Fadli Zon di UMSURA, Bicarakan Out of Nusantara hingga Industri Film Nasional

MAKLUMAT — Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon menjadi pembicara dalam Stadium General Baitul Arqam Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA). Agenda ini berlangsung di At-Tauhid Tower UMSURA pada Sabtu (21/2/2026).

Banyak hal yang ia sampaikan dalam forum ini. Salah satunya adalah istilah Out of Nusantara untuk menegaskan posisi strategis Indonesia dalam sejarah migrasi manusia.

“Selama ini dikenal teori Out of Africa. Namun bukan tidak mungkin nenek moyang Nusantara bermigrasi ke Pasifik, Australia, bahkan sampai ke Afrika,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sejumlah temuan menunjukkan jejak kehidupan manusia purba di Nusantara telah ada sejak 60.000 hingga 70.000 tahun lalu. Menurutnya, temuan itu membuka ruang kajian baru tentang kemungkinan arus migrasi yang tidak selalu berpusat dari satu wilayah.

Politisi asal Partai Gerindra itu mendorong kalangan akademisi untuk terus meneliti dan mendiskusikan peran kawasan Nusantara dalam peta peradaban dunia. Menurutnya, hal semacam ini akan menjadi fondasi penting bagi pembangunan nasional dan identitas bangsa.

Selain prasejarah, Fadli menyoroti peran museum sebagai etalase peradaban. Ia mencontohkan Museum Louvre di Paris, Prancis serta sejumlah museum besar di Amerika Serikat yang menjadi simbol identitas budaya dan pusat edukasi publik.

Baca Juga  BioSmart Grease Trap Jadi Andalan, KKN 30 UMSURA Jalankan Tujuh Program di Sidowungu Gresik

Ia menilai Indonesia perlu memperkuat fungsi serupa agar masyarakat mengenal sejarah dan kebudayaannya sendiri. “Kita berharap museum-museum di Indonesia menjadi pusat edukasi dan etalase peradaban bangsa,” katanya.

Fadli kemudian menyinggung perkembangan industri kreatif, khususnya film nasional. Ia mencatat film Indonesia kini menguasai sekitar 67 persen pangsa pasar domestik. Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan peningkatan kepercayaan publik terhadap karya dalam negeri.

Ia juga menyinggung keberhasilan film animasi Jumbo yang mencetak rekor penonton domestik. Selain itu, film-film Indonesia terus tampil di berbagai festival internasional, seperti Festival Film Rotterdam, Berlin International Film Festival, Sundance Film Festival, hingga Festival Film Cannes.

Menurutnya, partisipasi itu memperluas ruang apresiasi sekaligus memperkenalkan perspektif Indonesia ke dunia. “Kebudayaan adalah fondasi. Di mana pun latar belakang kita, tidak pernah bisa dilepaskan dari budaya,” katanya.​