Mojtaba Khamenei Minta Negara-negara di Kawasan Mengklarifikasi Posisi dan Tutup Pangkalan AS!

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei. (Foto: Tasnim)

MAKLUMAT — Pemimpin Tertinggi (Rahbar) Iran yang baru saja terpilih, Ayatollah Mojtaba Khamenei, merilis pidato pertamanya pada Kamis (12/3/2026) yang berisikan beberapa poin utama. Termasuk menegaskan pembalasan atas serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel yang mengakibatkan ribuan korban jiwa.

Dilansir dari media Iran, Tasnim, Mojtaba Mengawali pidatonya dengan menyampaikan belasungkawa atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran sebelumnya yang juga merupakan sang ayah, Ayatollah Ali Khamenei, akibat serangan militer gabungan AS-Israel pada Sabtu (28/2/2026) lalu.

Selanjutnya, Mojtaba mengaku amanah yang dimandatkan Majelis Pakar sebagai Pemimpin Tertinggi Iran merupakan tugas yang berat. Terlebih untuk meneruskan perjuangannya sosok seperti Ayatollah Ruhollah Khomeinei yang memimpin Revolusi Islam tahun 1979 dan Ayatollah Ali Khamenei yang telah memimpin dan menorehkan legacy dalam berbagai bidang selama sekitar 36 tahun memimpin.

“Bagi saya, menduduki kursi yang pernah ditempati oleh dua pemimpin besar, Imam Khomeini Agung dan syahid Khamenei, adalah tugas yang berat,” ujarnya, dikutip Tasnim.

“Baik kehidupan maupun cara kematiannya terjalin dengan kemuliaan dan martabat yang berasal dari kepercayaan pada kebenaran,” sambung Mojtaba.

Iran Lanjutkan Pembalasan

Dalam pidato perdananya sebagai Rahbar itu, Mojtaba juga menegaskan bakal membalas secara setimpal atas jatuhnya para korban. Ia mengajak publik untuk terus memanjatkan doa serta meneguhkan persatuan antar-elemen bangsa. Ia juga menyerukan rakyat Iran untuk terus berkontribusi dalam berbagai peran dan bidangnya masing-masing secara efektif, serta menyerukan publik untuk menghadiri rapat umum Hari Quds pada tahun 1447 H pada hari ini, Jumat (13/3/2026).

“(Dan) Janganlah menahan diri untuk saling membantu dan menolong. Alhamdulillah, ini selalu menjadi ciri khas sebagian besar warga Iran, dan diharapkan bahwa di masa-masa khusus ini, yang secara alami lebih memengaruhi sebagian anggota bangsa daripada yang lain, hal ini akan semakin menonjol. Dalam konteks ini, saya mendesak lembaga-lembaga pelayanan untuk tidak menahan bantuan atau dukungan apa pun dari anggota bangsa yang terkasih dan struktur bantuan rakyat,” tandasnya.

Tak cuma itu, dalam pidato perdananya Mojtaba Khamenei juga mengucapkan terima kasih dan menyampaikan apresiasi atas perjuangan para pasukan Iran hingga para pemimpin front perlawanan seperti di Yaman, di Irak, serta Hizbullah di Lebanon yang terus menyuarakan dukungan serta bantuan dalam menghadapi AS dan Israel.

Baca Juga  Trump vs Maduro: Mengapa Venezuela Kembali Jadi Medan Perebutan Dunia?

“Tidak diragukan lagi, kerja sama antar komponen front ini memperpendek jalan menuju keselamatan dari hasutan Zionis, sebagaimana kita melihat Yaman yang berani dan setia tidak berhenti membela rakyat Gaza yang tertindas, dan Hizbullah yang berdedikasi, meskipun menghadapi segala rintangan, datang membantu Republik Islam. Perlawanan Irak juga dengan gagah berani telah menempuh jalan yang sama,” terang pria yang merupakan putra kedua mendiang Ayatollah Ali Khamenei itu.

Selanjutnya, Mojtaba juga menyampaikan belasungkawa dan duka cita atas korban dari berbagai elemen masyarakat maupun pemerintahan dan militer Iran, termasuk ratusan anak-anak yang menjadi korban serangan AS-Israel ke sekolah putri di Minab. Ia juga mengenang sang istri, serta saudara perempuan beserta suami dan anaknya, yang turut menjadi korban dalam rentetan serangan yang sama yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei.

“Kami tidak akan mengabaikan pembalasan atas darah para martir anda. Pembalasan yang kami maksudkan tidak hanya terkait dengan kemartiran Pemimpin Revolusi yang agung, melainkan setiap anggota bangsa yang gugur di tangan musuh,”

Mojtaba menyebut sebagian dari tujuan pembalasan yang dilakukan Iran terhadap AS dan Israel telah tercapai. Namun ia menegaskan prioritasnya untuk terus merespons secara keras terhadap AS-Israel.

“Sebagian kecil dari pembalasan ini telah terwujud sejauh ini, tetapi sampai sepenuhnya tercapai, berkas ini akan tetap menjadi prioritas utama, dan kami akan sangat peka terhadap darah anak-anak kami. Oleh karena itu, kejahatan yang sengaja dilakukan oleh musuh di sekolah Shajareh Tayyebah di Minab dan insiden serupa memiliki arti khusus dalam hal ini,” tegasnya.

Pelayanan bagi Para Korban

Ia juga memastikan pelayanan gratis bagi para korban akibat perang saat ini. “Mereka yang terluka dalam serangan ini tentu harus menerima layanan medis yang layak secara gratis dan mendapatkan hak istimewa lainnya,” tegasnya.

Ia juga mewanti-wanti para pejabat setempat untuk memastikan dan mengimplementasikan pemberian kompensasi atas kerugian finansial yang diderita rakyat.

“Sejauh situasi saat ini memungkinkan, langkah-langkah yang memadai harus ditentukan dan diimplementasikan untuk memberikan kompensasi atas kerugian finansial yang diderita oleh harta benda dan lokasi pribadi. Dua poin terakhir dianggap sebagai tugas wajib bagi para pejabat yang terhormat, yang harus mereka laksanakan dan laporkan kembali kepada saya,” pesannya.

Selain itu, ia juga menuntut ganti rugi atas serangan yang telah dilancarkan oleh AS dan Israel terhadap wilayah kedaulatan Iran. “Dalam hal apa pun, kita akan menuntut ganti rugi dari musuh. Jika mereka menolak, kita akan menyita aset mereka sebanyak yang kita anggap pantas, dan jika itu tidak memungkinkan, kita akan menghancurkan aset mereka dalam jumlah yang setara,” selorohnya.

Baca Juga  Trump Resmi Dilantik Jadi Presiden ke-47 Amerika Serikat

Minta Negara Tetangga Usir Pangkalan AS

Lebih lanjut, Mojtaba juga menyerukan kepada para pemimpin negara-negara di kawasan Asia Barat untuk menjalin hubungan secara hangat dan konstruktif.

“Kita berbagi perbatasan, baik darat maupun laut, dengan 15 negara dan selalu, dan terus, bersedia untuk memiliki hubungan yang hangat dan konstruktif dengan semuanya,” sebutnya.

Meski begitu, ia menyesalkan pembangunan dan penempatan pangkalan militer maupun berbagai aset lain Amerika Serikat di sejumlah negara di kawasan. Ia menyebut hal itu sebagai bentuk upaya AS untuk mengamankan dominasi dan hegemoninya atas kawasan tersebut.

Mojtaba juga menyebut bahwa pangkalan-pangkalan militer yang telah dibangun di beberapa negara itulah yang digunakan untuk melakukan serangan terhadap wilayah kedaulatan Iran pada 28 Februari 2026 lalu, hingga sekarang. Sebab itu, ia menegaskan bahwa Iran menepati janjinya untuk membalas dan menargetkan pangkalan-pangkalan militer serta aset-aset strategis terkait AS di kawasan tersebut. Namun ia juga menekankan bahwa Iran tidak menargetkan negara-negara tetangganya itu.

“Dalam invasi baru-baru ini, beberapa pangkalan militer digunakan, dan tentu saja, seperti yang telah kita peringatkan secara eksplisit dan tanpa menargetkan negara-negara tersebut, kita hanya menyerang pangkalan-pangkalan tersebut,” tegasnya.

Mojtaba menegaskan bakal terus melanjutkan operasi serangan balasan ke pangkalan-pangkalan dan aset-aset strategis terkait AS di kawasan. Namun, ia juga mengaku bahwa hubungan persahabatan dengan negara-negara tetangga dapat dilanjutkan secara hangat dan konstruktif.

Mojtaba juga meminta agar negara-negara terkait mengklarifikasi dan menegaskan posisi terhadap Amerika Serikat, yang dianggapnya sebagai agresor. Ia menyarankan supaya negara-negara tetangga di kawasan menutup pangkalan-pangkalan militer AS di sana.

“Negara-negara ini harus mengklarifikasi posisi mereka dengan para agresor terhadap tanah air kita tercinta dan para pembunuh rakyat kita,” tegasnya.

“Saya menyarankan agar mereka menutup pangkalan-pangkalan itu sesegera mungkin karena mereka pasti sudah mengerti sekarang bahwa klaim Amerika tentang membangun keamanan dan perdamaian hanyalah kebohongan,” imbuh Mojtaba.

Baca Juga  Naim Qassem Jadi Pemimpin Hizbullah Gantikan Hasan Nasrallah yang Tewas

Menurut Mojtaba, penutupan pangkalan-pangkalan militer dan aset-aset strategis AS di kawasan bakal berimplikasi positif pada hubungan yang lebih erat antara pemerintah negara dengan rakyatnya, serta dalam hubungan dengan Iran.

“Ini akan mengarah pada hubungan yang lebih erat dengan rakyat mereka sendiri, yang umumnya tidak puas dengan berpihak pada kelompok kekafiran dan perilakunya yang menghina, dan akan meningkatkan kekayaan dan kekuasaan mereka,” terangnya.

“Saya ulangi lagi: sistem Republik Islam, tanpa bermaksud untuk membangun dominasi atau kolonialisme di kawasan ini, sepenuhnya siap untuk persatuan dan hubungan yang hangat, tulus, dan saling menguntungkan dengan semua tetangganya,” tandas Mojtaba.

Kenang Mendiang Ayatollah Ali Khamenei

Pesan selanjutnya, Mojtaba mengenang kepergian mendiang Ayatollah Ali Khamenei, yang disebutnya “sesuai” dengan apa yang selama ini diharapkan sebagai akhir hayatnya. “Engkau selalu mendambakan akhir ini, dan akhirnya, Yang Maha Kuasa mengabulkannya kepadamu saat engkau membaca Al-Quran pada pagi hari tanggal sepuluh Ramadhan. Engkau menanggung banyak penindasan dengan kuat dan penuh kesabaran, tanpa pernah gentar. Banyak orang tidak menyadari nilai sejati Anda, dan mungkin akan butuh waktu lama sebelum tabir dan rintangan disingkirkan, dan beberapa aspek dari arti penting Anda menjadi jelas,” kenangnya.

Ia berjanji bakal terus berupaya untuk melanjutkan perjuangan dan perlawanan yang selama ini telah digelorakan. “Kami berjanji kepada Anda bahwa kami akan berusaha dengan segenap jiwa raga kami untuk mengangkat panji ini, yang merupakan panji sejati dari front kebenaran, dan untuk mencapai tujuan suci Anda,” tandas Mojtaba.

Terakhir, ia berterima kasih kepada masyarakat yang telah mendukung, termasuk para Maraji Agung (sumber teladan), berbagai tokoh budaya, politik, dan sosial, serta semua orang yang telah berkumpul dalam demonstrasi besar untuk menyatakan kesetiaannya.

“Saya berharap bahwa karunia ilahi yang istimewa akan meliputi seluruh rakyat Iran, dan memang seluruh Muslim dan kaum tertindas di dunia, selama jam-jam, hari-hari, dan bulan suci Ramadan yang berharga ini,” harapnya.

“Selama malam dan siang hari yang tersisa di bulan Qadr dan bulan suci Ramadan, untuk bangsa kita, kemenangan yang menentukan atas musuh, serta kehormatan, kemakmuran, dan kesejahteraan. Dan untuk mereka yang telah meninggal dunia, saya memohon kedudukan yang tinggi dan kesejahteraan abadi,” pungkas Mojtaba.