Jangan Lupa, Israel Penjahat Kemanusiaan!

Ledakan terjadi di wilayah Iran akibat serangan militer Israel-AS pada Sabtu (28/2/2026). (Foto: tangkapan layar)

MAKLUMAT — Kita jangan sampai melupakan kekejaman Israel yang didukung Amerika Serikat (AS) melakukan pencaplokan wilayah, menjajah, melancarkan genosida dan meluluhlantakkan Gaza, sehingga kedamaian dan kemerdekaan Palestina begitu berat terwujud.

Arogansi mereka selama ini begitu leluasa menghancurkan harapan untuk tata dunia damai. Senjata pembunuh masal merasuk ke pemukiman warga yang sudah tidak berdaya, anak-anak, wanita, dan orangtua menjadi sasaran yang mengerikan. Sang agresor, Israel, justru bangga membantai, berpesta pora merayakan aksi kejahatannya, sedang warga Gaza kelaparan, bantuan kemanusiaan pun dilarang, dibatasi hingga dirusak.

Jeritan dan tangisan menggema tiada henti, darah korban bercucuran bersanding dengan jenazah terkubur dalam reruntuhan gedung, infrastruktur hancur berantakan, hidup dalam keterbatasan di tanah kelahirannya sendiri.

Ulah Israel dan Sekutunya semakin menunjukkan arogansi, tidak puas dengan pembunuhan masal, justru menebar opini yang menyesatkan dari seorang penjahat perang yang mengaku pahlawan.

Cengkraman kuat untuk penindasan semakin membuat kesombongan dan menyudutkan suara aksi perdamaian, mengoptimalkan adu domba, mematikan perjuangan kemanusiaan.

Kekejaman Israel dan Amerika Serikat beserta Sekutunya tidaklah cukup tergambar dalam tulisan, dengan segala keterbatasan informasi tersebarlah berbagai video aktual atas kejahatan perang yang dilakukan begitu sadis dan tidak berperikemanusiaan.

Baca Juga  Pertama Kali, Benjamin Netanyahu Akhirnya Bersaksi di Persidangan Kasus Korupsi

Gerakan kemanusiaan terus tersebar dan mengglobal semakin menyadarkan berapa kebohongan dan pencitraan yang dilakukan Zionis selama ini telah terbongkar. Masyarakat dunia bangkit menunjukkan kepedulian dan mengecam tindakan yang merusak peradaban. Hati dan pikiran masyarakat global dari berbagai negara bersatu untuk memperjuangkan keadilan dan kemanusiaan. Terjadinya perubahan masyarakat dunia yang begitu simpati ternyata tidak mengurangi untuk melanjutkan agresi. Resolusi Badan Dunia dilecehkan dengan menebar kejahatan sehingga pembunuhan masal yang mengerikan terus dilakukan, upaya gencatan senjata dilanggar semena-mena, upaya negoisasi tidak ditanggapi justru genosida tiada henti.

Ketika gerakan kemanusiaan masyarakat dunia yang menyuarakan kedamaian dan keadilan tidak diperhatikan oleh Israel dan Amerika Serikat beserta sekutunya yang seharusnya menjadi pertimbangan kebijakan politik yang lebih humanis, justru semakin meningkat tekanan tanpa kompromi, masyarakat Gaza Palestina yang sudah menderita ditambah penderitaan akibat ideologi brutal yang berseberangan dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Republik Islam Iran yang selama ini secara meyakinkan membela kemerdekaan Palestina untuk mengusir Zionis Israel, berusaha mengajarkan kepada kita, khususnya para pemimpin dunia, untuk lebih perhatian atas kondisi kemanusiaan, khususnya di Gaza Palestina.

Amerika Serikat dengan dalih menegakkan hak asasi manusia dan sebagai “polisi dunia”, tetapi kebrutalannya menodai hak asasi manusia serta merusak tatanan dunia, muatan kepentingan sarat menyertainya dan Republik Islam Iran dianggap musuh utamanya, dan tragisnya kebrutalan itu mengakibatkan gugurnya Ayatollah Ali Khamenei pada Sabtu (28/2/2026) sebagai tokoh spiritual yang dikagumi masyarakat dunia, meski dinarasikan oleh Amerika dan Israel dicap sebagai teroris, justru terbukalah kita semua siapa sesungguhnya teroris dunia.

Baca Juga  Ketika Integritas Diuji: Belajar dari Mohammad Roem

Balasan serangan dari Iran ke Israel sungguh luar biasa, warga Israel sepertinya sangat terbantukan dan merasa aman karena didukung teknologi pertahanan yang kuat, ternyata dapat dilumpuhkan sekaligus memporak-porandakan, khususnya di Tel Aviv sebagai ibu kota Israel. Dan baru kali ini setelah merasakan dahsyatnya serangan dari Iran pihak Amerika Serikat melalui Italia menawarkan gencatan senjata dengan menghentikan peperangan, dan tawaran itu ditolak. Pengaruh Presiden Amerika Serikat Donald Trump di kawasan sengketa mulai ditinggal beberapa negara sekutunya.

Dan gelombang protes masyarakat Amerika pun mulai menunjukkan perlawanan atas kebijakan brutal Trump. Ketakutan dan kecemasan Trump dan Netanyahu Perdana Menteri Israel di saat kritis ini begitu kuat terasakan, seperti halnya Fir’aun dan bala tentaranya terombang-ambing di Laut Merah untuk mengejar Musa, sehingga mati tenggelam.

Di Indonesia, banyak yang berharap agar pemerintah Indonesia keluar dari keanggotaannya di Dewan Perdamaian atau Board of Peace (BoP), badan bentukan Presiden AS Donald Trump. Yang menarik, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri menyatakan bahwa Presiden RI Prabowo Subianto siap menjadi juru damai menengahi konflik tersebut.

Respon Indonesia atas situasi aktual ini, yang tentunya ada banyak pertimbangan, dan sejauh mana efektifnya kita tunggu perkembangannya, sebagai negara yang cinta perdamaian dan menjunjung nilai kemanusiaan secara berkeadilan atas tindakan penjajahan Israel di Palestina harus terus dilakukan.

Baca Juga  UU PPRT dan Problem Legislasi: Antara Norma Ideal dan Realitas Pembentukan Undang-Undang

Komitmen menjaga nilai-nilai kemanusiaan harus ditegakkan secara berkeadilan, serangan Iran yang mematikan dan melumpuhkan serta di luar prediksi adalah pelajaran berharga untuk menghormati hak asasi manusia, yang saat ini dipahami secara licik untuk menjaga kepentingan; dan pengaruhnya tanpa memperhatikan derita yang selama ini dirasakan warga Palestina. Ikatan kemanusiaan menjadi kekuatan universal untuk meruntuhkan kesombongan Zionis Israel dan Amerika Serikat.