Demo No Kings Meledak, Jutaan Orang Lawan Trump

MAKLUMAT — Jutaan warga Amerika Serikat turun ke jalan dalam aksi “No Kings” yang meluas lintas negara, memprotes kebijakan Donald Trump dari imigrasi hingga perang Iran. Lebih dari 3.200 aksi digelar di 50 negara bagian AS serta kota-kota besar dunia seperti London, Paris, dan Roma.

Penyelenggara menyebut aksi ini berpotensi menjadi demonstrasi satu hari terbesar dalam sejarah AS. Unjuk rasa besar ini diberitakan Reuters dan AFP, Sabtu (28/3/2026) waktu setempat.

Di Minnesota, massa memadati State Capitol dengan jumlah diperkirakan menembus 100 ribu orang. Aksi ini juga dimeriahkan oleh musisi Bruce Springsteen dan Joan Baez.

Aksi Meluas, Sentimen Menguat

Demonstrasi besar juga terjadi di New York, Los Angeles, dan Washington DC. Menariknya, sekitar dua pertiga aksi justru berlangsung di kota-kota kecil, menandakan meluasnya basis gerakan. Di National Mall, massa meneriakkan slogan prodemokrasi dan membawa spanduk anti-Trump. Di Maryland, bahkan kelompok lansia turun aksi dengan pesan “Tolak tirani” dan “Selamatkan demokrasi”.

Aktor Robert De Niro, seperti dilaporkan ABC, menyebut situasi politik saat ini sebagai ancaman serius bagi kebebasan sipil.

Salah satu penggagas gerakan, Leah Greenberg dari organisasi Indivisible, menegaskan bahwa kekuatan aksi bukan hanya jumlah peserta, tetapi juga persebarannya yang semakin luas hingga wilayah pinggiran.

Baca Juga  Bersama Trump, Putin, hingga Xi Jinping, Prabowo Diprediksi Akan Jadi 10 Pemimpin Dunia yang Berpengaruh

Dipicu Politik dan Isu Iran

Aksi ini terjadi di tengah merosotnya tingkat kepuasan publik terhadap Trump yang disebut hanya sekitar 36 persen. Selain isu domestik, demonstrasi juga dipicu kebijakan militer AS terkait Iran.

Sejumlah demonstran secara terbuka menolak keterlibatan militer AS di Timur Tengah dan menyebutnya sebagai “perang yang tidak perlu”. Gerakan “No Kings” pertama kali muncul pada 2025 dan telah menarik jutaan peserta dalam dua aksi sebelumnya.

Menjelang Pemilu, Aksi Makin Masif

Menjelang pemilu paruh waktu AS, gelombang protes diperkirakan terus meningkat. Penyelenggara mencatat lonjakan partisipasi bahkan di negara bagian basis Partai Republik. Di luar AS, aksi solidaritas juga muncul di berbagai negara. Di Paris dan Roma, demonstran turut membawa isu anti-perang serta kritik terhadap kebijakan global AS.

Fenomena ini menandai meningkatnya mobilisasi politik akar rumput yang tidak hanya terpusat di kota besar, tetapi juga merambah wilayah pinggiran. Hal ini menjadi sinyal kuat menjelang kontestasi politik berikutnya. ***