MAKLUMAT — Perseteruan antara Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai dengan Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM) Zainal Arifin Mochtar alias Uceng memanas di media sosial.
Keduanya saling sindir soal pemahaman HAM. Pembahasan lalu berlanjut dengan wacana untuk berdebat di televisi nasional maupun siaran langsung.
Polemik ini bermula dari ucapan Pigai yang viral beberapa waktu lalu. Ia mengklaim memahami prinsip HAM sejak usia lima tahun dan yakin tidak mungkin salah.
Pernyataan itu memicu respons dari Uceng. Ia mengutip klasifikasi Imam Al Ghazali tentang empat tipe manusia terkait pengetahuan, dan menyiratkan Pigai masuk kategori orang yang tidak tahu tapi tidak sadar ketidaktahuannya.
Pigai membalas dengan sebuah unggahan di akun X pribadinya @NataliusPigai2 pada Rabu (25/2/2026). Ia menilai kritik yang diarahkan kepadanya tidak mencerminkan kedalaman pemikiran seorang guru besar.
“Sepengetahuan saya seorang Guru Besar memiliki tingkat pemahaman yang tinggi tentang esensi kehidupan, berpikir dalam bahasa sastra yang tinggi, pemahaman filosofis yang tinggi tetapi rupanya Anda hanya guru yang dibesar-besarkan,” ujarnya.
Melalui akun X pribadinya @zainalamochtar pada Kamis (26/2/2026), Uceng membalas, “Saya setuju dengan Bapak. Sering kali profesor itu dibesar-besarkan saja. Saya izin mau belajar memahami HAM dari Bapak.”
“Saya ingin berdiskusi dan mendebatkan satu per satu kasus HAM di Indonesia yang katanya Bapak sudah amat pahami itu. Sebut saja kapan dan di mana saya bisa belajar,” imbuhnya.
Pigai pun menanggapi bahwa ia setuju jika hal tersebut dilakukan di TV nasional dan disiarkan secara langsung. Ia menegaskan bahwa pembahasan harus berada pada tataran ilmiah.
“Saya setuju di TV Nasional dan live. Anda yang undang maka saya minta Anda yang siapkan. Kita bicara dalam tataran ilmiah. Saya benar-benar mau ajari Anda soal HAM agar paham,” ujarnya.
Pigai pun membagikan sebuah tautan video dari kanal YouTube Fadli Zon Official. Video yang diunggah lima tahun lalu itu berisi podcast saat ia menjadi tamu undangan. Ia kemudian meminta Uceng untuk menontonnya terlebih dahulu.
“Tapi nonton ini dulu untuk sekedar tambahan ilmu HAM Anda sebelumnya debat dengan saya. Jujur saya sangat mau biar rakyat Indonesia nonton seberapa hebat ilmu HAM seorang profesor,” tandasnya.














