Menyiapkan Generasi Masa Depan, Mengejar Ketertinggalan dan Mengembalikan Kejayaan Peradaban Islam

Hajriyanto Y Thohari ketika menyampaikan khutbah Idulfitri 1447 H di halaman Kompleks Perguruan Muhammadiyah Cabang Sidoarjo, Jumat (20/3/2026). (Foto: Ubay NA/ IST)

MAKLUMAT — Suasana Salat Idulfitri 1447 Hijriah di halaman Kompleks Perguruan Muhammadiyah Cabang Sidoarjo pada Jumat (20/3/2026) berlangsung dengan khusyuk dan khidmat, dengan penuh sukacita diikuti oleh ribuan jamaah.

Salat Id dimulai sekitar pukul 06.10 WIB, yang dilanjutkan dengan khutbah Idulfitri yang disampaikan oleh eks Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh (LBBP) RI untuk Lebanon, Hajriyanto Y Thohari, yang menyerukan kebangkitan umat Islam untuk mengejar ketertinggalan dan kembali mencapai era keemasan peradaban.

Dalam khutbahnya, Hajriyanto menjelaskan sejarah peradaban dunia, hingga mampu mencapai zaman kejayaan Islam alias the golden age of Islam pada era Abbasiyah (750-1258 M) yang berpusat di Baghdad.

Keruntuhan Abbasiyah, yang salah satunya adalah akibat invasi Mongol oleh Hulagu Khan pada tahun 1258 M, meruntuhkan juga peradaban kala itu. Kekuasaan dan pengaruh Islam dalam peradaban dunia sempat “macet” dalam beberapa dekade hingga munculnya Turki Utsmani atau Ottoman (1299-1922 M) dan dua kekuasaan Islam lain di rentang tahun yang hampir semasa.

“Kemudian muncul Turki Utsmani atau sering disebut Ottoman, yang berpusat di Edirne, hingga pada tahun 1453 berhasil menaklukkan Konstantinopel yang merupakan ibu kota kekaisaran Bizantium Romawi. Namanya kemudian diubah menjadi Istanbul,” jelasnya.

“Di Persia atau Iran sekarang, muncul Safawi (1501-1736 M) yang berpusat di Isfahan. Lalu ada Mughal (1526-1858 M) di India,” sambung Hajriyanto, yang juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua MPR RI.

Baca Juga  Idulfitri: Refleksi, Tradisi, dan Relevansi Sosial

Lamanya “masa hidup” tiga kesultanan Islam tersebut, menurutnya juga menunjukkan betapa besar pengaruh Islam bagi peradaban dan kemajuan dunia. Bahkan jauh sebelum negara-negara Barat modern berdiri.

“Jauh sebelum Eropa, jauh sebelum negara adikuasa seperti Amerika Serikat sekarang berdiri, jauh sebelum Uni Soviet, peradaban Islam telah menjadi adikuasa dunia,” ujarnya.

Kekalahan dan Keruntuhan Ottoman

Namun, kekalahan Ottoman pada Perang Dunia I menjadi titik balik krusial runtuhnya peradaban Islam. Akibat kekalahan perang, wilayah-wilayah kekuasaan Ottoman akhirnya “dibagi-bagi” oleh Inggris, Prancis, Italia, dan sebagainya. Puncaknya, kesultanan Turki Utsmani akhirnya runtuh pada medio 1922-1924.

Sejak saat itu wilayah-wilayah bangsa muslim menghadapi penjajahan atas negara-negara Barat.

“Palestina dikuasai Inggris, Irak dikuasai Inggris, Lebanon dikuasai Prancis, Suriah dikuasai Prancis, Libya dikuasai Italia, Maroko oleh Prancis dan Spanyol, Arab, Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, Kuwait, dikuasai Inggris,” sorotnya.

Deklarasi Balfour dan Munculnya Israel

Kekalahan dalam Perang Dunia I berimplikasi langsung terhadap cikal bakal berdirinya Israel dan zionisme, melalui Deklarasi Balfour pada 1917, yang “merestui bangsa Yahudi untuk mendirikan negara Israel di tanah Palestina.

“Deklarasi Balfour oleh Menteri Luar Negeri Inggris Arthur Balfour tahun 1917 menjanjikan pendirian rumah bagi bangsa Yahudi di Palestina,” terang Hajriyanto.

Baca Juga  Halal Bihalal Tidak Sekedar Bersalaman, SD Muhammadiyah 24 Surabaya Tekankan Kemuliaan Saling Memaafkan

Deklarasi tersebut secara terang-terangan menegaskan dukungan Inggris terhadap gerakan zionisme dan bertujuan mendirikan tanah air Yahudi di wilayah Palestina. Selain itu, hal tersebut juga bermaksud untuk mengamankan dukungan komunitas Yahudi, serta mengamankan dan mengontrol kepentingan Inggris di Timur Tengah.

Pada akhirnya, Inggris benar-benar merealisasikan Israel setelah deklarasi yang dibacakan David Ben-Gurion di Tel Aviv pada 1948, bersamaan dengan berakhirnya mandat Inggris di Palestina. Berdirinya Israel kemudian memicu kembali kesadaran dunia Islam, terutama di kawasan semenanjung Arab, hingga meletus perang koalisi negara-negara Arab melawan Israel.

“Lalu negara-negara Islam satu per satu mulai berdiri juga, termasuk di tahun 1945 Indonesia berhasil merdeka, Pakistan di tahun 1947, dan seterusnya ada juga negara-negara Islam yang kemudian muncul di sekitar tahun 60-an dan tahun 70-an,” kata Hajriyanto.

Membangkitkan Kembali Kejayaan Peradaban Islam

Meskipun demikian, Hajriyanto bahwa negara-negara Islam sampai saat ini masih berada dalam bayang-bayang dan hegemoni Barat, terutama Amerika Serikat.

Nahasnya, ia menilai bahwa mayoritas negara-negara Islam berada di bawah dominasi Amerika Serikat, namun tidak banyak yang menyadari bahwa mereka tengah didominasi dan “dipermainkan” oleh kepentingan-kepentingan Amerika.

Baca Juga  PDM Aceh Tengah Siapkan Salat Idulfitri 1 Syawal 1447 H di Halaman Perguruan Muhammadiyah Takengon

“Negara-negara Islam saat ini masih berada di bawah dominasi Amerika Serikat, tetapi tidak banyak yang sadar mereka didominasi, dihegemoni. Ini namanya hegemoni, kita didominasi, tetapi tidak sadar bahwa sebenarnya kita sedang didominasi,” tandas sosok kelahiran Karanganyar tahun 1960 itu.

Sebab itu, dalam rangka membangun kembali kejayaan Islam tersebut, Hajriyanto mengajak umat Islam untuk terus mengembangkan diri, terutama melalui pendidikan, sebagaimana teladan yang dicontohkan pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, dalam membangun bangsa. Demi mencetak generasi-generasi Islam yang unggul dan siap menyongsong kembali peradaban emas Islam di masa depan.

“Bapak/ibu, mari kita jangan ragu-ragu untuk mendidik dan menyekolahkan anak-anak kita dengan pendidikan terbaik, ke sekolah-sekolah terbaik, kampus-kampus terbaik, di dalam negeri maupun di luar negeri, dan apa pun bidang keahliannya,” serunya.

Namun, ia juga menekankan agar tidak melupakan pendidikan dan nilai-nilai agama yang harus terus dipegang erat. “Umat Islam harus mengejar ketertinggalan ilmu pengetahuan, ketertinggalan politik, ketertinggalan peradaban, tetapi jangan sampai umat Islam mengesampingkan agama,” tegasnya.

Menyiapkan generasi-generasi terbaik untuk masa depan Islam, menurut Hajriyanto, adalah langkah serta upaya paling tepat untuk kembali menghadirkan peradaban Islam yang gemilang.