Al-Quran, khususnya Surat Yusuf ayat 108:

“Katakanlah: Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (manusia) kepada Allah dengan bashirah (ilmu dan kesadaran)…” (QS Yusuf: 108)

Menurutnya, ayat tersebut merupakan peta jalan dakwah yang menegaskan pentingnya bashirah dalam setiap langkah dakwah. Dakwah, kata dia, tidak cukup hanya berbekal semangat.

“Semangat tanpa ilmu berpotensi menyesatkan, sementara ilmu tanpa keikhlasan akan kehilangan ruhnya. Bashirah menjadi kunci untuk memahami kondisi mad’u, memilih kata yang tepat, serta menghadirkan akhlak yang hidup dalam keseharian,” ujarnya.

Baca Juga  KPU Probolinggo Gelar Sosialisasi Pendidikan Pemilih Bareng Nasyiatul Aisyiyah

Bashirah sendiri secara sederhana dapat diartikan sebagai mata hati, ketajaman iman, atau cahaya dalam hati yang dianugerahkan Allah Swt untuk melihat kebenaran, membedakan yang hak dan batil, serta memahami makna mendalam di balik hal inderawi. Ini adalah kemampuan batiniah yang menyingkap hakikat, memungkinkan manusia mengenali pencipta-Nya dan jalan yang haq dengan benar.

Lebih jauh, Ustaz Salim A Fillah juga menguraikan bahwa Surat Yusuf tidak hanya memuat prinsip-prinsip dakwah, tetapi juga menghadirkan kisah teladan Nabi Yusuf, sebagai gambaran nyata perjalanan seorang dai.

“Nabi Yusuf berdakwah dalam berbagai fase kehidupan, mulai dari keterasingan, godaan, fitnah dan penjara, hingga saat memegang kekuasaan. Dalam setiap fase tersebut, nilai tauhid tetap ditegakkan dan dakwah terus hidup,” tandasnya.

Keteladanan akhlak Nabi Yusuf juga ditekankan sebagai kekuatan utama dakwah. Sikap menjaga kehormatan diri, kesabaran menghadapi fitnah, serta kelapangan hati dalam memaafkan menjadi inspirasi dakwah yang relevan dengan tantangan aktivis perempuan masa kini, yang kerap berhadapan dengan tekanan sosial, stigma, dan kompleksitas peran.

Ustaz Salim A Fillah menegaskan bahwa dakwah bukan sekadar aktivitas seremonial, melainkan proses panjang dalam membangun peradaban. Dalam konteks Nasyiatul Aisyiyah, dakwah merupakan kerja kolektif yang terstruktur, berkelanjutan, adaptif, dan responsif terhadap perkembangan zaman, tanpa meninggalkan nilai-nilai Al-Quran dan Sunnah.

Baca Juga  Hari Ibu; Bakti Nasyiah kepada Perempuan dan Anak

Tabligh Akbar yang berlangsung khidmat tersebut diharapkan mampu menguatkan semangat kader dan jamaah untuk terus meniti jalan dakwah dengan penuh kesadaran, keikhlasan, dan ilmu.

“Sebagaimana pesan dalam Surat Yusuf ayat 108, dakwah adalah jalan yang jelas, terarah, dan bernilai ibadah ketika dijalani dengan bashirah dan keteladanan,” pesannya,