Penjelasan Terbaru Muhammadiyah: Tegaskan Awal Ramadhan Bisa Berbeda, Ini Alasan Ilmiah KHGT

muhammadiyah

MAKLUMAT— Pimpinan Pusat Muhammadiyah menegaskan kemungkinan perbedaan awal Ramadhan tetap terbuka selama pendekatan penetapan kalender hijriah masih berbeda. Penjelasan itu mengemuka dalam Pengajian PP Muhammadiyah di Jakarta, akhir pekan kemarin.

Isu ini kembali menjadi perhatian publik karena menyentuh pertanyaan mendasar umat Islam, mungkinkah awal puasa benar-benar seragam jika metode yang digunakan tidak sama? Berikut penjelasan terbarunya.

Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Maesyarah menjelaskan Muhammadiyah kini meninggalkan metode hisab hakiki wujudul hilal dan beralih ke Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

“KHGT menggunakan parameter astronomi global dengan tiga kriteria utama, yakni tinggi hilal minimal 5 derajat, elongasi minimal 8 derajat dan ijtimak terjadi sebelum pukul 24.00 UTC dan jika kriteria itu terpenuhi di mana pun di dunia, maka itu ditetapkan sebagai awal bulan hijriah,” jelas Maesyarah.

Pendekatan ini, lanjut dia, memakai prinsip matlak global. Berbeda dengan pemerintah yang menggunakan pendekatan wilayah hukum nasional (wilayatul hukmi), KHGT melihat posisi hilal dalam skala dunia. Perbedaan kerangka inilah yang membuat awal Ramadhan berpotensi tidak selalu sama.

Mengapa Selandia Baru Bisa Jadi Acuan?

Dalam sesi tanya jawab, peserta menyoroti kemungkinan wilayah seperti Selandia Baru menjadi referensi awal bulan. Maesyarah menjelaskan ijtimak memang terjadi secara global. Namun KHGT memperhitungkan lokasi pertama yang memasuki waktu fajar setelah ijtimak dan memenuhi kriteria astronomis.

Baca Juga  Menteng Institute: Kepemimpinan Abdul Mu’ti di Kemendikdasmen Inklusif dan Berkeadilan

Dalam kondisi tertentu, wilayah seperti Selandia Baru lebih dahulu mengalami fajar dan memenuhi syarat kalender global. Artinya, acuan bukan semata posisi hilal di Indonesia, melainkan parameter global yang terukur.

Perbedaan Bukan Hal Baru

Sementara itu, Arwin Juli Rakhmadi Butar-butar dari Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah menyatakan Muhammadiyah menilai perbedaan awal Ramadhan bukan fenomena baru. Bahkan sebelum KHGT diterapkan, perbedaan dengan pemerintah sudah beberapa kali terjadi.

‘’ Keunggulan metode hisab terletak pada kepastian jangka panjang. Kalender hijriah dapat disusun puluhan tahun ke depan, karena berbasis perhitungan astronomi. Kalender 1450 Hijriah sudah bisa diakses sekarang, karena kita menggunakan hisab,” ujar Arwin, Senin (16/2/2026).

Ia juga menyinggung bahwa praktik rukyat di lapangan terkadang tidak sepenuhnya sejalan dengan data astronomi, sehingga faktor non-teknis bisa memengaruhi keputusan.

Agenda Global Muhammadiyah

Arwin menegaskan KHGT bukan sekadar agenda nasional, melainkan proyek global. Muhammadiyah aktif berdialog dengan akademisi dan pakar dari Malaysia, Mesir, hingga Suriah. Jaringan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) di luar negeri turut dilibatkan dalam sosialisasi.

“Konsep ini global. Kita tidak boleh menjadi katak dalam tempurung,” tegasnya.

Baca Juga  Prof Syafiq A Mughni Bakal Paparkan Islam Berkemajuan di Oxford

Bagi komunitas Muslim minoritas di Eropa dan Amerika, terang dia, kalender global dinilai memberi manfaat administratif, termasuk kepastian dalam pengajuan cuti hari raya.

Kepastian Ditawarkan, Perbedaan Masih Mungkin

KHGT menawarkan kepastian berbasis sains dan sistem global terintegrasi. Namun selama pendekatan lokal dan global berjalan berdampingan, potensi perbedaan awal Ramadhan tetap ada. Muhammadiyah memandang dinamika ini sebagai bagian dari proses panjang menuju kesatuan kalender Islam dunia.

Di tengah perbedaan metode, semangat menyambut Ramadhan tetap sama, yakni memperkuat kesiapan spiritual dan kebersamaan umat.***