Siapa Pengganti Ayatollah Ali Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi dan Bagaimana Iran Ke Depan?

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dikonfirmasi terbunuh dalam serangan yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke kediamannya. (Foto: SS Tasnim)

MAKLUMAT — Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei telah dikonfirmasi terbunuh dalam serangan gabungan yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada Sabtu (28/2/2026).

Dilansir dari media Pemerintah Iran, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran dalam pernyataannya di telegram, menyebut Khamenei sebagai sosok yang teguh, simbol iman, jihad, dan perlawanan yang gugur akibat “serangan brutal pemerintah kriminal Amerika dan rezim zionis.”

Khamenei memang bukan sosok sembarangan dalam dunia Islam. Ia masuk dalam jajaran 500 tokoh muslim paling berpengaruh di dunia versi The Muslim 500, bahkan konsisten dalam 10 besar. Ali Khamenei telah memimpin Iran sejak 1989, menggantikan Ayatullah Ruhollah Khomeini yang wafat.

Sistem Republik Teokrasi ala Iran

Dalam sistem republik teokrasi yang dianut Republik Islam Iran, kekuasaan tertinggi berada di tangan pemimpin tertinggi (Rahbar/ supreme leader) yang berasal dari kalangan agamawan/ulama. Meskipun dalam struktur pemerintahannya tetap memiliki Presiden sebagai kepala pemerintahan sipil.

Dalam konteks Iran, pemilihan pemimpin tertinggi berada di tangan Majelis Ahli, yakni sebuah lembaga yang beranggotakan 88 ulama senior, yang memiliki mandat konstitusional untuk memilih pemimpin tertinggi Iran yang baru.

Sebelumnya, Ali Khamenei sendiri disebut-sebut telah mempersiapkan diri menghadapi situasi semacam ini. Pada sekitar Juni 2025 lalu dalam momentum perang 12 hari antara Israel yang dibantu AS melawan Iran, ia sempat menyebut setidaknya tiga sosok yang dinilai tepat untuk bisa menggantikannya.

Baca Juga  Komisi Pengawasan Nuklir Arab Saudi: Tidak Ada Dampak Radioaktif Usai Serangan AS ke Fasilitas Nuklir Iran

Tiga sosok yang dimaksud Khamenei adalah Kepala Peradilan Gholam-Hossein Mohseni-Eje’i yang diduga juga ikut terbunuh dalam serangan AS-Israel kemarin. Kemudian ia juga menyebut nama Ali Asghar Hejazi yang merupakan Kepala Stafnya, serta Hassan Khomeini yang merupakan cucu Ayatullah Ruhollah Khomeini yang menggelorakan revolusi Islam, sekaligus sosok yang dikenal sebagai ulama moderat.

Di sisi lain, sosok seperti Hashem Hosseini Bushehri juga dinilai berpotensi menjadi pengganti Khamenei, terlebih ia merupakan ulama senior yang dikenal memiliki koneksi dekat dengan lembaga-lembaga kunci, khususnya Majelis Ahli.

Nama putra kedua Ali Khamenei, yakni Mojtaba Khamenei (56), juga disebut berpotensi menggantikan sang ayah sebagai pemimpin tertinggi Iran. Namun, peluangnya dinilai sangat tipis, terlebih bahwa Khamenei pernah mengatakan tidak ingin jabatan diwariskan secara turun-temurun.

Terkini, dilansir dari berbagai sumber, beberapa nama muncul ke permukaan yang disebut-sebut berpotensi menjadi pemimpin tertinggi Iran baru antara lain Alireza Arafi (67), Mohammad Mehdi Mirbagheri (65), Hassan Khomeini (53), Hashem Hosseini Bushehri (70), serta Mojtaba Khamenei (56) meskipun disebut-sebut peluangnya tipis.

1. Alireza Arafi (67)

Alireza Arafi merupakan ulama berpengalaman yang diketahui dekat dengan Ali Khamenei. Ia saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Ahli, serta pernah menjadi anggota Dewan Wali, lembaga yang menyeleksi kandidat Pemilu dan meninjau undang-undang parlemen.

Arafi juga memimpin sistem seminari nasional Iran. Meski memiliki reputasi keagamaan kuat, sejumlah analis menilai ia relatif minim pengaruh politik dan tidak memiliki kedekatan signifikan dengan IRGC—faktor penting dalam peta kekuasaan Iran saat ini.

Baca Juga  PP Muhammadiyah Kecam Serangan AS-Israel ke Iran, Minta PBB Jatuhkan Sanksi Tegas

2. Mohammad Mehdi Mirbagheri (65)

Mohammad Mehdi Mirbagheri dikenal sebagai ulama garis keras dan “ideolog tulen Republik Islam”. Ia anggota Majelis Ahli yang mewakili faksi paling konservatif dalam kalangan ulama, serta memimpin Akademi Ilmu Pengetahuan Islam di kota suci Qom.

Pandangan anti-Baratnya sangat tegas. Ia disebut-sebut meyakini bahwa konflik antara “kaum beriman dan kafir” sebagai keniscayaan yang tak dapat dihindarkan.

Figur Mirbagheri dipandang mampu menjaga garis tegas Iran, tetapi hal itu juga dinilai berisiko memperdalam isolasi internasional dan tekanan ekonomi.

3. Hassan Khomeini (53)

Figur satu ini merupakan cucu dari Ayatullah Ruhollah Khomeini, yaitu sosok yang menggelorakan revolusi Islam Iran dan pemimpin tertinggi Iran pertama, sebelum wafat dan digantikan oleh Ali Khamenei.

Sebagai cucu pendiri Republik Islam Iran, Hassan Khomeini memiliki legitimasi simbolik yang cukup kuat. Saat ini ia mengelola Mausoleum Khomeini, pusat simbol revolusi Iran.

Meski begitu, ia belum pernah memegang jabatan publik dan tampaknya memiliki pengaruh yang terbatas di internal keamanan atau elite politik Iran. Ia juga dikenal lebih moderat dibanding banyak ulama senior lain.

Pada 2016, ia sempat dilarang mencalonkan diri sebagai anggota Majelis Ahli, menunjukkan keterbatasan dukungan dari elite konservatif. Namun, nama Hassan Khomeini juga pernah disebut Khamenei sebagai salah satu sosok yang tepat untuk meneruskan kepemimpinannya.

Baca Juga  Sebulan Perang Iran-AS-Israel: Selat Hormuz Lumpuh, Pasar Saham Global Rontok, Negosiasi Mandek?

4. Hashem Hosseini Bushehri (70)

Hashem Hosseini Bushehri adalah ulama senior yang menjabat sebagai Wakil Ketua pertama Majelis Ahli. Kedekatannya dengan struktur formal suksesi disebut-sebut menjadi nilai tambah.

Ia dikenal memiliki hubungan baik dengan Ali Khamenei dan merupaka sosok yang cenderung low-profile. Namun, ia tidak memiliki basis politik atau militer kuat. Dalam sistem Iran yang sangat dipengaruhi IRGC, hal ini dapat menjadi keterbatasan yang patut dicatat.

5. Mojtaba Khamenei (56)

Mojtaba Khamenei merupakan putra kedua Ali Khamenei. Ia disebut sebagai kandidat kontroversial namun memiliki cukup pengaruh di balik layar. Ia dikenal memiliki kedekatan kuat dengan IRGC.

Meski demikian, peluangnya dinilai tipis, bahkan sangat tipis. Sebab, suksesi ayah ke anak dianggap bertentangan dengan semangat revolusi 1979 yang menggulingkan monarki. Khamenei sendiri pernah mengatakan kepada para pengikutnya bahwa ia tidak ingin jabatan diwariskan secara turun-temurun.

Selain itu, Mojtaba juga tidak memiliki jabatan resmi negara dan bukan merupakan figur ulama berpangkat tinggi. Ia juga pernah dikenai sanksi oleh AS pada 2019, yang dianggap dapat memperumit legitimasi internasionalnya.

Kini, bagaimana Iran ke depan bakal sangat bergantung pada siapa sosok yang bakal menahkodai Negeri Para Mullah tersebut di tengah perang yang meletus dan tekanan dari AS-Israel.