MAKLUMAT – Kesuksesan tak selalu lahir dari kota besar. Dari sebuah desa, Abdullah Dzikri membuktikan bahwa inovasi dan keberanian berwirausaha mampu menembus pasar internasional.
Alumni Program Studi Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tahun 2017 itu kini dikenal sebagai pengusaha muda. Ia sukses mengembangkan bisnis keripik vacuum frying hingga menembus pasar luar negeri.
Dzikri merintis usaha pengolahan buah dan sayur menggunakan teknologi vacuum frying. Metode ini memanfaatkan proses penggorengan dalam kondisi kedap udara dengan suhu rendah. Hasilnya, produk yang diolah tetap mempertahankan warna alami serta cita rasa bahan baku.
“Inovasi ini memungkinkan produk keripik buah dan sayur memiliki kualitas yang lebih baik, karena warna dan rasanya tetap terjaga,” ujar Dzikri, (5/3/2026) lalu.
Ide Usaha Tak Selamanya Mahal
Ide usaha tersebut muncul dari kegelisahannya melihat kondisi petani. Saat panen raya, harga pertanian sering anjlok. Sebaliknya, ketika musim paceklik datang, biaya produksi justru meningkat. Ia pun mencari cara agar hasil panen memiliki nilai tambah dan daya simpan lebih lama.
Dari situlah lahir usaha keripik vacuum frying yang kini menjadi produk andalannya. Bahan baku diperoleh langsung dari petani tanpa perantara. Bahkan proses produksinya, Dzikri juga melibatkan ibu-ibu di sekitar tempat usahanya.
Model usaha tersebut tidak hanya memberi nilai ekonomi, tetapi juga menghadirkan dampak sosial bagi masyarakat sekitar.
Fondasi kewirausahaan Dzikri telah terbentuk sejak menjadi mahasiswa UMM. Ia mengaku perkuliahan di Program Studi Agribisnis tidak hanya menekankan teori, tetapi juga praktik bisnis secara langsung.
“Di kampus kami dilatih membangun mental kewirausahaan. Tidak hanya belajar teori seperti marketing mix, tetapi juga diminta menciptakan produk dan memasarkannya sendiri,” kenangnya.
Enterpreneuship Dari Bangku Kualiah
Semangat berbisnis itu sudah ia mulai sejak duduk di bangku kuliah. Dzikri memilih belajar sambil berdagang. Ia memulai dari hal sederhana, menjual lumpia di kelas. Lambat laun, penjualannya meluas hingga ke berbagai fakultas.
Pengalaman tersebut membentuk keberanian serta mental juangnya dalam berwirausaha. Ia juga pernah mengikuti ajang Pesta Wirausaha dan berhasil meraih penghargaan pada kategori inovasi olahan.
Lingkungan akademik UMM yang terbuka turut memperkaya pengalamannya. Mahasiswa didorong melakukan analisis usaha secara langsung dengan terjun ke petani, pelaku UMKM, hingga industri besar. Salah satu pengalaman yang berkesan baginya adalah factory visit ke perusahaan makanan nasional seperti Indomie.
“Dari situ kami belajar bagaimana manajemen usaha dijalankan, mulai dari skala kecil hingga industri besar,” katanya.
Kerja Keras dan Beribadah
Kerja keras tersebut akhirnya membuahkan hasil. Pada Oktober 2025, usaha yang dirintisnya berhasil melakukan ekspor perdana sebanyak 12 ribu produk keripik ke Singapura dalam satu kontainer.
Ke depan, Dzikri tengah menyiapkan berbagai sertifikasi tambahan agar produk keripik vacuum frying ini menembus pasar yang lebih luas, termasuk Australia dan Timur Tengah.
Bagi Dzikri, kunci untuk bertahan dalam persaingan global adalah kemampuan membaca data dan memahami kebutuhan konsumen. Bekal tersebut ia peroleh sejak masa kuliah.
Ia pun berpesan kepada generasi muda agar tidak takut memulai usaha. Menurutnya, proses memulai justru menjadi bagian penting untuk belajar memahami dinamika bisnis.














