MAKLUMAT — Dakwah tidak berhenti pada aktivitas panggung atau rutinitas mingguan semata. Ia merupakan jalan panjang yang menuntut kejelasan arah, keteguhan niat, serta kelapangan jiwa.
Pesan tersebut mengemuka dalam tabligh akbar yang digelar Pimpinan Cabang Nasyiatul Aisyiyah (PCNA) Tulangan bersama Ustaz Salim A Fillah, yang merujuk pada QS Yusuf ayat 108 sebagai fondasi refleksi bagi para pejuang dakwah.
Ayat tersebut mengajak para dai untuk merenungi jalan yang dipilih, cara menyeru, serta adab dalam menjaga kemuliaan dakwah itu sendiri. Jalan dakwah dipahami bukan sebagai ruang yang steril dari persoalan, melainkan medan ujian yang menuntut konsistensi dan kesungguhan.
Dalam refleksi yang disampaikan, kisah Nabi Yusuf menjadi gambaran nyata tentang “inilah jalanku”, yakni deklarasi pilihan hidup para nabi. Jalan dakwah bukan jalan aman tanpa risiko. Ia sarat ujian, kesalahpahaman, pengkhianatan, bahkan kesendirian. Tidak banyak yang bersedia menapakinya karena konsekuensinya besar.
“Namun justru karena berat itulah, nilainya tinggi di sisi Allah, dengan ganjaran besar bagi mereka yang tetap lurus meski berkali-kali diuji,” ujar Ustaz Salim A Fillah.
Inti dakwah juga ditekankan sebagai upaya menyeru manusia menuju Allah, bukan menuju ketokohan, kelompok, atau kepentingan tertentu. Keteladanan menjadi kunci utama. Akhlak diposisikan sebagai bahasa pertama yang dipahami manusia. Ketika kehidupan seorang dai selaras dengan ucapannya, dakwah menjadi kuat tanpa harus bergantung pada retorika.
Refleksi lainnya menyoroti pentingnya mengikat hati sebelum mengajak. Dakwah yang efektif dimulai dari sentuhan hati, bukan dari tuntutan. Prinsip “mudahkan, jangan dipersulit” dipahami bukan sebagai kompromi terhadap kebenaran, melainkan strategi kenabian. Hati yang merasa diterima akan lebih siap untuk diarahkan dan dibimbing.
Lebih lanjut, QS Yusuf ayat 108 juga menegaskan bahwa dakwah harus berdiri di atas bashirah, yakni bukti yang nyata, ilmu yang jelas, serta pemahaman yang sadar.
“Dakwah bukan sekadar luapan semangat, melainkan tanggung jawab ilmiah dan moral. Dengan ilmu, dakwah menjadi terang, sementara tanpa ilmu, ia rentan tergelincir menjadi klaim dan emosi semata,” tandas Ustaz Salim A Fillah.
Peringatan penting lainnya adalah agar dakwah tidak justru menghinakan Allah. Ujaran kasar, sikap merasa paling suci, atau cara penyampaian yang merendahkan orang lain berpotensi merusak pesan ilahi. Dakwah seharusnya memuliakan Allah dengan adab, kasih sayang, dan kerendahan hati. Ketika adab hilang, kebenaran pun kehilangan cahayanya.
Tabligh akbar tersebut menjadi pengingat bahwa dakwah adalah jalan kesadaran, bukan sekadar aktivitas. Ia menuntut kejelasan tujuan, kelembutan cara, kekuatan ilmu, dan kemuliaan adab. Inilah jalan para nabi—berat dan terkadang sunyi, namun penuh cahaya bagi mereka yang setia menapakinya.













