MAKLUMAT — Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai membalas kritik Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Zainal Arifin Mochtar. Pigai menilai kritik yang diarahkan kepadanya tidak mencerminkan kedalaman pemikiran seorang guru besar.
“Sepengetahuan saya seorang Guru Besar memiliki tingkat pemahaman yang tinggi tentang esensi kehidupan, berpikir dalam bahasa sastra yang tinggi, pemahaman filosofis yang tinggi tetapi rupanya Anda hanya Guru yang dibesar-besarkan,” ujarnya melalui akun X pribadinya @NataliusPigai2 pada Rabu (25/2/2026).
Polemik ini berawal dari pernyataan Pigai yang sempat viral di media sosial. Ia menyebut telah memahami hak asasi manusia sejak berusia lima tahun dan merasa tidak mungkin salah dalam memaknai prinsip tersebut.
Ucapan itu memicu beragam reaksi publik. Prof Zainal termasuk yang menanggapi pernyataan tersebut melalui akun media sosialnya dengan mengutip pandangan Imam Al Ghazali tentang empat tipe manusia.
Pertama, orang yang tahu dan sadar bahwa dirinya tahu sehingga layak menjadi panutan. Kedua, orang yang tahu tetapi tidak menyadari pengetahuannya sehingga perlu disadarkan.
Ketiga, orang yang tidak tahu namun sadar bahwa dirinya tidak tahu sehingga perlu belajar. Keempat, orang yang tidak tahu dan tidak menyadari ketidaktahuannya.
“Keempat, orang yang tidak tahu dan dia tidak tahu bahwa dia tidak tahu. Orang jenis ini sesat dan menyesatkan, perlu dihindari,” tulisnya.
Pigai lalu merespons dengan menceritakan latar belakang hidupnya di Papua. Ia menyebut tumbuh di Enarotali, Kabupaten Paniai, Papua Tengah yang ia gambarkan sebagai wilayah konflik antara Organisasi Papua Merdeka (OPM) dan militer Indonesia.
Sejak kecil, ia mengaku menyaksikan langsung situasi yang mempertemukan hidup dan mati, rasa takut, kelaparan, serta ketidakadilan. Pengalaman itu membentuk pemahamannya tentang HAM jauh sebelum ia terjun sebagai aktivis maupun pejabat negara.
“Di situ saya rasakan batas tipis antara hidup dan mati, baik dan jahat, bagaimana orang jerit, ratap dan rintih, haus dan lapar, adil dan tidak adil. Mana sakit dan senang. Itulah esensi dasar HAM universal yang dimaknai umat manusia termasuk saya,” jelasnya.
Pigai menegaskan bahwa perjalanan hidup tersebut menempa karakter dan integritasnya selama puluhan tahun berkecimpung di isu HAM. “Perjalanan hidup yang membentuk karakter dan integritas saya selama puluhan tahun sebagai pembela orang-orang tertindas, pengungkap suara bagi mereka yang tak bersuara,” imbuhnya.
Ia menyebut pernah menjadi korban pelanggaran HAM dan kemudian dipercaya memimpin kementerian yang mengurusi bidang tersebut. Menurutnya, berbagai kritik dan serangan telah menjadi bagian dari proses yang dijalaninya.
“Saya telah tunjukkan integritas saya sebagai penjaga kaum lemah (de oppresso liber). Dari seorang korban HAM hingga menjadi orang nomor satu di bidang HAM di RI. Saya bekerja mencatat sejarah, menyelami sejarah, dan menentukan sejarah HAM di Republik ini,” ujarnya.












